oleh

Literatur, Penemuan yang Lain

POSKOTA.CO – Jika kita diminta untuk menyebutkan literatur yang sangat berpengaruh dalam membentuk kehidupan ini, maka diyakini akan dengan mudah masing-masing dapat menyebutkan berbagai jenis karya tulis, mulai dari buku ilmiah, biografi, hingga novel atau dongeng, bahkan sampai literatur dalam arti luas seperti, musik atau film.

Hal tersebut membuktikan bahwa perkembangan hidup ini tidak dapat dipisahkan begitu saja dengan literatur yang kita nikmati, baik dalam bentuk cetak, audio atau visual.

Dan kali ini, bersama dengan Jacques Derrida (1930-2004), kita akan memandang literatur sebagai sebuah penemuan dari yang-lain (Inggris: inventions of the other) dalam arti: literatur memiliki andil penting untuk membuka jalan bagi datangnya cara pandang yang-lain demi membentuk kehidupan yang sama sekali baru.

Literatur atau teks di dalam kerangka pemikiran Derrida dipandang memiliki keberanian untuk mengucapkan atau menuliskan hal-hal yang hanya dapat tercerap oleh panca indra dengan menggunakan metafora, alegori atau fabel sebagai model atau contoh (Inggris: exemplary). Sehingga hal-hal yang awalnya hanya dapat tercerap oleh indera, kini menjadi dapat dikenali oleh logika.

Sebagai contoh pertama “metafora atau alegori gua” yang digunakan oleh Platon (Republic, 375 SM) untuk menjelaskan apa yang ia cerap dengan indera mengenai tingkatan pengetahuan manusia, atau fabel dari Mesir tentang “Theuth dan Thamus” yang digunakan sebagai metafora untuk menjelaskan karakteristik dari tulisan (lihat Platon, Phaedrus, 370 SM).

Dalam hal ini kita juga dapat menyebutkan berbagai pesan bijak—tentang hidup adil, jujur, rajin, dan hemat—yang sebelumnya hanya dapat di”rasa-rasa,” tapi kini dapat dikenali oleh logika melalui buku biografi, dongeng, novel, musik, atau film.
Derrida, melalui karyanya berjudul Psyche: inventions of the other volume I halaman 1-47 (1987), menjelaskan literatur sebagai sebuah “penemuan” (invention).

Bukan dalam arti penemuan “kebenaran-yang-final,” tapi lebih kepada sebuah penemuan dari yang-lain di mana “yang-lain” ini merujuk pada cara pandang yang sama sekali baru (Inggris: novelty).

Kata “penemuan” yang dalam bahasa Latin adalah “invenire” artinya “untuk menemui,” mengindikasikan sebuah tindakan untuk mempersiapkan sesuatu di masa depan.

Dengan lain perkataan, seorang penemu (Inggris: inventor) sesungguhnya tidak sedang menemukan kehidupan saat-ini, tapi lebih tepatnya sedang menemukan kehidupan baru di masa depan.

Sebagai contoh Platon dengan alegori gua-nya. Ketika Platon memperkenalkan “alegori gua,” sesungguhnya ia tidak sedang menemukan sebuah perkembangan ilmu pengetahuan di saat itu, tapi justru sedang mempersiapkan perkembangan ilmu pengetahuan di masa depan, jauh setelah terbitnya Republic.

Namun bukan berarti perkembangan ilmu pengetahuan yang kita nikmati saat ini merupakan hasil dari penemuan Platon secara langsung. Lebih tepatnya, Platon dengan alegori gua-nya telah mempersiapkan jalan bagi perkembangan ilmu pengetahuan yang akan datang kemudian.

Hal serupa, seperti yang telah diterapkan pada Platon di atas, juga dapat diterapkan dengan contoh yang lain, seperti dalam bentuk pertanyaan berikut ini:
Pertama, “Apakah Amerika Serikat saat ini adalah hasil dari penemuan Christopher Columbus?” atau Kedua “Apakah komputer saat ini merupakan hasil penemuan Charles Babbage?”.

Bukankah akan lebih tepat jika keduanya, Columbus dan Babbage, disebutkan sebagai “pembuka jalan” bagi hadirnya kehidupan baru yang datang kemudian? Columbus adalah pembuka jalan bagi kehidupan yang sama sekali lain dibanding ketika pertama kali ia menginjakkan kaki di benua Amerika, dan mesin komputasi Babbage adalah pembuka jalan bagi evolusi mesin komputer dan bahasa program yang akan datang kemudian.

Dengan begitu, penulis buku ilmiah, penulis biografi, penulis novel, penyair, dan penggubah lagu, pertama-tama telah menemukan sesuatu yang di”rasa-rasa” oleh panca inderanya, kemudian dengan bantuan metafora, alegori atau fabel sebagai model atau contoh, sesuatu yang di’rasa-rasa” itu dikonversi menjadi teks atau literatur agar dapat dikenali oleh logika.

Namun tindakan itu tidak dapat disebut sebagai sebuah penemuan “kebenaran-yang-final,” melainkan sebuah pengantar kepada “kebenaran-yang-lain” dalam arti sebuah cara pandang lain yang terwujud melalui kehidupan yang sama sekali baru di masa depan.

“Yang-lain” di sini diartikan sebagai penemuan-kembali (Inggris: reinvent) “kebenaran” yang pertama-tama telah ditemukan oleh penulis atau penggubah yang juga merupakan sang-penemu (inventor).

Dengan perkataan lain, “kebenaran” yang telah ditemukan oleh penulis atau penggubah, ketika berada di tangan seorang pembaca atau penikmat literatur, tidak lagi menjadi “kebenaran-yang-sama” sebagaimana yang telah disajikan dalam bentuk literatur, tapi telah menjadi “kebenaran-yang-lain” sebagaimana telah ditemukan kembali (reinvent) oleh sang-pembaca yang juga telah menjadi sang-penemu.

Hal ini sangat mungkin terjadi karena “kebenaran” yang disajikan dalam bentuk literatur adalah mimikri (Yunani: mīmēsis) atau sekadar bentuk tiruan dari apa yang di”rasa-rasa” oleh sang-penemu (bandingkan dengan Dissemination, 1972, hal. 90-1).

Sedangkan apa yang di”rasa-rasa” itu sendiri masih berupa misteri, karena tidak dapat dimunculkan secara utuh melalui metafora, alegori, atau fabel. Alhasil, “kebenaran” pada literatur niscaya mendorong kemunculan “kebenaran-yang-lain” di masa depan.

Demikianlah perkembangan dari seluruh bentuk kehidupan ini dapat disingkapkan melalui andil literatur sebagai penemuan dari yang-lain.

Akhir kata, literatur manakah yang sangat berpengaruh dalam hidup Anda? Bagaimana literatur itu membentuk kehidupan Anda?. Ingatlah, bahwa pada awalnya adalah literatur, kemudian literatur itu membentuk kehidupan yang baru. Salam dekonstruksi!

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *