oleh

Road Block

POSKOTA.CO – Tatkala bertugas sebagai pasukan perdamaian PBB di Mozambique banyak hal yang unik dan bahkan konyol untuk diceritakan. Dari masalah pertemanan sampai masalah operadional di lapangan semua ada. Salah kata bisa tarik kurkit. Emosi dan harga diri kadang harus diturunkan untuk mengerem kegaduhan.

Penugasan kontingen Indonesia berbeda beda ada yang di Maputo ada di propinsi Sofala, propinsi Namphula dan propinsi Thete. Saya bersama mayor burhan bertugas di post Muanza profinsi Sofala. Muanza merupakan semacam kecamatan yang berada kurang lebih 200 km dari Beira ( ibu kota propinsi Sofala).

Dua pertiga perjalanan ditempuh dalam kondisi jalan tanah yang dikeraskan berpasir dan berdebu saat kemarau dan becek saat musim penghujan tiba. Beira sampai wilayah Dondo saja yang beraspal ( pada waktu itu1994). Dari Dondo sampai Muanza jalan dari tanah yang dikeraskan.

Pada suatu hari ( saya lupa tanggalnya) saya bersama mayor Burhan berpatroli sambil membawa laporan ke peovince head quarter. Resminya demikian. Tidak resminya ya jalan jalan di kota agar tidak gila tinggal di hutan sabana hehehe. Pada saat kami berkendara menuju Beira, kami mendengar berita dari radio bahwa post inhamingga yaitu pos dekat persimpangan Dondo diserang gerilyawan.

Wah ini bagaimana? tanya saya kpd maor Burhan. Sudah terus saja kata Mayor Burhan. Saya tancap gas terus. Kala itu saya yang mengemudikan. Saya juga setuju dg pendapat Mayor Burhan, kalau tidak terus mau ke mana lagi. Jalan hanya itu saja satu satunya.

Balik arah tanggung nekat terus jadi pilihan. What ever will be will be lah. Pada saat sedang ngebut dalam hati yang juga rada kalut dan takut saya melihat beberapa orang ( mungkin gerilayawan) sedang menata balok2 kayu untuk menutup jalan atau membuat road block. Kira kira mereka ada 10 an orang. Yg lain saya tidak lihat.

Letnan Satu Chryshnanda bersama warga setempat

Mereka membawa parang dan ember entah buat apa. Dari jarak kira kira sudah mendekat kurangblebih 100 meter saya berteriak : ” bang pegangangan yang kuat !!!” Sambil saya tancap gas dan membunyikan klakson keras berkali kali. Mayor Burhan berteriak :” lu gila ya chrysh …”.

Orang orang yang sedang menata balok kayu itu terkejut lari berhamburan ke tepi jalan. Kayu kayu yg sedang mereka pasang untungnya kayu balok yang tidak terlalu besar dan belum banyak sehingga ketika saya taerabas mobil masih bisa berjalan dg kecepatan tinggi.

Setelah melewati daerah Inhamingga dan sampai di jalan aspal wilayah Dondo mulailah saya diomeli mayor Burhan :” lu itu ga kira kira ya Chrysh… ” apa omelanya saya lupa karena antara konsentrasi ke depan dan hati yang masih deg degan tidak bisa bercabang pikiranya.

Fokus saya sampai Beira dengan selamat. Entah apa yg mendorong saya tiba tiba menjawab :” bang kalau tidak kita terabas kita jadi sandera bang. Pos Inhamingga sudah diserang gerilyawan dan anggota pos ditawan mereka dan menunggu negosiasi. Selama jadi tawanan ya kalau selamat kalau lewat bagaimana?” Mayor burhan entah menjawab apa saya tidak dengar lagi.

Setelah masuk kota Beira hati sedikit lega karena di kota keamanan terkendali. Di luar kota sarat kendala. Di daerah operasi ternyata huruf i dan a bisa membuat rasa hati berbeda dg huruf i menjadi tenang karena terkendali. Dengan huruf a hati sebentar sebentat ” mak tratab” karena terkendala.

Kami melapor ke kantor province head quarter police. Setelah itu spt biasa jalan jalan di kota mencari makan membwli bahan makanan sbg persediaan di Muanza. Kami menginap di Indonesia house yg disewa patungan kami yang bertugas di Sofala atau di province head quarter yaitu mayor Nur Maseri dan lettu Joko lukito. Kami tinggal bbrp hari sambil menunggu situasi aman.

Kami juga kepikiran bagaimana teman teman yang berada di pos Muanza. Di sana ada speak, prokiyal dan louis cool jata. Ya semoga aman aman mereka di Muanza karena jarak Muanza inhamingga sekitar 50 km. Kawan kawan di Muanza ternyata aman aman saja dan kabar dari head quarter jalur inhamingga sudah dibuka.

Negosiasi sdh dilakukan dan tawananpun sudah dibebaskan. Kami kembali ke Muanza dg hati sedikit was was. Jangan jangan ada yg ingat mobil kami. Ternyata mereka tdk melakukan road block lagi dan kami juga happy teman2 di Muanza dalam keadaan sehat. Mereka malah berkata:” kami menghawatirkan kalian”.

Dalam hati saya berkata :” ya bagus.. kalian msh punya rasa solidaritas”. Biasanya mereka egois dan maunya dominan dan mendominasi. Karena sama sama was was mungkin itu yg membuat ada jiwa solidaritas merasa senasib menjadi sasaran dan incaran gerilyawan.

Cerita lama dari Muanza . Teriring doa buat alm bang Normaseri dan alm bang Joko lukito semoga berbahagia di Surga. Amin. (cdl) Hujan lebat menjelang dini hari
Jakarta 19 pebruari 2021

 74 total views

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *