oleh

Apa Itu Virus Hanta dan Bagaimana Pencegahannya, Ini Penjelasan Pakar SKHB IPB University

BOGOR – Virus Hanta (Hantavirus) adalah kelompok virus zoonosis yang disebarkan oleh hewan pengerat, terutama tikus. Manusia dapat terinfeksi ketika menghirup debu yang terkontaminasi urine, feses, atau air liur tikus yang terinfeksi. Virus ini memicu penyakit serius seperti gangguan gagal ginjal atau masalah pernapasan bahkan paru-paru.

Infeksi menyebar tidak harus melalui gigitan langsung dari tikus, melainkan melalui beberapa cara seperti, partikel virus yang mengering di udara terhirup ke dalam paru-paru serta kontak langsung seperti, menyentuh kotoran, urine, atau air liur tikus, dan makanan yang telah terkontaminasi kotoran hewan pengerat.

Prof. Dr. drh. Upik Kesumawati Hadi, M.S., PhD pakar Parasitologi dan Entomologi Kesehatan dari Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University mengatakan, virus Hanta ini sebenarnya sudah lama ada, dan penelitian terkait virus ini pernah dilaporkan di Indonesia yaitu sekitar tahun 1980-an. “Ini virus sudah lama ada. Pembawa utama virus ini adalah tikus. Dia terdakwa utama. Namun demikian kami imbau, tidak perlu khawatir berlebihan,” kata Prof. Upik, dikutip wartawan media ini, Selasa (12/5/2026).

Menurut pedoman dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, virus ini umumnya memicu dua jenis sindrom utama, yakni, Sindrom Paru Hantavirus (HPS) yang menyerang sistem pernapasan dan menyebabkan penumpukan cairan di paru-paru. Gejala awal virus Hanta berupa demam, nyeri otot (otot paha, punggung, bahu), lemas, sakit kepala, dan gangguan pencernaan.

Kementerian Kesehatan dalam situs resminya mengatakan, tahap lanjut setelah 4-10 hari, penderita akan mengalami batuk, sesak napas yang berkembang cepat, dan penurunan tingkat oksigen dalam darah. Tahap awal penderita adalah, wajah memerah, demam tinggi, menggigil, sakit kepala parah, dan penglihatan kabur. Tahap lanjutan, tekanan darah rendah, syok, kebocoran pembuluh darah, hingga gagal ginjal akut.

Menurut Prof. Upik Kesumawati, jenis virus Hanta yang saat ini menjadi perhatian adalah Andes virus yang dilaporkan dapat menular dari manusia ke manusia, meskipun sangat jarang terjadi. Untuk melindungi diri dari risiko paparan virus Hanta, ada beberapa penerapan langkah pencegahan berupa, jaga kebersihan rumah dan lingkungan sekitar agar tidak menjadi sarang tikus. “Jangan menyapu atau menyedot debu sarang dan kotoran tikus yang kering secara langsung agar virus tidak beterbangan dan terhirup. Basahi area tersebut terlebih dahulu dengan larutan disinfektan,” katanya.

Ia juga menyarankan, selalu mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir setelah berinteraksi dengan lingkungan luar atau area yang berpotensi menjadi habitat tikus. “Jika mengalami gejala demam dan gangguan pernapasan atau ginjal yang muncul beberapa minggu setelah membersihkan area yang dicurigai terdapat kotoran tikus, segera konsultasi ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan penanganan medis yang tepat,” ujar Prof. Upik.

“Untuk mengetahui lebih lanjut terkait data penyebaran kasusnya di Indonesia, bisa dapat merujuk pada portal informasi Kesehatan Kementerian Kesehatan RI,” tandasnya.

Penyakit virus Hanta tergolong ke dalam penyakit zoonosis, karena penyebarannya dimulai dari hewan ke manusia. “Penularan infeksi virus Hanta ke manusia umumnya terjadi melalui kontak langsung dengan feses, urine, dan air liur tikus yang terinfeksi. Langkah antisipasi, lakukan kontrol lingkungan, guna mencegah penyebaran tikus yang meluas,” ungkap Prof. Upik.

Menurut data Kemenkes RI, penyakit virus Hanta tergolong jarang terjadi, tetapi bisa berbahaya. Tingkat kematian akibat hantavirus pulmonary syndrome sekitar 40 persen dan pada hemorrhagic fever with renal syndrome sekitar 5-15 persen. (*/yopy)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *