oleh

Kekerasan atas Nama Agama, Sadisnya Melebihi Binatang

-Komunitas-361 views

POSKOTA.CO – Kita sama sama tahu bahwa agama tidak hanya menampilkan wajah damai dan sejuk. Tapi juga wajah bengis dan beringas. Tindakan anarkis dan brutal. Jika Anda membaca novel “DaVinci Code” karya Dan Brown, adegan pembunuhan kejam dalam upaya menyucikan agama bahkan terjadi di bagian awalnya.

Sejarah semua agama diwarnai pertumpahan darah, perang dan cara cara pembunuhan amat sangat sadis, bahkan melebihi cara binatang – yang dilakukan atas nama agama! Demi membela dan atas nama agama!

Karen Armstrong dalam buku terbarunya, “Fields of Blood: Religion and the History of Violence” (London: The Bodley Head, 2014), kalangan pemeluk ketiga agama Abrahamik sering menampilkan kekerasan yang mereka artikulasikan secara keagamaan.

Dalam sejarah kekerasan—yang berlanjut sampai kini—misalnya paling menonjol adalah ‘perang suci Joshua’, penaklukan dan pembantaian kabilah Kanaan oleh bangsa Israel, 1530-1420SM; penaklukan Eropa Barat oleh Dinasti Umayyah, 710-756 dan Eropa Timur oleh Dinasti Turki Usmani, 1453-1683; Perang Salib Kristen Eropa terhadap kekuasaan Islam di Timur Tengah, 1096-1285; inquisisi Spanyol terhadap umat Islam dan Yahudi, 1478-1501; dan perang agama Eropa di antara para penganut denominasi Kristiani 1524-1648).

Sampai kini pun di abad 21 ini – praktik menganiaya, membunuh bahkan meledakkan tubuh sendiri untuk membela agama dan menghancurkan musuh agama masih dilakukan. Dalam sejarah Islam darah mengucur atas nama agama dan kepada sesama dan seagama dimulai sejak terbunuhnya ‘Ustman bin ‘Affan pada tahun 656 dan ‘Ali bin Abi Thalib pada tanun 661.

Dalam pergantian khalifah demi khalifah banyak diwarnai dengan pertumpahan darah dan perang. Bahkan ada khalifah yang dibunuh saat sedang shalat Subuh. Dan pembunuhnya hafal Al Quran. Penganut teologi kebenaran tunggal umumnya adalah motif pembunuhan itu. “Hanya agamaku dan tafsiranku yang benar. Yang lain salah dan harus mati! ”

Secara teori ajaran mengajarkan kebaikan. Namun dalam praktiknya ada kekerasan dan tumpahan darah atas namanya. Tetap aktual apa yang dikatakan RA Kartini : “Agama memang menghindarkan kita dari dosa. Tapi berapa dosa yang kita lakukan atas nama agama?

DALAM menyoroti fenemena teranyar kebencian sektarian, sering menjadi penyebab intoleransi agama secara kronis. Penyerangan karena beda aliran meski satu agama. Perbedaan pemahaman dan praktek yang sebenarnya muncul secara alamiah dalam agama mana pun, sepanjang sejarah sering sangat pahit, keras dan kejam.

Apalagi pertikaian dan kekerasan sektarian – di masa kini – hampir selalu bermuatan politis, baik dari segi kelompok agama pelaku kekerasan maupun dari segi negara. Guru Bangsa kita, Buya Syafi’i Ma’arif menyatakan, agama semestinya mendorong terciptanya peradaban kemanusiaan dengan wajah asri keadilan, keramahan, dan toleransi.

Namun agama tidak jarang ditampilkan dengan wajah kebiadaban, kezaliman, kebengisan, kekerasan, dan minus toleransi. Karen Armstrong, penulis buku “Sejarah Tuhan”, menyatakan, kehidupan masa kini yang penuh kekerasan atas nama agama, bisa membuat orang frustrasi dan stress, dan bahkan kehilangan bagian terbaik dari kemanusiaannya.

Dunia diselamatkan oleh John lock, filsuf Eropa yang menggagas pemisahan gereja dan kerajaaan melahirkan sekularisme. Memisahkan agama dan negara.

Dan beruntung Bapak Pendiri (Faunding Fathers) bangsa kita tidak menetapkan Indonesia sebagai negara agama. Melainkan negara Panca Sila yang menghormati agama dan memberikan hak yang sama kepada semua agama. Bukan hanya satu agama semata . Meski toleransi antar umat beragama sedang terus diupayakan. Dan itu adalah tanggung-jawab kita sebagai generasi pewarisnya (Supriyanto Martosuwito)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *