oleh

Permabudhi Gelar Munas III, Dorong Kontribusi Umat Buddha bagi Indonesia

JAKARTA – Pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) III Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi) digelar di Wisdom Hall, Tzu Chi Secondary School, Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara pada Sabtu (22/8/2026).

Kegiatan ini dihadiri perwakilan berbagai majelis serta pengurus daerah Permabudhi dari 36 provinsi di Indonesia. Munas III Permabudhi mengangkat tema ‘Bersatu dalam Dhamma, Berkarya untuk Bangsa’. Tema tersebut menjadi semangat bagi seluruh peserta untuk memperkuat persatuan umat Buddha sekaligus meningkatkan kontribusi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ketua Umum Permabudhi Prof. Dr. Philip K. Wijaya dalam sambutannya menyampaikan harapan agar kekuatan organisasi yang telah hadir di 36 provinsi dapat menjadi modal untuk mengimplementasikan nilai-nilai kebuddhaan dalam kehidupan bermasyarakat.

“Dengan kekuatan yang dimiliki Permabudhi di 36 provinsi, kita dapat mengimplementasikan nilai-nilai kebuddhaan dan memberikan sumbangsih kepada Indonesia agar menjadi negara yang maju, sejahtera, berkeadilan, makmur, dan merdeka,” ujar Philip, dalam keterangan yang didapat media ini, Minggu (23/8/2026).

Pesan kebangsaan juga disampaikan Dr. Partono Nyanasuryanadi, M.Pd., M.Pd.B, selaku Pimpinan Tertinggi Sangha Agung Indonesia (SAGIN). Ia menyoroti perubahan peradaban, budaya, dan masyarakat yang berlangsung sangat cepat, termasuk semakin maraknya polarisasi dalam kehidupan sosial.

Menurutnya, kondisi tersebut menuntut organisasi keagamaan untuk mengambil peran lebih besar dalam menjaga persatuan dan membangun kehidupan masyarakat yang harmonis. “Permabudhi harus menjadi mitra strategis pemerintah dalam membangun bangsa,” kata Partono.

Ia juga menekankan pentingnya nilai-nilai Dharma yang mampu berdialog dan menyatu dengan kearifan lokal serta budaya masyarakat. Menurutnya, ajaran Dharma tidak boleh terlepas dari konteks kehidupan manusia dan lingkungan sosial tempat ajaran tersebut berkembang.

“Nilai-nilai Dharma juga harus dekat dengan kearifan lokal dan budaya. Karena Dharma yang jauh dari kearifan lokal atau budaya berarti tidak bisa menyatu dengan kehidupan manusia,” tega Partono.

Sementara itu, melalui pesan video, Menteri Agama RI Prof. Dr. Nasaruddin Umar, M.A., menyampaikan dukungannya terhadap pelaksanaan Munas III Permabudhi. Ia menilai, Permabudhi memiliki posisi penting sebagai mitra pemerintah dalam menjaga kehidupan keagamaan yang harmonis di Indonesia.

“Bagi Kementerian Agama, Permabudhi merupakan mitra strategis dalam membangun kehidupan keagamaan yang harmonis. Bagi bangsa Indonesia, kiprah Permabudhi merupakan bagian penting dari kekuatan masyarakat sipil dalam merawat persatuan dan kebajikan,” ujar Nasaruddin.

Menteri Agama berharap Munas III Permabudhi tidak sekadar menjadi forum organisasi untuk membahas agenda internal, tetapi juga menjadi momentum memperkuat semangat kebersamaan dan memperluas kontribusi umat Buddha bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

Melalui Munas III ini, Permabudhi diharapkan semakin solid dalam menjalankan peran sosial-keagamaannya, memperkuat kerja sama dengan pemerintah dan berbagai elemen masyarakat, serta menghadirkan nilai-nilai Dharma sebagai bagian dari upaya membangun Indonesia yang damai, adil, sejahtera, dan berkeadaban. (*/din)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *