JAKARTA – Andi Iftitah Baitul Qiswa seorang mahasiswa Program Studi Teknik Elektro, Institut Teknologi PLN (ITPLN), berhasil menorehkan prestasi membanggakan. Ia meraih lima medali emas pada ajang National Science Competition (NSC) 2026 pada kategori Fisika, Matematika, Bahasa Inggris, Kimia, dan Biologi.
Kompetisi yang diselenggarakan oleh Pusat Kejuaraan Nasional dan telah terkurasi secara resmi oleh Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) itu diikuti sekitar 1.500 peserta dari berbagai perguruan tinggi ternama di Indonesia. Peserta berasal dari sejumlah kampus besar seperti Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), ITPLN, Universitas Diponegoro, Universitas Brawijaya, Universitas Hasanuddin, hingga Universitas Andalas dan lainnya.
Keberhasilan Andi menjadi sorotan karena persaingan dalam kompetisi tersebut berlangsung ketat. Menurutnya, rasio persaingan diperkirakan mencapai sekitar 1 banding 8. “Tingkat persaingannya sangat tinggi. Setiap peserta dituntut memberikan performa terbaik karena kompetisi ini mempertemukan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi unggulan di Indonesia,” ujar Andi saat diwawancarai wartawan di Jakarta, Selasa, (16/6).
NSC 2026 dilaksanakan secara daring melalui sistem evaluasi terpadu. Seluruh peserta hanya menghadapi satu babak penentuan dengan total 230 soal yang harus dikerjakan sesuai bidang keilmuan yang dipilih. Bagi Andi, tantangan terbesar dalam kompetisi bukan hanya tingkat kesulitan soal, tetapi juga pengelolaan waktu selama ujian berlangsung.
Menurut Andi, bidang Fisika menjadi subjek paling menantang karena memerlukan perpaduan antara intuisi fenomena fisis dan ketelitian kalkulasi matematis tingkat tinggi. Putra dari Andi Kamaluddin itu menilai keberhasilannya bukan hasil persiapan instan, melainkan buah dari proses belajar panjang sejak sekolah dasar.
“Persiapan sesungguhnya dimulai sejak SD. Kunci utamanya adalah penguasaan konsep fundamental secara konsisten dari SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi,” imbuhnya. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak sekadar menghafal rumus, tetapi berusaha memahami logika di balik setiap konsep ilmu pengetahuan.
Menurut pria kelahiran Makassar, 30 Juni 2004 itu, disiplin menjadi faktor utama yang mengantarkan dirinya meraih prestasi. Bahkan, Andi beberapa kali meraih medali serupa pada tahun-tahun sebelumnya yaitu salah satunya pada Fosnas atau Festival Olimpiade Sains Nasional dengan perolehan 3 Medali Emas dan 2 Medali Perak
Andi mengakui dukungan dosen ITPLN berperan besar dalam membentuk pola pikir kritisnya. Berbagai diskusi akademik di perkuliahan membantu dirinya menyelesaikan persoalan teknis yang kompleks saat kompetisi. Selain itu, keterlibatannya dalam organisasi kampus Society of Renewable Energy (SRE) juga dinilai memperkuat kemampuan manajemen waktu, kepemimpinan diri, serta pengelolaan stres. Meski demikian, ia berharap ke depan kampus dapat menghadirkan program pembinaan yang lebih terstruktur bagi mahasiswa berprestasi.
Usai meraih lima medali emas, Andi mengaku belum ingin berpuas diri. Ia kini menargetkan kompetisi esai dan riset tingkat nasional hingga internasional. Salah satu fokus yang tengah dikembangkannya adalah gagasan mengenai transisi energi dan inovasi hijau, termasuk pengembangan green hydrogen.
Prestasi ini, menurutnya, semakin memperkuat keyakinan untuk meniti karier akademik dan memperluas peluang studi lanjut di masa depan. Bagi mahasiswa lain, Andi berpesan agar tidak membangun pengetahuan secara instan. (jo)







Komentar