POSKOTA.CO – Wakil Gubernur Kepulauan Riau Soerya Respationo mengatakan pemimpin bangsa harus segera “menikahi” laut untuk mampu membawa Indonesia menjadi negeri yang kuat.
“Ada ungkapan, pemimpin Indonesia disebut kuat jika menikah dengan ‘Nyai Roro Kidul’ (ratu pantai selatan). Itu artinya simbolik bahwa pemimpin harus ‘menikah’ dengan laut, baru bisa menjadikan bangsa yang dipimpinnya kuat,” ujar Soerya, dalam acara Konvensi Media Massa bertema ‘Memperkuat Ekonomi Maritim Nusantara’ yang masuk dalam rangkaian perayaan Hari Pers Nasional 2015 di Batam, Kepri, Sabtu.
Soerya mengatakan ungkapan itu selaras dengan bukti-bukti sejarah kejayaan kerajaan-kerajaan masa lalu di Indonesia, yang menjadikan lautan sebagai pilar-pilar kesejahteraan. “Kerajaan Sriwijaya dulu menguasai jalur perdagangan Selat Malaka, Laut China Selatan dan Laut jawa,” ucap dia.
Selama ini, kata Soerya, Indonesia selalu membelakangi lautan. Padahal, presiden pertama bangsa Soekarno pernah menyatakan agar Indonesia menguasai lautan. “Bung Karno pernah bilang negara kita hanya bisa besar dan kuat apabila ada penguasaan mutlak atas lautan. Kita bersyukur pemerintahan saat ini sudah memiliki komitmen itu,” ujar dia.
Terlebih, kata dia, negara-negara maju juga tidak sedikitpun memberikan toleransi terhadap ancaman maritim, sebab ancaman itu dipersepsikan sebagai serangan langsung terhadap kepentingan negara. “Negara maju anggap wilayah laut ‘living space’ (ruang kehidupan),” tutur dia.
Lebih jauh terkait konsep kemaritiman yang tengah digaungkan pemerintahan Jokowi-JK, Soerya memandang bahwa sudah saatnya pulau-pulau terluar Indonesia dijadikan halaman depan negeri ini.
“Ada total 92 pulau terluar, 19 di antaranya ada di Kepri. Pulau-pulau ini harus menjadi halaman depan rumah kita,” ujar dia.







Komentar