oleh

Ketegangan di Malam Hari Chrysh… Keluar….

POSKOTA.CO – Setelah dua bulan kami tidur di tenda beralaskan terpal, rasanya kami harus mencari tempat yang lebih aman dan nyaman. Muanza di bagian Sofala Province yang berjarak 200 km dari kota Beira, udara siang sangat panas bisa mencapai 40 derajat malam hari bisa sampai 10 bahkan pernah 5 derajat.

Kami tidur dengan sleeping bag. Tikus tanah berlarian melintasi kami yang sedang tidur seperti Jerry yang dikejar Tom. Tidak hanya sekali bahkan berkali kali. Suatu hari saya mengusulkan untuk membeli terpal menutupi rumah yg tidak beratap tidak berjendela.

Kebetulan kami mendirikan tenda di halaman rumah sudah tinggal tembok2-nya saja. Ada 5 kamar kami setiap orang bisa mendapat satu kamar dapur lumayan kamar mandi ada bathtube dan semua saluran air dan listrik putus. WC kami tetap memakai yg darurat di halaman belakang.

Atap akan kami tutup dengan terpal plastik dan ditambah dg rumput alang alang. Jendela dan pintu dengan tikar lokal. Mulailah kami korve membersihkan rumah sampai lantai nampak bersih dan layak huni. Tembok kami tdk mengecat kami biarkan apa adanya.

Bekas tembakan peluru banyak di tembok2 luar dan dalam rumah. Kami bisa menata dapur, ruag tamu kamar mandi dan memanfaatkan gentong2 plastik diisi air dari sumur umum. Kurangblebih 2 minggu kami menata rumah. Pada waktu mencari rumput saya bersama Mayor Burhan tiba-tiba diberitahu orang lokal untuk mengendap. Dan ternyata ada ratusan ekor kawanan kerbau liar yg melintas.

Kurang lebih 20 menit kami membeku diam agar tidak membuat kawanan kerbau itu terkejut. Lega rasanya setelah mereka melintas daerah kami ngarit rumput alang alang untuk atap rumah. Setelah rumah siap kami membongkar tenda. Menggulung dan merapikannya.

Letnan Satu Chryshnanda bersama warga setempat

Pada saat kami membongkar alas tenda kami semua terkejut ternyata ada kalajengking afrika yg hitam besar. Ada laba laba yang mungkin tarantula. Ada ular ular kecil bergeliatan. Banyak binatang2 entah apa namanya banyak sekali. Kami hanya berkata : ” untung tidak ada yang dientup dan digigit serangga2 itu selam dua bulan tidur di tenda”.

Kami mulai dalam kehidupan baru menempati rumah. Saya bersama mayor Burhan menyewa tempat tidur yg hanya tinggal pernya saja sbg alas tidur dengan sleeping bag. Kami menyewa 50 us dollar pertempat tidurnya. Walau nampak konyol dengan kondisi tempat tidur per usang kami tetap happy daripada harus berurusan dengan binatang2 yg dapat menambah ketegangan hidup kami.

Kami seperti biasa pagi hari melaporkan kegiatan dan situasi satu hari yang lalu dan melaporkan kegiatan patroli hari ini ke province head quarter. Kami juga melaporkan rute patroli kami. Kehidupan kami nyaman dan merasa lbh layak daripada di tenda tidur tanpa field bed.

Pada saat kawan kami dari India ( superintendat speak dan superintendant pokriyal) pergi ke kota bersama louis cool jata dari guineau bissau, saya bersama mayor Burhan jaga di pos. Mereka ijin 2 hari tinggal di kota. Hanya saya berdua saja melaksanakan tugas post monitor yg juga ditemani pembantu lokal kami Agustino.

Kami tenang tenang saja setelah makan malam kami persiapan tidur. Sebelum tidur spt biasa saya mencoret coret tembok menghitung hari membuang sepi. Setelah itu saya masuk sleeping bag dan memakai cebo agar hangat. Baru melamunkan kondisi Indonesia yang amat nyaman apa apa ada bisa melakukan banyak hal.

Tiba tiba terdengar mayor Burhan berteriak :” chrysh ….chrysh…. ayo keluar!” ” ada apa bang?” Tanya saya. ” ayo keluar…. bahaya…”. Saya keluar dari sleeping bag dan berlari keluar. Ternyata ada angin puting beliung. Saya segera memanjat pohon mangga melepas antena dan mengamankanrepeater radio yang kami pasang agar tdk rusak.

Atap rumah beterbangan lepas semua apa yg kami bangga2-kan. Kerja dua minggu dihapus angin puting beliung. Saya bersama mayor Burhan hanya dapat menatap sedih dan kecewa. Saya memutuskan masuk sleeping bag dan yidur lagi karena hari sudah tengah malam.

Mayor Burhan teriak lagi:” chrysh …keluar…!”. Saya menjawab :” tidur saja bang. Ga usah dipikirkan rumah tidak akan roboh”. Kembali saya diteriaki untuk keluar. Saya masa bodoh saja. Tiba tiba hujan turun. Cukup lebat untung terpal plastik yang kami pasang sbg atap nglewer ke bawah. Saya tarik dan saya jadikan selimut. Mayor Burhan :” berteriak lagi kamu tidur pakai apa?” .”

Ayo bang masuk tidur saja berselimut terpal hangat aman”. ” kamu ini terlalu …”. Saya sudah tdk peduli angin puyuh hujan lebat dan teriakan Mayor Burhan. Pagi hari bangun, kamar saya sdh jadi kubangan. Air membanjiri rumah. Kami korve lagi membuat atap lagi.

Memasang antena menyetting radio merapikan yg berantakkan. Di rumah dihajar angin puyuh dan hujan lebat. Walau penuh ketegangan malam itu namun saya dan mayor Burhan tetap tertawa tawa walau hati tetap was was ” apa lagi yang akan terjadi.” (cdl) Kampoeng Semar Gong xi fat chai 12 pebruari 2021

 55 total views

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *