oleh

Terkait Rachmat Yasin, KPK Panggil Odam, PNS di Kecamatan Sukamakmur

POSKOTA. CO – Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mendalami kasus yang melibatkan tersangka Rachmat Yasin.
Terakhir pada Kamis (5/11/2020) kemarin, KPK memanggil M Odam, seorang pegawai negeri sipil (PNS) yang bertugas di Kecamatan Sukamakmur dan H Muhammad Suhendra.

Keduanya bersaksi untuk kasus korupsi yang menjerat tersangka mantan bupati Bogor Rachmat Yasin (RY), yang merupakan terpidana kasus korupsi.

Juru Bicara KPK, Ali Fikri mengatakan, pemanggilan kedua saksi ini untuk menggali keterangan terkait kasus hibah tanah yang diduga gratifikasi yang diterima oleh RY.

“Keterangan kedua saksi sangat dibutuhkan penyidik. Keterangan kedua saksi terkait dengan proses dilakukannya hibah tanah yang diterima tersangka,”kata Ali Fikri kepada wartawan.

Ali menegaskan, banyaknya saksi yang dipanggil penyidik KPK mulai dari warga hingga pejabat setingkat Sekda, karena KPK ini menuntaskan kasus tersebut.
Bahkan Ali menegaskan, akan ada tersangka baru dalam kasus ini, yaitu kerabat atau sahabat dekatnya tersangka.

“Penyidik KPK perlu gali keterangan saksi sampai ke akar-akarnya karena akan ada tersangka baru yaitu sahabat dekatnya tersangka RY,” ujar Ali Fikri

Saat ditanya siapa orang dekat tersangka RY yang akan ditetapkan menjadi tersangka baru, Ali enggan menjelaskan secara rinci.
“Kerabat atau sahabat dekatnya tersangka RY,” kata Ali.

KPK sudah menetapkan Rachmat Yasin, Bupati Bogor periode 2009-2014, sebagai tersangka dalam dua kasus, yakni dugaan pemotongan uang dan gratifikasi.

Dalam kasus pertama, Rachmat Yasin diduga telah menyunat uang dari satuan perangkat kerja daerah (SKPD) selama menjabat Bupati Bogor. Tersangka diduga meminta, menerima atau memotong pembayaran dari beberapa SKPD hingga terkumpul uang senilai Rp 8.931.326.223. Setiap SKPD diduga memiliki sumber dana yang berbeda untuk memberikan dana kepada tersangka.

Selain itu, Rachmat Yasin juga diduga menerima gratifikasi, yaitu berupa tanah seluas 20 hektare di Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor dan satu mobil mewah merek Toyota Vellfire.

Dalam kasus penerimaan gratifikasi berupa tanah seluas 20 hektare, KPK melaporkan bahwa Rachmat sengaja meminta kepada anak buahnya untuk memeriksa satu bidang tanah seluas 350 hektare. Tanah seluas ini akan dibangun pesantren.

“Pada tahun 2010 seorang pemilik tanah seluas 350 hektare yang terletak di Desa Singasari dan Desa Cibodas, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor ingin mendirikan Pondok Pesantren dan Kota Santri. Untuk itu pemilik tanah berencana akan menghibahkan tanahnya seluas 100 hektare agar pembangunan pesantren terealisasi,” kata Wakil Ketua KPK, Lili Pintauli Siregar membacakan kutipan kronologi kasus tersebut.

Menurut KPK, pemilik tanah tersebut kemudian menyampaikan maksudnya untuk mendirikan pesantren pada Rachmat melalui stafnya. Rachmat menjelaskan agar dilakukan pengecekan mengenai status tanah dan kelengkapan surat-surat tanahnya.

Pada pertengahan tahun 2011, Rachmat Yasin melakukan kunjungan lapangan di sekitar lokasi tanah tersebut.
Melalui perwakilannya, Rachmat menyampaikan ketertarikannya terhadap tanah tersebut.
Tersangka juga meminta bagian, agar tanah tersebut juga dihibahkan untuknya. Pemilik tanah kemudian menghibahkan atau memberikan tanah seluas 20 Ha tersebut sesuai permintaan tersangka yang saat itu masih menjabat sebagai Bupati Bogor.

Diduga Rachmat mendapatkan gratifikasi agar memperlancar perizinan lokasi pendirian Pondok Pesantren dan Kota Santri.

Rachmat Yasin, terpidana kasus korupsi yang baru bebas pada tanggal 8 Mei 2019. Dia sebelumnya dijerat dalam kasus suap rekomendasi tukar menukar kawasan hutan di Kabupaten Bogor tahun 2014 atas nama PT Bukit Jonggol Asri seluas 2.754 hektare. Rachmat Yasin divonis 5 tahun 6 bulan penjara.

Dalam perkara yang diawali operasi tangkap tangan (OTT) pada 7 Mei 2014, KPK juga memproses FX Yohan Yap (swasta), M Zairin (Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Bogor) dan Kwee Cahyadi Kumala, Komisaris Utama PT. Jonggol Asri dan Presiden Direktur PT. Sentul City. (yopi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *