oleh

Sebaiknya Joe Biden Angkat Trump Jadi Menhan

-Komunitas-103 views

POSKOTA.CO – Seperti Indonesia 2019, pemilu AS 2020 ini telah membelah warga Amerika. Jika di Indonesia terjadi polarisasi di antara cebong dan kampret, di Amerika di antara pendukung Trump (Republik) dan Jo Biden (Demokrat).

Media media Amerika yang dikutip kantor berita dunia menampilkan pendukung Capres Joe Biden berhadap-hadapan dengan pendukung Presiden Donald Trump pada hari pemilu 3 November 2020. Di tempat lain mereka bahkan terlibat perkelahian.

Banyak kehangatan bernegara yang hancur karena perbedaan pilihan politik. Keramahan bertetangga hilang, pertemanan yang pupus, sampai-sampai yang paling parah keluarga sampai pecah!

Dilansir dari Reuters, Mayra Gomes, 41, seorang ibu di Milwaukee dan anak laki-lakinya yang berumur 21 tahun harus mengalami perpecahan internal keluarganya. Gomes pada Pemilu AS 2020 ini memutuskan untuk memilih Trump. Hal itu membuat anak laki-lakinya, seorang suporter garis keras Joe Biden, sangat kecewa dan melontarkan kata-kata yang kurang berkenan pada ibunya itu.

“Anda bukan ibu saya lagi karena anda memilih Trump” ucap Gomez menirukan putranya. Pembicaraan keduanya pun belum membaik meski akhir dari pilpres AS di depan mata.

Kerusuhan juga terjadi di Portland, Oragon dan di Oakland California. BANYAK warga Amerika terkejut melihat selisih suara yang sangat tipis dalam pemilu presiden Amerika 3 November lalu, yang mencerminkan perpecahan tajam di negara ini. Demikian Voice of America (VoA) menulis.

Trump menuduh pemilu curang — sebagaimana dulu kubu sebelah di negeri kita juga menuduh petahana curang. Donald Trump minta agar penghitungan suara dihentikan, sementara pihak Joe Biden minta terus berlanjut. Mengingatkan pada hoax tujuh kontiner surat suara yang sudah tercoblos dan 272 kontainer alat bukti yang diajukan ke MK, tempo hari.

Orang orang Indonesia yang mengalami lebih dulu kronik politik ini menertawakan pemilu AS 2020 kini.

VOA mewawancara Jeff dan Beth dua pendukung ekstrimnya. “Saya kira Donald Trump telah merusak negeri ini,” kata Jeff.

“Dalam pandangan saya Trump justru telah memulihkan perekonomian. Dana pensiun saya meningkat. Saya menghasilkan lebih banyak uang dan nilai saham saya melesat. Saya kini memiliki lebih banyak uang,” ujar Beth.

Jeff dan Beth menggambarkan perpecahan tajam di negara kampiun demokrasi ini.

Pakar politik di California Institute of Technology, Michael Alvarez mengatakan, “Kita terpecah secara partisan dan ideologi. Kita terpecah dalam banyak masalah, sosial dan ekonomi. Pandangan dan reaksi kita terhadap pandemi virus corona juga terpecah.”

Saya segera membayangkan wajah para Cebong dan Kampret.
Pertarungan pilpres yang sengit juga menunjukkan perubahan demografi dan geografi politik di Amerika.

“Saya kira dukungan dari beragam segmen – yang sudah diperkirakan sebelumnya – seperti kelompok warga kulit hitam, bagi Partai Demokrat… bukan sesuatu yang dapat diharapkan Partai Demokrat. Saya kira mereka perlu bekerjasama untuk meraih suara warga Amerika keturunan Afika, Amerika-Latin dan Hispanik,” tambah Michael.

Dalam empat tahun kepemimpinannya, berita bohong alias hoaks. Hal itu membuat loyalitas pendukungnya semakin menjadi-jadi, bahkan di dalam keluarga inti.

Pernyataan-pernyataan Trump yang kerap kontroversial membuat masyarakat semakin terpecah-belah. “Trump sudah merusak nama Amerika di duia internasional, ” kata seorang WNI di sana, yang diwawancarai BBC.

Tracy Hinson, yang berasal dari Delaware, mengatakan memilih Trump dalam pemilu presiden 3 November. “Saya tidak melihat antusiasme yang sangat besar bagi Biden. Maksudnya, saya tidak melihat hal itu,” ujar Tracy.

Pendukung Biden, Beth Jobs mengatakan ia menginginkan perubahan, tidak lagi terjebak pada perpecahan yang terjadi empat tahun belakang ini. “Saya berdoa demi pemulihan negara ini, bahwa kita dapat bekerjasama, duduk dan membahas hal ini, di mana semua pihak didengar suaranya.”

ADA 142 ribu orang Indonesia di AS, sebagaimana dikutip BBC dari KBRI. Mengingat sebagian mencari nafkah di AS, mereka juga berkepentingan terkait dengan berapa besar pajak pendapatan yang mesti disetor jika calon Partai Republik, Donald Trump, menang lagi. Atau sebaliknya, jika calon Partai Demokrat, Joe Biden, yang menang.

Sebagian Indonesia memilih independen. Ada yang karena tak mau terjebak dalam polarisasi kubu kubuan – ada yang karena skeptis mengingat kedua kandidat sudah sepuh.

Joe Biden, wakil Obama selama dua periode, akan genap berusia 78 tahun pada tanggal 20 November ini. Adapun usia Donald Trump kini 74 tahun. Bandingkan dengan Barack Obama yang dilantik menjadi presiden pada usia 47 tahun.

“Saya heran bagaimana mereka memikirkan persoalan negara adidaya yang begitu besar peranannya dalam percaturan politik dan ekonomi dunia,” kata Didi Prambadi, mantan wartawan “Tempo” di AS ini kepada BBC Indonesia.

Didi Prambadi, yang sekarang menjadi chief operations officer di Indonesianlantern.com, portal komunitas Indonesia di Amerika Serikat, pemilu AS berlangsung di tengah memanasnya isu rasialisme

“Bahkan ada kelompok supremasi kulit putih bersenjata, Front Patriot, menggalang kekuatan militer di beberapa negara bagian bila Donald Trump kalah dalam Pilpres 2020 nanti.”

Sementara kelompok hitam dikhawatirkan akan melakukan penjarahan dan perampokan di beberapa negara bagian, seperti yang terjadi di Philadelphia, Oregon, New York, dan lainnya,” jelasnya.

Amerika Serikat menggelar pesta demokrasi ketika pandemi Covid-19 belum menunjukkan tanda-tanda kapan akan berakhir. Ekonomi amat lesu dan defisit belanja negara semakin membengkak.

Menurut data tahun 2019, jumlah penduduk AS mencapai 328 juta jiwa, diproyeksikan mencapai 331 juta jiwa tahun 2020 ini. Negara terbesar ketiga di seluruh jagat sesudah China dan India.

Pemilu AS kali ini juga digelar di tengah pagebluk Covid-19 yang telah menyebabkan lebih dari 1,2 juta orang meninggal dunia. Negara dengan jumlah kasus dan kematian tertinggi di dunia.

Siapa pun yang menang, dan berkuasa Gedung Putih berikutnya, pengganti Donald Trump harus menghadapi pandemi virus corona dan memburuknya kondisi perkomian; sambil tentunya memimpin negara yang terpecah ini.

“Sebaiknya Joe Biden angkat Trump jadi Menhan,” saran netizen Indonesia, menawarkan solusi dan islah politik ala negeri Pancasila ini. (Supriyanto Martosuwito)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *