oleh

Pengorbanan dan Air Mata di Puncak Jaya: Kisah Prajurit Menjaga Tapal Batas

MULIA — Di bawah langit dingin Kota Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, sebuah momen emosional sekaligus membanggakan tersaji di Lapangan Makodim 1714/Puncak Jaya, Senin (8/6/2026). Di wilayah pegunungan yang menantang ini, panggilan tugas negara kembali bergulir melalui tradisi Korps Rapot pelepasan dan penyambutan prajurit.

​Dipimpin langsung oleh Dandim 1714/Puncak Jaya, Letkol Inf Bagus Kurniawan, M.Han., upacara ini bukan sekadar seremoni serah terima jabatan. Ini adalah kisah tentang pengorbanan, adaptasi, dan kesetiaan tanpa batas di tapal batas negara.

​Air Mata Perpisahan dan Hangatnya Sambutan

​Bagi Sertu Glen dan keluarganya, hari itu adalah gerbang menuju tempat pengabdian yang baru. Setelah sekian lama bertaruh raga di medan tangguh Puncak Jaya, ia dilepas dengan rasa hormat yang mendalam.

​”Terima kasih atas segala sumbangsih dan pengabdian terbaiknya. Jaga selalu nama baik satuan asal dan tetaplah berdisiplin tinggi di tempat yang baru,” ujar Letkol Inf Bagus Kurniawan dengan nada penuh apresiasi.

​Namun, di mana ada perpisahan, di situ ada harapan baru. Kehangatan keluarga besar Kodim 1714/PJ langsung merangkul para personel baru: Lettu Suparman, Lettu Sugianto, Sertu Hitlai, Sertu Haluk, dan Pratu Panji. Kepada mereka, Dandim menitipkan pesan yang menyentuh hati tentang esensi menjadi prajurit teritorial. Mereka diminta untuk segera menyatu dengan denyut nadi kehidupan masyarakat Papua.

​”Segera beradaptasi, pahami karakter wilayah, dan jadilah bagian dari masyarakat di sini,” tegas Dandim.

​Bukan Sekadar Satuan Terpencil

​Ada kebanggaan besar yang ditekankan dalam amanat tersebut. Kodim 1714/Puncak Jaya bukanlah satuan biasa yang terisolasi di balik kabut gunung. Satuan ini adalah pemegang penghargaan Sang Karya Nugraha dari Presiden Republik Indonesia—sebuah bukti nyata bahwa dedikasi mereka diakui di tingkat tertinggi negara.

​”Kita bukan sekadar satuan terpencil, ini kehormatan besar. Prajurit Puncak Jaya harus bermental baja, karena tugas adalah segala-galanya,” ucap Letkol Bagus, membakar semangat nasionalisme para prajuritnya.

​Menutup upacara yang khidmat tersebut, sebuah pesan pamungkas digelorakan untuk seluruh prajurit dan anggota Persit yang hadir: jadilah prajurit yang tidak hanya tangguh dan disiplin, tetapi juga dicintai oleh rakyat. Di bawah semboyan “Satya Negara Ku”, mereka kembali meneguhkan janji setianya untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari sudut tertinggi Papua. (aga/fs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *