oleh

Ini Beda Radang Paru Biasa dengan Covid-19

-Nasional-24 views

POSKOTA.CO-Covid-19 memiliki gejala yang hampir sama dengan radang paru biasa atau disebut paru-paru basah. Karena itu masyarakat awam hampir tak bisa membedakan dua jenis penyakit tersebut.

“Kedua jenis penyakit ini memiliki gejala yang mirip yaitu timbulnya peradangan pada paru penderita,” kata dokter spesialis paru-paru dari Siloam Hospitals Silampari, dr. Indra Barata, Sp.P pada kegiatan edukasi bertajuk ‘Ciri dan Gejala Covid-19 pada Pernapasan’ yang digelar Siloam Hospitals Silampari bekerjasama dengan Dokter Kita yang disiarkan melalui kanal Instragram, Sabtu (9/1/2021).

Tetapi sebenarnya dua jenis penyakit ini memiliki perbedaan. Pneumonia biasa merupakan kondisi yang menyebabkan peradangan pada kantung-kantung udara di salah satu atau kedua paru-paru. Infeksi tersebut dapat menyebabkan kantung udara pada saluran pernapasan di paru-paru mengalami radang dan dipenuhi oleh cairan. Penyakit ini dapat sembuh dengan sendirinya jika sistem imun pengidapnya baik.

Sedangkan pada Covid-19, gangguan ini umumnya menyerang saluran napas bagian atas yang akhirnya dapat menyebar hingga ke paru-paru.
Selain itu, lanjut dr Indra virus corona memiliki karakteristik merusak sistem pernapasan pada organ manusia, yang dapat menginfeksi organ paru-paru dari tingkat akut hingga penyebab kematian.

“Dan pada beberapa kasus yang kami tangani, penanganan kasus dari virus corona ini menyebabkan pneumonide atau infeksi pada organ paru paru,” terang dr Indra.

Menurut Indra, selain tiga gejala umum terpapar corona yaitu timbulnya demam tinggi hingga di atas suhu 38 derajat celcius dari suhu normal badan, batuk kering dan sesak nafas, terdapat pula gejala khusus lainnya. Diantaranya adalah timbul diare, sakit kepala, hilangnya kemampuan mencium aroma bau (anosmia), iritasi mata hingga timbul ruam di kulit.

“Mengikuti gejala terpaparnya tubuh oleh virus corona ini dalam rentan waktu 10 hari, sebagian pasien akan mengalami penurunan oksigen tanpa adanya gejala apapun. Kondisi ini disebut happy hypoxia,” lanjut dr Indra Barata.

Adapun dalam pendeteksian awal, kehadiran virus dapat di deteksi melalui rekam Rontgen dan CT Scan Thorax serta pemeriksaan di laboratorium.

Kegiatan edukasi yang diikuti puluhan peserta yang berasal dari keluarga pasien dan kolega, dr. Indra mengimbau  agar masyarakat secara umum dan khususnya di kota Lubuklinggau tetap melaksanakan protokol kesehatan secara berkelanjutan.

“Minimal menggunakan masker selama empat jam sekali saat diluar ruangan sambil menjaga jarak, mencuci tangan dengan air sabun dan air yang mengalir selama 20 detik sebelum dan sesudah beraktivitas serta menjaga kondisi tubuh agar selaku prima dengan berolahraga dan mengkonsumsi makanan yang sehat,” pungkas Indra. (*/fs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *