POSKOTA.CO – Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI) resmi menetapkan Presidium Pengurus Pusat PDUI dan Ketua Kolegium Dokter Indonesia Periode 2022-2025 dalam Kongres Nasional (Konas) IV PDUI, di Ballroom Hotel Sheraton Gandaria City Jakarta, pada 11-13 November 2022.
Presidium Pengurus Pusat PDUI dr Alwia Assagaf MKes mengatakan presidum ini sudah terbentuk di kepengurusan PDUI 2022-2025 dengan jumlah anggota lima orang dokter. “Kami berharap bisa melanjutkan program dari pengurus sebelumnya dan juga kami akan melaksanakan amanat dari kongres nasional yang baru selesai, di mana ada pembentukan badan-badan kelengkapan dan badan khusus,” kata dr Alwia, dalam keterangan tertulis yang diterima POSKOTA.CO, Selasa (15/11/2022).
Alwia menambahkan, Presidium Pengurus Pusat PDUI ingin mengoptimalkan peran dan fungsi dokter umum di layanan primer sebagai ‘gatekeeper’. “Di mana teman-teman dokter umum akan melakukan deteksi dini, skrining awal, promotif preventif dan juga kuratif rehabilitatif di mana kita harus mengedepankan kebutuhan dasar dari masyarakat kita,” tambahnya.
Dia mengungkapkan, bawah dokter umum itu memiliki kompetensi 4A yang seharusnya menjadi kualitas dokter umum di Indonesia ke depannya. “Tentu, dengan itu kita berharap bisa dilakukan oleh teman-taman dokter umum di seluruh Indonesia. Juga mengembangkan kekhususan dari pihak daerah, misalnya di daerah kepulauan, kita khusus mengembangkan kedokteran kepulauan,” ujar dr Alwia.
Oleh sebabnya, sambung Alwia, dokter umum itu seharusnya bisa melaksanakan kompetensi 4A di seluruh Indonesia agar bisa bersaing dan tidak kalah dengan dokter di luar negeri. “Kita perlu mengembangkan potensi-potensi khusus seperti misalnya di daerah kepulauan maritim itu perlu dengan kompentensi khusus dengan pelayanan kelautan,” tambahnya.
Bahkan, melalui pengembangan kompetensi kerja, PDUI sudah membentuk Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Medika KDI PDUI. “LSP yang sudah dibentuk di PDUI ini yang nantinya akan mengembangkan kompetensi kerja dari dokter umum supaya kita yakin bahwa dokter umum di Indonesia lebih unggul dari dokter-dokter di luar negeri,” tegas dr Alwia.
“Misalnya, kekhususan dengan daerah tropis kita, penyakit-penyakis tropis tentu kita lebih paham, seperti malaria tentu dalam tata laksananya kita lebih paham dari dokter luar negeri,” lanjutnya.
Alwia mengungkapkan, tantangan terbesar dari pelayanan dokter umum di era digitalisasi itu adalah regulasi. “Yang saat ini kita butuhkan adalah regulasi, di mana pelayanan berbasis platform digitalisasi itu belum ada, ini yang perlu nanti kita upayakan, sosialisasi kepada masyakarat nanti perlu kita lakukan,” tukasnya.
Presidium Pengurus Pusat PDUI Periode 2022-2025 dianggotai oleh lima orang dokter yang antara lain, Dr dr Masrifan Djamil MPH, MMR, dr Imelda Suzanna Datau MM, Dr dr Suyuti Syamsul MPPM, dr Alwia Assagaf MKes dan dr Nurhadji serta dr Mahmud Ghaznawie PhD sebagai ketua terpilih Kolegium Dokter Indonesia.
Selain itu, di akhir acara, Ketua Panita Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) dan Konas IV PDUI dr Widya Murni MARS mengatakan, acara ini sudah suatu kemajuan yang luar biasa karena baru ini PIT dari PDUI dilakukan secara hybrid. “Semoga acara selanjutnya bisa dilakukan hybrid juga, dan bahkan bisa menghadirkan berbagai pembicara tidak hanya dalam negeri saja tapi luar negeri. Demikian bisa menambah khazanah pengetahuan dokter umum indonesia yang leih baik karena kita harus mempersiapkan dokter umum Indonesia yang memiliki kompetensi yang sesuai atau bersaing dengan dokter-dokter asing,” harap dr Widya. (*/dk)







Komentar