oleh

Jadilah Pemimpin yang Adil

ALLAH Subhanahu Wataala telah berfirman, “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang (melakukan) perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pelajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. An-Nahl, 16:90).

Juga dalam Qur’an Surat Al-Mà’idah, 5:8), dinyatakan, “Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adilah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Orang yang adil adalah orang yang meletakkan sesuatu pada tempatnya. Atau, dengan kata lain, memberikan kepada yang berhak hak-hak mereka. Berbuatlah semaksimal mungkin atas dasar nilai-nilai keadilan pada semua aspek kehidupan kita. Dan awasilah diri kita di dalam menerapkan nilai-nilai tersebut.

Sebagai contoh, jika kita mendapat amanah sebagai pemimpin, cobalah lihat apakah kita telah berbuat adil kepada mereka, rakyat? Jika kita merasa belum cukup berbuat adil, hendaklah segera melaksanakan kesejahteraan dan keadilan untuk rakyat.

Demikian juga halnya dengan sisi-sisi lain yang menuntut kita berbuat adil di dalamnya. Dan, betapa banyak sisi-sisi yang kita dituntut untuk berlaku adil.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam telah bersabda, “Adil itu baik, lebih baik lagi bila dilakukan oleh para umara (penguasa). Dermawan itu baik, lebih baik lagi bila yang melakukannya adalah orang-orang yang berkecukupan. Sifat wara (menjauhi maksiat dan hal yang makruh) adalah baik, lebih baik lagi bila dilakukan oleh para ulama. Sabar itu baik, lebih baik lagi bila dilakukan oleh orang-orang fakir. Taubat itu baik, lebih baik lagi bila dilakukan oleh para pemuda. Dan malu itu baik, lebih baik lagi bila dilakukan oleh kaum wanita.” (HR. ad-Dailami melalui Umar r.a.).

Perbuatan yang baik apabila dilakukan oleh orang-orang yang lebih tepat, hasilnya akan lebih baik.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya orang-orang yang adil, yaitu yang bersikap adil dalam mengadili dan kepada keluarga maupun rakyatnya, (di hari kiamat kelak) berada di dalam tempat dari cahaya. Dia juga ditempatkan di sisi kanan Allah, yang kedua tangan-Nya adalah kanan.” (HR. Muslim)

Khalifahur Rasidun ke 4 Ali bin Abi Thalib berkata, “Allah menjadikan keadilan sebagai dasar pijakan bagi manusia, penyucian bagi dosa dan kelaliman, dan kemudahan bagi Islam.” “Keadilan adalah tatanan urusan.”

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Tiada seseorang pun yang diangkat menjadi pemimpin bagi sepuluh orang atau lebih kecuali ia datang di hari kiamat dalam keadaan terikat oleh rantai dan belenggu.” (HR. Abu Hurairah r.a.).

Barang siapa yang menjadi pemimpin orang banyak, maka kelak di hari kiamat ia akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya. Seandainya seseorang berlaku adil dalam kepemimpinannya maka ia termasuk orang yang beruntung. Akan tetapi sebaliknya, jika ia tidak berlaku adil dan bahkan berlaku zalim, maka kecelakaanlah yang akan menimpanya.

Dalam hal ini Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah bersabda, “Sesungguhnya Allah Swt. akan menanyakan kepada setiap penggembala tentang apa yang telah digembalakannya, apakah dia memeliharanya ataukah menyia-nyiakannya; hingga seorang lelaki ditanyakan tentang keluarganya.” (HR. Ibnu Hibban melalui Anas r.a.).

Kelak di hari kiamat, setiap orang akan mempertanggungjawabkan semua amal perbuatan yang telah dikerjakannya sewaktu hidup di dunia. Pertanggungjawaban ini di hari kemudian melalui proses hisab yang dilakukan oleh Allah Swt. terhadap dirinya. Bilamana ia seorang pemimpin, maka ditanyakan kepadanya tentang rakyat yang dipimpinnya, apakah ia memelihara amanat terhadap rakyatnya ataukah menyia-nyiakannya. Setiap orang akan ditanyakan tentang gembalaannya sehingga seorang lelaki ditanya pula tentang keluarganya yang merupakan gembalaannya, apakah ia membawa keluarganya ke arah petunjuk ataukah ia menyesatkan dan menjerumuskan mereka.

Janganlah keteguhan kita dalam memegang akhlak Islam dimaksudkan untuk mewujudkan kepentingan-kepentingan diri, dengan cara menipu sesama kita melalui penampilan akhlak yang baik. Akan tetapi, jadikanlah keteguhan kita dalam berpegang kepada nilai-nilai akhlak sebagai suatu kebiasaan yang tidak akan kita tinggalkan. Karena, cara hidup akan mengalir pada urat nadi kita, pada adat dan kebiasaan kita, serta pada sifat-sifat kita. Bentuklah diri kita dengan akhlak yang mulia. Dan, berakhlaklah yang mulia demi berbuat kebajikan kepada sesama kita sebagai hamba Allah, dan tentunya dengan tujuan memperoleh keridhaan Allah SWT.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Tiada seseorang pun yang berkuasa atas suatu perkara dari umat ini (umat Muhammad), lalu ia tidak berlaku adil di antara mereka, kecuali Allah Swt. akan mencampakkannya ke dalam neraka.” (HR. Ma’qil ibnu Sinan).

Barang siapa yang dipercaya oleh umat ini untuk menjadi pengurus atau pemimpin mereka, lalu ia tidak berlaku adil dalam menjalankan tugasnya, maka pasti ia akan dicampakkan oleh Allah Swt. ke dalam neraka dengan muka di bawah.

Hadits ini memperjelas pengertian yang terkandung dalam hadits sebelumnya yang mengatakan bahwa tidak sekali-kali seseorang dipercaya untuk menjadi pemimpin dari sepuluh orang atau lebih, melainkan kelak di hari kiamat ia akan didatangkan (ke hadapan Allah) dalam keadaan terikat dengan belenggu dan rantai. Makna yang dimaksud ialah bagi pemimpin atau Imam yang berlaku tidak adil terhadap rakyatnya karena sesungguhnya seorang pemimpin atau Imam yang adil memperoleh pahala yang sangat besar dan berada dekat di sisi-Nya kelak di hari kiamat.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam telah bersabda, “Tiada suatu penguasa pun yang menguasai perkara orang-orang muslim, lalu ia mati padahal ia telah berbuat curang terhadap mereka melainkan Allah nengharamkannya untuk masuk surga.” (HR. Syaikhan melalui Ma’qal ibnu Yasar al-Muzanni).

Barang siapa yang menangani urusan kaum muslimin, sedangkan ia selalu menipu (mengelabui) mereka sehingga ia mati, maka Allah mengharamkan surga baginya. Atau dengan kata lain, ia termasuk ahli neraka yang abadi jika ia menghalalkan perbuatannya itu.

Akhlak seseorang tidak dapat dinilai tatkala dia sedang sendirian, jauh dari manusia dan tidak ada kontak dengan mereka. Akhlak seseorang hanya bisa dinilai tatkala dia melakukan hubungan dengan manusia, dan akhlaknya diletakkan pada timbangan realita kehidupan. Betapa banyak orang yang berakhlak tatkala sedang jauh dari manusia, namun tatkala dia melakukan kontak sosial maka tersingkaplah jatidirinya yang sebenarnya.

Rasulullah Saw. bersabda, “Khianat paling besar adalah bila seorang penguasa memperdagangkan rakyatnya.” (HR. Athabrani).
Wallahu A’lam bish Shawab.

* Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung.

* Anggota Pengurus Besar Al Washliyah di Jakarta.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *