JAKARTA – Memperingati Hari Kartini, Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan (Gatrik) Kementerian ESDM bersama Women in Energy Indonesia dan ENTREV mengadakan diskusi bertajuk “Keterlibatan Perempuan dalam Energi Bersih” di Ruang Mini Seminar Perpustakaan Gatrik, Senin (21/4/2025).
Dalam diskusi tersebut, Rina Santi Sijabat, founder Women in Energy Indonesia, mengungkapkan bahwa keterlibatan perempuan dalam sektor energi masih relatif rendah. Ia memaparkan data global yang menunjukkan partisipasi perempuan di sektor energi tradisional seperti migas dan listrik hanya mencapai 22 persen, sementara di energi terbarukan meningkat menjadi 32 persen.
“Secara keseluruhan, perempuan hanya mengisi sekitar 20 persen tenaga kerja di sektor energi global. Bahkan di Indonesia, keterlibatan perempuan di sektor energi baru mencapai sekitar 18 persen,” kata Rina.
Menurut Rina, keterlibatan perempuan penting karena mereka adalah pengambil keputusan utama terkait energi di level mikro, seperti rumah tangga. “Perempuan umumnya berperan sebagai manajer keuangan rumah tangga yang memiliki kecenderungan untuk memilih energi yang lebih hemat dan efisien,” jelas Rina.
Selain itu, Rina juga menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi perempuan, baik secara internal maupun eksternal. Tantangan internal meliputi stereotip gender sejak kecil, kurangnya kepercayaan terhadap kemampuan perempuan di bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics), serta tantangan dalam menyeimbangkan karir dan keluarga. Tantangan eksternal mencakup bias gender dalam perekrutan, promosi jabatan, hingga kebijakan tempat kerja yang kurang fleksibel.
Duwi Pratiwi, Project Coordinator ENTREV menambahkan bahwa peran perempuan sangat strategis dalam ekosistem kendaraan listrik berbasis baterai (KBLBB). Menurut data yang ia sampaikan, perempuan hanya mencakup sekitar 25 persen tenaga kerja di industri kendaraan listrik, dengan minat pembelian kendaraan listrik oleh perempuan juga masih rendah, hanya sekitar 34 persen dibanding pria yang mencapai 71 persen.
“Transisi energi yang inklusif gender adalah syarat utama agar transisi ini adil dan berkelanjutan,” tegas Duwi.
Ia juga menekankan pentingnya pelatihan teknis, partisipasi aktif komunitas perempuan, dan peluang bagi UMKM perempuan dalam ekosistem kendaraan listrik, seperti bengkel ramah kendaraan listrik dan jasa edukasi.
Seiring dengan meningkatnya urgensi pengurangan emisi dan penguatan ketahanan energi nasional, pelibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk perempuan, dipandang sebagai kebutuhan strategis.
“Transisi energi tidak akan berhasil jika hanya bersifat teknokratis. Kita butuh pendekatan yang berpihak pada keadilan sosial, dan di situlah peran perempuan menjadi kunci,” tutup Duwi. (*/fs)







Komentar