JAKARTA – Guru Besar Institut Teknologi PLN (ITPLN), Prof. Syamsir Abduh menawarkan konsep Sustainable Graduate Employment (SGE) sebagai solusi untuk menciptakan lulusan yang cepat memperoleh karier di tengah disrupsi teknologi dan transformasi dunia kerja. Konsep SGE dinilai menjadi solusi di tengah banyaknya pengangguran lulusan perguruan tinggi.
Menurutnya, tingginya angka pengangguran di kalangan lulusan perguruan tinggi memerlukan pendekatan yang lebih komprehensif dan terintegrasi. “Penerapan konsep SGE sebagai alternatif solusi untuk menjawab tantangan tersebut,” ujar Prof. Syamsir di Jakarta, Jumat (12/6).
Menurutnya konsep SGE sangat relevan dijadikan tema penelitian, kebijakan pendidikan tinggi, maupun indikator keberhasilan institusi pendidikan, terutama dalam menghadapi disrupsi teknologi, transformasi digital, dan transisi menuju ekonomi hijau. “Persoalan pengangguran sarjana saat ini tidak semata-mata disebabkan oleh terbatasnya lapangan pekerjaan. “Karena itu, penerapan SGE membutuhkan keterlibatan berbagai pemangku kepentingan melalui strategi nasional yang terkoordinasi,” tegasnya.
Dalam konsep tersebut, ungkapnya, pemerintah berperan merumuskan kebijakan, memberikan insentif, serta menyusun perencanaan kebutuhan tenaga kerja. Perguruan tinggi bertanggung jawab mengembangkan keterampilan, inovasi, dan kesiapan karier mahasiswa sebelum memasuki dunia kerja.
Sementara itu, industri diharapkan memperluas peluang kerja sekaligus memberikan masukan terhadap penyusunan kurikulum agar sesuai dengan kebutuhan pasar. Di sisi lain, lembaga keuangan dapat mendukung melalui penyediaan skema pendanaan dan penguatan ekosistem kewirausahaan. “Keberhasilan menciptakan lulusan yang memiliki karier produktif, adaptif, dan berkelanjutan tidak dapat dibebankan hanya kepada perguruan tinggi. Seluruh elemen dalam ekosistem pendidikan dan ketenagakerjaan harus bekerja sama untuk menghasilkan SDM yang relevan dengan kebutuhan,” tegas Syamsir.

Sejalan dengan konsep tersebut, ITPLN mengembangkan program Career Guarantee Ecosystem sebagai upaya memastikan para lulusannya memiliki peluang karier yang lebih baik setelah menyelesaikan pendidikan. Wakil Rektor III ITPLN, Purnomo, mengatakan program tersebut dirancang sebagai ekosistem komprehensif yang mendampingi mahasiswa sejak awal kuliah hingga memasuki dunia kerja.
“Kami tidak ingin hanya melahirkan sarjana, tetapi memastikan mereka memiliki pelabuhan karier yang jelas. Melalui BTP-1, ITPLN membangun Student Centric Framework yang berfokus pada keselarasan antara mahasiswa, kurikulum dan fasilitas, serta jaringan industri,” kata Purnomo.
Menurut dia, ITPLN menargetkan seluruh lulusannya dapat terserap di dunia kerja dalam waktu kurang dari enam bulan setelah wisuda. Purnomo mengungkapkan ITPLN menargetkan peningkatan signifikan pada berbagai indikator ketenagakerjaan lulusan hingga 2029. Salah satunya dengan menekan angka lulusan yang belum bekerja dalam enam bulan setelah lulus menjadi kurang dari 5 persen.
“Target 2029 adalah sebuah lompatan besar. Kami optimistis dengan sistem Pass Gate dan pemantauan ketat di War Room, angka lulusan yang belum bekerja di bawah enam bulan bisa ditekan hingga di bawah 5 persen. Bahkan, kami menargetkan median gaji pertama lulusan kami dapat mencapai di atas Rp10 juta,” katanya.
Saat ini, sekitar 62 persen lulusan ITPLN telah bekerja dalam waktu kurang dari enam bulan setelah lulus. Melalui penguatan ekosistem karier tersebut, ITPLN berharap mampu mewujudkan target 100 persen Positive Career Outcome bagi seluruh alumninya dalam kurun waktu kurang dari enam bulan. (jo)








Komentar