oleh

Independent Day

POSKOTA.CO – Pada saat menjelang 17 Agustus 1994 kami yang bertugas di Mozambique berupaya bergabung di kedutaan Indonesia di zimbabwe. Paspor kami untuk dikumpulkan di pos Namathanda untuk diurus visanya. Pos Namathanda kurang lebih 100 km dr Beira. Kami dari pos Muanza bersama mayor Burhan.

Teman teman yang lain mengurus dari jalur mereka. Pada tg 16 Agustus saya bersama mayor Burhan dari Beira ternyata teman teman anggota kontingen yang lain sudah berangkat terlebih dahulu. Mereka mengatakan paspor kami di pos Namathanda.

Hari sudah siang pos perbatasan ditutup pukul 16.00 kami harus menyewa kendaraan menuju perbatasan. Jarak perbatasan Mutare dg Beira kurang lebih 400 km. Kami berputar putar mencari mobil sewaan. Akhirnya ada seorang kakek yg berasal dari pakistan yang sanggup mengantar kami ke perbatasan.

Letnan Satu Chryshnanda bersama warga setempat

Kami berjalan dg hati was was apakah masih bs menembus jarak yg cukup jauh dalam waktu yang hanya tersisa 3,5 jam. Kami awalnya ragu dg kemampuan kakek tua itu. Ternyata beliu jago mengendarai kendaraanya dan dalam waktu 3 jam kami sudah sampai di perbatasan.

Sesampai di perbatasan kami langsung menuju stasiun Mutare untuk naik kereta api menuju Harare ibu kota Zimbabwe. Perjalanan dari Mutare menuju Harare kurangblebihb10 jam. Pukul 05.30 kami sudah sampai di Harare. Melihat lalu lintas yang padat hati kami spt miris kaget dan ada rasa takut.

Selama di Muanza kami jarang ke kota melihat metropolitan serasa orang udik masuk kota. Kami menuju kantor kedutaan Indonesia, ternyata teman teman berada di rumah staf kedutaan. Dan kami menyusul untuk mandi dan berganti baju PDU untuk upacara hari kemerdekaan. Mohon maaf nama nama staf kedutaan saya lupa.

Bapak duta besar waktu itu bapak Suteja Kartawijaya. Upacara berjalan dg hidmat dan kami semua merasa bahagia walau jauh dari tanah air. Hidangan masakan dan dekorasi membuat meriah dengan suasana Indonesia di tanah Afrika. Selesai acara peringatan hari kemerdekaan RI, kami berencana berjalan jalan di kawasan wisata Zimbabwe.

Saya mayor Burhan mayor Jhoni samosir menuju elephant hill dan Victoria falls air terjun terluas di dunia dari aliran sungai Sambesi. Perjalanan menuju kawasan tsb kami harus menempuh bbrp kota yang cukup jauh. Perjalan kami dimulai malam hari naik kereta api dan tidur di perjalanan.

Siang hari berputar putar di kota yang kami singgahi malam harinya kami lanjut lagi demgan kereta api. Suasana Zimbabwe dg Mosambique sangat berbeda dan alamnyapun banyak batu batu besar bertumpuk. Perjalanan cukup menyenangkan. Suatu hari mayor Burhan mengusulkan perjalanan siang hari.

Kami tidak tahu akan naik kendaraan apa, informasi traveling masih sangat terbatas. Kami bertiga mencoba menghentikan truk trailer besar dan kami ijin menumpang ternyata diijinkan. Di belakang kursi pengemudi ada ruang untuk tidur dan kursi samping pengemudi cukup bagi 2 orang.

Brijen Pol Chryhnanda DL saat berpangkat Letnan satu Satu

Saya memilih tidur. Mayor Burhan dan Mayor Jhony duduk di depan. Saya waktu itu jadi teringat film BJ and the Bear pengemudi truk dg simpansenya. Perjalanan kami sangat luar biasa tak terbayangkan tanpa informasi jelas modal nekat sampai juga dan kami kembali demgan selamat.

Victoria falls menjadi pariwisata luar biasa yg diketemukan penjelajah orangberopa yg menduniakan. Mungkin kalau sekarang memviralkannya. Demikian juga makna merdeka bagi suatu bangsa menjadikan bangsa itu mendunia.

Merdeka dari belenggu penjajahan membuat mampu hidup tumbuh dan berkembang dan terangkatbharkat dan martabatnya. Konflik internal dan perang saudara membuat kehancuran dan keterbelakangan. Bung karno mengatakan : ” perjuangku lebih mudah karena melawan penjajah. Tetapi perjuangan kalian akan lebih berat dari karena melawan saudaramu sendiri”.(cdl) Banjarratna dalam kesunyian 13 pebruari 2021

 107 total views

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *