Oleh: Denny Januar Ali
AGUSTUS 2025 akan lama tinggal dalam ingatan bangsa ini. Sore itu Jakarta dipenuhi asap, teriakan, dan suara sirene. Di tengah kekacauan yang membelah jalan raya, seorang pengemudi ojek online bernama Affan Kurniawan terjatuh dan tak pernah bangkit kembali.
Ia bukan pemimpin demonstrasi, bukan tokoh politik, dan bukan aktivis yang berdiri di atas mobil komando. Ia hanya rakyat biasa yang sedang mencari nafkah. Namun kematiannya mengubah arah sejarah.
Video tubuh Affan yang tergeletak di jalan menyebar ke jutaan telepon genggam dalam hitungan jam. Wajahnya muncul di grup WhatsApp keluarga, TikTok anak sekolah, Instagram pekerja muda, hingga linimasa para aktivis. Dalam waktu singkat, seorang anak muda yang sebelumnya tak dikenal berubah menjadi simbol nasional.
Dari Aceh hingga Papua, kemarahan bergerak lebih cepat daripada siaran televisi. Demonstrasi meledak di berbagai kota. Sebagian berlangsung damai, sebagian berubah menjadi bentrokan. Beberapa kantor pemerintah dibakar, gedung DPRD di Makassar menjadi puing, dan korban jiwa berjatuhan.
Peristiwa ini memunculkan pertanyaan mendasar: mengapa kematian satu orang bisa mengguncang sebuah negara Menurut saya, Kerusuhan Agustus 2025 bukan sekadar ledakan emosi massa. Ia adalah gejala sosial yang membutuhkan teori baru untuk menjelaskannya.
Teori Lama dan Keterbatasannya
Selama ini, ilmu sosial memiliki sejumlah teori besar untuk menjelaskan pemberontakan dan gerakan sosial.
Pertama, Teori Relative Deprivation dari Ted Robert Gurr dalam buku Why Men Rebel (1970). Teori ini menjelaskan bahwa pemberontakan muncul ketika terdapat kesenjangan antara harapan masyarakat dan kenyataan yang mereka hadapi. Ketika rakyat merasa berhak memperoleh sesuatu tetapi gagal mendapatkannya, lahirlah frustrasi kolektif yang dapat berubah menjadi kemarahan politik.
Teori ini sangat kuat menjelaskan berbagai revolusi besar. Namun ia lahir sebelum era internet. Teori ini belum mampu menjelaskan bagaimana algoritma media sosial memperbesar kemarahan publik dan mengubah video berdurasi pendek menjadi pemicu nasional.
Kedua, Resource Mobilization Theory yang dikembangkan McCarthy dan Zald. Teori ini menekankan pentingnya organisasi, kepemimpinan, dana, dan jaringan dalam keberhasilan gerakan sosial. Namun kerusuhan Agustus 2025 menunjukkan sesuatu yang berbeda. Ribuan orang dapat bergerak tanpa organisasi formal, tanpa struktur kepemimpinan yang jelas, tetapi tetap mampu bertindak secara serentak melalui jaringan digital.
Ketiga, Networked Protest Theory yang banyak dikembangkan oleh Manuel Castells dan Zeynep Tufekci. Teori ini menjelaskan bagaimana internet dan media sosial memungkinkan mobilisasi cepat dalam skala besar. Meski paling dekat dengan realitas abad ke-21, teori ini masih memiliki keterbatasan. Ia menjelaskan bagaimana protes menyebar, tetapi belum sepenuhnya menjelaskan mengapa kelompok tertentu lebih rentan tersulut dibanding yang lain.
Teori Kerusuhan Era Digital
Dari refleksi terhadap berbagai teori tersebut, saya mengajukan sebuah konsep baru yang saya sebut Teori Kerusuhan Era Digital. Teori ini dibangun di atas lima variabel utama.
- Pertama, Economic Grievance (Keresahan Ekonomi).
Setiap kerusuhan membutuhkan bahan bakar. Bahan bakar itu adalah ketidakadilan ekonomi yang dirasakan masyarakat: harga kebutuhan pokok yang meningkat, lapangan kerja yang menyempit, daya beli yang menurun, serta masa depan yang terasa semakin tidak pasti. - Kedua, Digitally Vulnerable Class (DVC).
Inilah kontribusi paling orisinal teori ini. DVC adalah kelas rentan digital yang terdiri dari pengemudi ojol, kurir, pekerja platform, freelancer, hingga kreator konten kecil. Mereka hidup dalam tiga kerentanan sekaligus: kerentanan ekonomi, kerentanan algoritmik, dan kerentanan harapan. Kelompok inilah yang berpotensi menjadi aktor utama dalam kerusuhan digital abad ke-21. - Ketiga, Social Media Amplification.
Media sosial bertindak sebagai pengganda emosi kolektif. Ia mengubah keluhan lokal menjadi kemarahan nasional. Notifikasi kini mampu menggantikan peran pamflet revolusi. - Keempat, Trigger and Provocation.
Kemarahan membutuhkan simbol. Dalam konteks Agustus 2025, Affan Kurniawan menjadi simbol tersebut. Setelah pemicu muncul, disinformasi dan provokasi dapat mengubah protes damai menjadi kerusuhan yang destruktif. - Kelima, Broken Social Contract.
Kerusuhan meledak ketika masyarakat merasa negara gagal menjalankan janji dasarnya: melindungi warga, menghadirkan keadilan, membuka peluang ekonomi, dan mendengar suara rakyat. Ketika kepercayaan itu hilang, kontrak sosial kehilangan legitimasi moralnya.
Sebuah Formula Baru
Teori ini dapat dirumuskan secara sederhana:
Digital Riot = Economic Grievance + Digitally Vulnerable Class + Social Media Amplification + Trigger and Provocation + Broken Social Contract
Kelima variabel tersebut tidak bekerja sendiri-sendiri. Mereka saling memperkuat dalam satu siklus.
Keresahan ekonomi menumpuk di kalangan kelas rentan digital, diperbesar oleh algoritma media sosial, dipicu oleh sebuah simbol yang kuat, lalu meledak ketika kepercayaan terhadap negara runtuh.
Membaca Masa Depan
Sebuah teori sosial yang baik tidak hanya menjelaskan masa lalu, tetapi juga membantu membaca masa depan.
Jika lima variabel ini benar, maka kerusuhan digital bukanlah fenomena khas Indonesia semata. Ia berpotensi menjadi pola baru abad ke-21 yang muncul di berbagai negara ketika keresahan ekonomi bertemu dengan kelas rentan digital dan diperkuat oleh algoritma media sosial.
Kerusuhan Agustus 2025 bukan sekadar peristiwa politik. Ia adalah tanda zaman. Ia menunjukkan bahwa masyarakat berubah jauh lebih cepat daripada teori-teori yang selama ini digunakan untuk memahaminya.
Affan Kurniawan mungkin telah pergi. Namun kisahnya meninggalkan pertanyaan besar bagi ilmu sosial modern: bagaimana memahami masyarakat yang hidup di bawah algoritma, bekerja tanpa kepastian, berkomunikasi melalui jaringan digital, dan bergerak dalam kecepatan yang belum pernah dikenal sebelumnya?
Teori Kerusuhan Era Digital adalah upaya untuk menjawab pertanyaan tersebut. Sebab sejarah tidak berubah ketika rakyat mulai marah. Sejarah berubah ketika kita akhirnya memahami mengapa mereka marah.
Catatan: Untuk Renungan
Setiap zaman melahirkan kelas sosial yang menjadi kendaraan utama perubahan sejarah.
Revolusi Industri melahirkan proletariat yang hidup di bawah mesin pabrik. Globalisasi melahirkan precariat yang hidup dalam ketidakpastian kerja.
Kini era algoritma melahirkan kelas baru yang berbeda. Jika proletariat adalah anak mesin industri, maka Digitally Vulnerable Class adalah anak algoritma.
Dari kelas sosial inilah lahir energi sosial yang menjelaskan banyak kerusuhan digital abad ke-21.
Referensi:
- Why Men Rebel. Ted Robert Gurr. Princeton University Press. 1970.
- Networks of Outrage and Hope: Social Movements in the Internet Age. Manuel Castells. Polity Press. 2012.
- Twitter and Tear Gas: The Power and Fragility of Networked Protest. Zeynep Tufekci. Yale University Press. 2017.
Ratusan esai Denny JA soal filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA’s World. (Penulis adalah Pendiri LSI Denny JA)







Komentar