oleh

Menyia-nyiakan Amanah

AMANAH merupakan sifat sangat terpuji. Jika dia terdapat pada diri seseorang maka hal itu menandakan kebahagiaan akan menaungi kehidupannya selamanya. Orang itu akan dicintai Allah Swt., dicintai Rasulullah Saw, serta dicintai seluruh manusia.

Lebih lanjut, dengan sifat terpuji inilah Rasulullah Saw. dikenal di kalangan anggota kaumnya jauh sebelum prediket kenabian disematkan Allah Swt. di dada beliau. Sifat jujur dan amanah yang terpatri kuat inilah yang menyebabkan orang-orang kafir, sekalipun tidak beriman kepada ajaran Islam, tetap mempercayakan urusan serta penitipan harta benda mereka kepada Rasulullah Saw.

Melihat urgensi amanah yang sangat besar dalam kehidupan bermasyarakat inilah Rasulullah Saw. seringkali berwasiat kepada umatnya untuk memegang teguh sifat ini. Beliau bahkan menggolongkan orang-orang yang tidak dapat menjaga amanah yang dipikulkan kepadanya sebagai orang munafik yang mesti diwaspadai sepak terjangnya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah berfirman, “Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil.” (QS. An-Nisa, 4:58)

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam telah bersabda, “Apabila amanat disia-siakan maka tunggulah saat kehancurannya. Salah seorang sahabat bertanya, “Bagaimanakah menyia-nyiakannya, hai Rasulullah?” Rasulullah Saw. menjawab, “Apabila perkara itu diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya.” (HR. Bukhari).

Nabi Saw menyebutkan tentang salah satu pertanda akan datangnya hari kiamat, yaitu bilamana amanat atau kepercayaan diserahkan bukan kepada ahlinya.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam telah bersabda, “Apabila suatu perkara diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya.” (HR. Bukhari).

Pada hadits pertama telah disebutkan bahwa apabila amanat diserahkan bukan lagi kepada ahlinya, maka tunggulah saat hari kiamat, yakni hari kiamat sudah dekat masanya. Dalam hadits ini dijelaskan pula bahwa bilamana suatu perkara diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya. Dalam hadits pertama makna lahiriyahnya menunjukkan kiamat *kubra* , sedangkan dalam hadits ini makna lahiriahnya menunjukkan pengertian kiamat *shughra* .

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam telah bersabda, “Apabila Allah menghendaki kebaikan kepada Amir (raja) maka Dia menjadikan untuknya seorang patih (pembantu) yang setia, apabila ia lupa, patih akan mengingatkannya dan bilamana ia ingat, patih membantunya. Apabila Allah menghendakinya selain dari itu, maka Dia menjadikan untuknya patih yang jahat, yaitu apabila ia lupa, patih tidak mengingatkannya, dan apabila ia ingat, patih tidak mau membantunya ” (HR. Imam Nasa’i).

Seorang raja atau presiden atau pemimpin bila ditakdirkan baik oleh Allah, maka Allah menjadikan baginya pembantu yang setia, bila ia keliru diluruskannya, dan bila benar dibantunya dengan tulus, sedangkan bila ia ditakdirkan buruk oleh Allah, maka Dia menjadikan untuknya pembantu yang jahat, dalam arti kata bila ia keliru dibiarkannya, dan bila benar tidak dibantunya.

Dalam hadits yang lain beliau Saw. bersabda, “Tiada sekali-kali Allah mengutus seorang nabi, dan tiada sekali-kali Dia mengangkat seorang khalifah kecuali disertakan dua kawannya. Pertama, kawan yang memerintahkannya kepada hal-hal yang ma’ruf serta memberinya semangat untuk mengerjakan perkara ma’ruf dan yang kedua, kawan yang memerintahkannya kepada hal-hal buruk serta memberinya semangat untuk mengerjakannya. Adapun orang yang di-ma’shum adalah orang yang dipelihara oleh Allah Swt. (dari keburukan tersebut).” (HR. Bukhari).

Setiap pemimpin pasti akan disertai oleh dua orang pembantunya. Yang pertama, menganjurkannya untuk berbuat kebajikan dan membantu untuk merealisasikannya. Dan yang kedua, menganjurkannya untuk berbuat keburukan serta membantu untuk mewujudkannya, karena itu hati-hatilah berhadap pembantu yang akan menjerumuskannya kedalam keburukan. Orang yang dipelihara oleh Allah terhindar dari keburukan tersebut, seperti yang dialami oleh para nabi dan rasul.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam telah bersabda, “Tiada seorang hamba diberi kepercayaan oleh Allah untuk memimpin rakyat, lalu ia tidak mengerjakan kepercayaan itu dengan niat yang tulus ikhlas (demi karena Allah) kecuali ia tidak akan menemukan baunya surga.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kecuali ia tidak dapat mencium bau surga. Makna yang dimaksud ialah bahwa ia tidak dapat masuk surga. Barang siapa yang dipercaya oleh Allah mengatur urusan suatu kaum, rakyat, tetapi ia tidak berlaku adil dalam tugasnya, maka surga itu haram baginya.

Dalam hadits yang lain Nabi Saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah Swt. akan menanyakan kepada setiap penggembala tentang apa yang telah digembalakannya, apakah dia memeliharanya ataukah menyia-nyiakannya; hingga seorang lelaki ditanyakan tentang keluarganya.” (HR. Ibnu Hibban melalui Anas r.a.).

Kelak di hari kiamat, setiap orang akan mempertanggungjawabkan semua amal perbuatan yang telah dikerjakannya sewaktu hidup di dunia. Pertanggungjawaban ini di hari kemudian melalui proses hisab yang dilakukan oleh Allah Swt. terhadap dirinya. Bilamana ia seorang pemimpin, maka ditanyakan kepadanya tentang rakyat yang dipimpinnya, apakah ia memelihara amanat terhadap rakyatnya ataukah menyia-nyiakannya. Setiap orang akan ditanyakan tentang gembalaannya sehingga seorang lelaki ditanya pula tentang keluarganya yang merupakan gembalaannya, apakah ia membawa keluarganya ke arah petunjuk ataukah ia menyesatkan dan menjerumuskan mereka.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam telah bersabda, “Tunaikan amanah yang dipercayakan seseorang kepadamu dan janganlah menghianati orang yang pernah berkhianat kepadamu.” (HR. Tirmidzi). “Tiada beriman orang yang tidak memegang amanat dan tidak ada agama bagi orang yang tidak menepati janji.” (HR. ad-Dailami). Semoga.

Karsidi Diningrat

1. Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung.
2. Sekjen FORSIMAS (Forum Silaturahmi Kemakmuran Masjid Asean) Indonesia.
3. Mantan Pengurus DKM Masjid Raya Bandung 2004 s/d 2018
4. Mantan Ketua PW Al Washliyah Jawa Barat 2010 s/d 2019.
5. Penasehat PW Al Washliyah Jawa Barat 2019 s/d 2023.
6. Anggota Pengurus Besar Al Washliyah 2015 s/d 2020.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.