oleh

Merawat Budaya, Menghargai Karya Anak Jakarta

JAKARTA — Kebudayaan tidak pernah sekadar berbicara tentang masa lalu. Di dalamnya terdapat ingatan kolektif, nilai kehidupan, karakter masyarakat, sekaligus identitas yang membedakan sebuah bangsa dari bangsa lainnya.

Karena itu, merawat budaya sejatinya bukan hanya pekerjaan untuk mengenang apa yang pernah diwariskan para leluhur, tetapi merupakan ikhtiar untuk memastikan Indonesia tetap memiliki jati diri ketika bergerak menuju masa depan.

Anggota DPD RI/MPR RI Achmad Azran memandang kebudayaan sebagai salah satu fondasi penting dalam membangun Indonesia yang kuat.

Menurutnya, pembangunan bangsa tidak boleh hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, kemajuan teknologi, pembangunan infrastruktur, atau pencapaian material. Ada dimensi yang tidak kalah penting, yakni karakter dan identitas bangsa yang tercermin melalui kebudayaan.

“Kalau sebuah bangsa kehilangan kebudayaannya, yang hilang bukan hanya kesenian atau tradisi. Yang hilang adalah sebagian dari identitas dan ingatan kolektif bangsa itu sendiri. Karena itu, merawat budaya berarti menjaga jati diri Indonesia agar tidak tercerabut dari akarnya,” ujar Bang Azran.

Sebagai putra asli Betawi, Bang Azran mengaku memiliki kedekatan emosional dengan perjuangan mempertahankan kebudayaan lokal di tengah perubahan zaman. Betawi, menurutnya, merupakan contoh bagaimana sebuah kebudayaan tumbuh dari pertemuan berbagai latar belakang masyarakat dan kemudian membentuk identitas khas yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari Jakarta.

Namun, ia mengingatkan bahwa pelestarian budaya tidak boleh berhenti pada romantisme masa lalu. Kebudayaan harus diberi kesempatan untuk berkembang dan beradaptasi dengan zaman.

Tradisi yang diwariskan leluhur harus dapat diterjemahkan ke dalam bahasa generasi muda tanpa kehilangan nilai dasarnya.

“Budaya jangan hanya kita tampilkan ketika ada festival, peringatan hari besar, atau acara seremonial. Budaya harus hadir dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak muda harus merasa bahwa budaya mereka bukan sesuatu yang kuno, tetapi sesuatu yang keren, bernilai, dan bahkan bisa menjadi jalan untuk membangun masa depan,” katanya.

Memberi Ruang kepada Anak Bangsa
Dalam pandangan Bang Azran, salah satu bentuk nyata mencintai kebudayaan adalah memberikan penghargaan yang layak kepada orang-orang yang menghasilkan karya.

Sebab, kebudayaan akan sulit bertahan apabila para pelaku seni dan kreator tidak memiliki ruang untuk berkembang.

Ia menilai Indonesia memiliki begitu banyak talenta di bidang seni, musik, film, fesyen, kuliner, kerajinan, desain, hingga industri kreatif digital.

Sayangnya, sebagian karya tersebut masih menghadapi tantangan dalam memperoleh apresiasi, akses pasar, pembiayaan, promosi, dan ruang tampil.

Karena itu, menurutnya, masyarakat memiliki peran besar dengan mulai memberikan apresiasi kepada produk dan karya anak bangsa. Membeli produk lokal, menonton film Indonesia, menggunakan produk kreatif dalam negeri, menikmati kuliner tradisional, mendukung seniman lokal, serta mempromosikan karya daerah melalui media sosial merupakan bentuk sederhana dari kecintaan terhadap Indonesia.

“Jangan hanya mengatakan kita cinta Indonesia. Kecintaan itu harus mempunyai tindakan. Kalau ada anak muda membuat karya yang bagus, kita dukung. Kalau ada produk lokal yang berkualitas, kita beli. Kalau ada kesenian daerah yang mulai ditinggalkan, kita bantu hidupkan kembali. Nasionalisme hari ini juga bisa diwujudkan dengan menghargai karya anak bangsa,” tutur Bang Azran.

Ia menilai penghargaan terhadap karya lokal juga berkaitan erat dengan pembangunan ekonomi masyarakat. Ketika sebuah karya budaya mendapatkan pasar, maka yang mendapatkan manfaat bukan hanya penciptanya, tetapi juga para pekerja, pengrajin, pelaku UMKM, pelaku pariwisata, komunitas, hingga masyarakat di sekitar ekosistem tersebut.

Dengan demikian, kebudayaan menurutnya memiliki dimensi ekonomi yang sangat besar. Budaya dapat menjadi sumber kesejahteraan apabila dikelola secara serius tanpa menghilangkan nilai-nilai yang menjadi akar keberadaannya.

Bang Azran juga memberikan perhatian khusus terhadap generasi muda. Menurutnya, masa depan kebudayaan Indonesia sangat ditentukan oleh apakah generasi muda merasa memiliki hubungan dengan warisan budaya bangsanya.

Ia menilai pendekatan pelestarian budaya harus mengalami perubahan. Anak muda tidak cukup hanya diminta menghafal nama-nama kesenian atau mengetahui sejarah sebuah tradisi. Mereka harus diberi kesempatan untuk menciptakan sesuatu yang baru dari kekayaan budaya yang mereka miliki.

Teknologi digital, media sosial, industri kreatif, dan berbagai platform global justru dapat menjadi alat untuk memperkenalkan kebudayaan Indonesia kepada dunia.

“Jangan takut budaya kita berubah bentuk. Yang harus kita jaga adalah nilai dan jiwanya. Anak muda boleh membuat musik tradisional dengan aransemen modern, boleh membawa motif daerah ke dalam desain fesyen kontemporer, boleh mempromosikan kuliner tradisional melalui platform digital. Selama nilai dan identitasnya tetap dijaga, itu bukan menghilangkan budaya. Itu justru cara membuat budaya tetap hidup,” jelasnya.

Menurutnya, bangsa yang besar bukan bangsa yang hanya mampu mempertahankan masa lalunya, tetapi bangsa yang mampu membawa warisan masa lalu menjadi kekuatan untuk menghadapi masa depan.

Merawat budaya berarti menjaga akar. Menghargai karya anak bangsa berarti memberi masa depan. Dan menjaga keduanya berarti merawat Indonesia.(dk)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *