oleh

Pontjo Sutowo: Pendidikan Merupakan Investasi yang Menentukan Masa Depan dan Kemajuan Peradaban Bangsa

-Nasional-42 views

POSKOTA.CO-Mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan merupakan tugas konstitusional yang menjadi tanggungjawab kita bersama. Selain itu pendidikan juga merupakan investasi yang akan menentukan masa depan dan kemajuan peradaban bangsa.

“Bahkan pendidikan merupakan persoalan hidup matinya seluruh bangsa (education is a matter of life and death for the entire of nation). Kita semua sepakat bahwa nasib bangsa ini sangat bergantung pada kontribusi pendidikannya,” kata Ketua Aliansi Kebangsaan Pontjo Sutowo saat Bedah Buku berjudul Pendidikan yang Berkebudayaan karya Yudi Latief, pakar Aliansi Kebangsaan.

Menurut Ponjto, sistem pendidikan nasional mengemban misi atau amanah masa depan bangsa. Hal ini pernah dikemukakan Daoed Joesoef (2001), bahwa sistem pendidikan nasional dituntut untuk mampu mengantisipasi, merumuskan nilai dan menetapkan prioritas dalam suasana perubahan yang tidak  pasti agar generasi mendatang tidak menjadi mangsa dari proses yang semakin tidak terkendali di zaman mereka dikemudian hari.

“Jangan menanti apapun dari masa depan karena kita sendirilah yang harus menyiapkan,” lanjut Pontjo yang juga Dewan Pembina Yayasan Suluh Nuswantara Bhakti.

Dalam konteks menyiapkan masa depan tersebut, sistem pendidikan nasional kita tidak bisa dilepaskan  dari pengaruh globalisasi. Kita tidak mungkin menghindari dari arus globlisasi dengan segala pengaruhnya termasuk penetrasi kebudayaan yang begitu gencar sehingga tidak terhindarkan masuknya aneka ragam paham/ideology asing yang bertentangan dengan Pancasila dan nilai keindonesiaan. George Ritzerz dalam buku the Globalization of Nothing (2005) mengingatkan bahwa globalisasi budaya sangat berbahaya karena dapat menghilangkan idealisme suatu bangsa.

“Yudi Latief dalam buku ini menuliskan dengan pola dasar mentalitas Indonesia yg bersifat sintetis, seharusnya bangsa ini bisa menghadapi penetrasi globalisasi tersebut tanpa menimbulkan gegar budaya (culture shock) Ia juga menyarankan agar ada arus balik dari globalisasi (reverse globalization) seperti Gangnam Style Korea Selatan yang menembus Hollywood, India dengan industri film Bollywoodnya,” katanya.

Namun dengan kelemahan kepercayaan diri dalam karakter dan kapasitas nalar ilmiah kreatif, rasanya sulit bangsa Indonesia mengambil manfaat dari globalisasi atau jangan-jangan malah jadi korban.

Selain menghadapi penetrasi budaya melalui globalisasi tanpa kita sadari bangsa ini juga menghadapi medan pertempuran budaya.

“Diberbagai kesempatan saya mencoba menggugah kesadaran dan kewaspadaan kolektif kita bahwa perang generasi IV dewasa ini, untuk menghancurkan sebuah bangsa, lebih mengutamakan penggunaan senjata non militer (soft power) seperti penghancuran nilai, budaya, perusakan moral generasi masa depan bangsa, ekonomi, politik sert bidang kehidupan nasional lainnya,” jelas Pontjo.

Dalam konteks perang kebudayaan, kata Pontjo, saat ini sudah terjadi hegemoni budaya (cultural hegemony) oleh negara-negara tertentu atas negara-negara lain. Dalam konteks inilah pendidikan kita tidak bisa dilepaskan dari kebudayaan. Sebagai wahana penyemaian nilai-nilai dan pembangunan budaya, pendidikan nasional sudah seharusnya tetap berakar kuat pada bangsa sendiri yakni pendidikan yang tidak meninggalkan akar sejarah dan kebudayaan bangsa Indonesia.

“Menurut hemat saya pendidikan yang tidak didasari oleh budaya bangsa akan menghasilkan generasi yang tercabut dari kebudayaan bangsanya sendiri. Pendidikan yang tidak menyatu dengan kebudayaan akan cenderung asing dan akan ditinggalkan oleh masyarakat. Hanya dengan pendidikan yang berakar pada budaya sendiri bangsa ini akan selamat menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian,” tukas Pontjo.

Keterkaitan pendidikan dengan kebudayaan juga semakin menemukan relevansinya, karena budaya merupakan faktor penentu keberhasilan (determinant factor) maju atau mundurnya sebuah peradaban bangsa.

“Signifikansi budaya  terhadap kemajuan sebuah bangsa dikemukakan Yudi Latief dalam bukunya ini dengan sangat komprehensif,” aku Pontjo.

Mengingat demikian sginifikannya peran budaya bagi kemajuan peradaban sebuah bangsa maka menurut Pontjo, pendidikan tidak bisa lepas dari kebudayaan karena pendidikan menurut Ki Hajar adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan. Hal ini juga disampaikan dengan sangat jelas oleh Yudi Latif dalam buku ini.

Keberagaman budaya di Indonesia merupakan kenyatakan historis dan sosial yang tidak bisa disangkal dan dinegosiasikan oleh siapapun. Keunikan budaya yang beragam tersebut memberikan implikasi pada pola pikir, tingkah laku dan katrakter yang seringkali berbeda satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu pergumulan antar budaya memberikan peluang terjadinya konflik manakala tidak terjadi saling memahami dan menghormati satu dengan lain.

Proses untuk meminimalisir konflik ini memerlukan upaya pendidikan yang berwawasan budaya lebih khusus multicultural dalam rangka pemberdyaan masyarakat yang majemuk dan heterogen agar saling memahami dan menghormati serta membentuk karakter yang terbuka terhadap perbedaan.

Buku yang ditulis  Yudi Latif  diakui Pontjo merupakan karya paripurna yang sangat fundamental dan komprehensif. Yudi telah berhaisl menguraikan dengan meyakinkan dan mengesankan pentingnya pendidikan nasional berwawasan sejarah dan berwawasan budaya.

Dengan cakupan yang komprehensif, penjelasan yang mendalam, serta argumentasi dan relevansi yang kuat, menurut Pontjo, buku ini bisa jadi buku sumber, baik untuk kepentingan studi pendidikan dan budaya maupun panduan praktis dalam merancang membangun dan melaksanakan sistem pendidikan nasional. (*/fs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *