oleh

Staf KSP: Halau Pemudik Jangan Seperti Ngusir Penjajah

POSKOTA. CO – Bapak-bapak dan ibu-ibu petugas yang saat ini mendapatkan kerjaan menghalau para pemudik, tolong dengarkan wejangan pejabat Kantor Staf Kepresidenan (KSP). Apa wejangannya: rajin-rajinlah kasih pengertian, kasih senyuman. Wejangan KSP ini sangat tepat, karena mencegah warga mudik bukan seperti mengusir penjajah.

Sejak Kamis (8/5), larangan mudik Lebaran mulai diberlakukan. Meskipun aturan itu sudah berlaku, antusias warga yang ingin melakukan mudik masih tinggi. Baik dengan kendaraan pribadi, seperti mobil dan motor. Ada juga yang pakai jasa travel gelap sampai numpang di mobil bak terbuka yang sengaja ditutup terpal.

Namun, upaya yang dilakukan pemudik itu banyak yang tidak berhasil. Personel kepolisian yang sudah berjaga-jaga di lapangan, berhasil mencegatnya. Ada yang diberi sanksi, diputar balik, hingga dikarantina bagi pemudik yang diketahui berstatus positif Covid-19.

Di Jawa Barat saja, hingga kemarin sudah lebih dari 22 ribu kendaraan yang terpaksa diputar balik oleh petugas kepolisian. Umumnya, kendaraan tersebut akan melakukan mudik untuk tujuan ke beberapa wilayah di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Kapolres Metro Bekasi Kombes Hendra Gunawan mengatakan, pelonjakan arus mudik di hari kedua didominasi pengendara roda dua yang semakin melonjak pesat.

“Sebanyak tiga ratus kendaraan roda dua diputarbalikkan, mengingat para pekerja formal maupun informal yang akan pulang mudik,” tuturnya.

Hingga kemarin malam, petugas telah memutar balik 2.115 kendaraan, baik roda dua, maupun roda empat. “Saya berharap, masyarakat mentaati peraturan pemerintah untuk tidak mudik ke kampung halamannya sesuai anjuran pemerintah agar tidak terjadi klaster baru penularan Covid-19 di wilayah mereka,” pesan Hendra.

“Namun, tidak berlangsung lama, langsung kami lakukan penebalan personel sehingga pemudik dapat dihalau kembali putar balik,” ungkapnya.

Tenaga Ahli Utama Kedeputian Bidang Informasi dan Komunikasi Politik KSP, Joko mengakui, tradisi mudik sulit dihilangkan meskipun sudah ada larangan. Namun, kata dia, aturan tetap harus dijalankan demi menekan angka penyebaran Corona.

“Evaluasinya ada tetap terus dilaksanakan. Ini kan euforia orang (pemudik) sangatlah emosional. Jadi, pihak kepolisian dan petugas lainnya harus tetap mengedepankan pendekatan persuasif dan humanis,” kata Joko saat meninjau penyekatan pemudik di Kota Cirebon, Jawa Barat, kemarin.(ale/sir)

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *