oleh

Guru, Seni dan Kebudayaan pada Pendidikan Dasar

POSKOTA.CO – Seni budaya sebagai ikon peradaban bangsa. Sudahkah menjadi pembahasan dan pembicaraan serius pada tingkat pusat hingga daerah untuk adanya transformasi, kaderisasi, apresiasi hingga penumbuhkembangannya? Pasti jawabannya sudah. Memang sudah ada dan ada di mana mana.

Namun apakah sudah memenuhi standar dan dapat dijadikan andalan agar seni budaya mampu bertahan hidup tumbuh dan berkembang? Jawaban ini antara sudah dan belum bisa menjadi refleksi keraguan. Sudah ada namun belum maksimal atau memenuhi standar.

Pendidikan dasar menjadi sangat penting sebagai fondasi pendidikan pendidikan selanjutnya. Membangun suatu lembaga pendidikan tentu memerlukan political will yang kuat yg berpihak kepada kemanusiaan dan patriotisme bagi bangsanya.

Pendidikan akan kuat tatkala guru dan sistem sistem pendidikan pendukungnya boleh dikatakan mampu menjawab pertanyaan dan tantangan di atas. Setidaknya dapat dimulai dari para gurunya.

Berapa persen dari guru yg ada memang mencintai dan bangga atas pekerjaannya sbg guru? Para guru pendidikan dasar seringkali hanya sbg sambilan atau pilihan akhir drpd tdk ada yg lain.

Sebenarnya banyak guru guru pendidikan dasar yg bermental patriot dan pendidik bagi anak anak di kawasan2 terpencil atau kawasan yg kurang mampu. Mereka dg tulus iklas memberikan pikiran tenaga bahkan hatinya bagi pendidikkan. Secara materi tentu sangat jauh dari kata cukup. Para pejuang kemanusiaan ini karena ketulusan hatinya mereka terus bekerja. Terlepas mendapat perhatian atau tidak.

Pendidikkan dasar sbg fondasi pendidikan selanjutnya merupakan pendidikan karakter. Mendidik anak untuk berani bertanya, kritis, memghayati dan menemukan. Tentu bukan hafalan yg diutamakan. Salah satu contoh pendidikan seni.

Seni suara misalnya anak anak sbatas menyanyi namun menghayati dan merasakan shg mampu membaca tangga nada pd not angka maupun not balok. Seni rupa imajinasi anak anak dimotivasi didorong dikenalkan dan bisa mencicipi keindahan karya karya sniman di kotanya hingga tingkat dunia.

Seni tari demikian juga untuk dpt merasakan menikmati keindahan gerak dan maknanya. Seni sastrapun dpt dimotivasi untuk belajar menulis dan membaca karya karya sastra walau disederhanakan dan diambil point pentingnya.

Seri Pustaka Dasar ada sekitar 60 an buku dg ilustrasi yg apik terbitan th 1980 misalnya. Seri buku tsb menunjukkan sesuatu yg penting dan rumit namun secara singkat padat dan jelas dpt mjd jembatan imajinasi bahkan mjd memori yg kuat bagi anak2.

Di era kekinian tentu cara dan modelnya akan lbh kreatif dan disesuaikan scr dinamis. Cara manual pun sebenarnya msh bs efektif tatkala terkendala berbagai hal msl dana salah satunya. Pada pelajaran seni sebagai olah rasa dpt diikuti juga untuk olah raga, pelajaran2 logika dsb. Pada prinsipnya sama namun yg dipentingkan adalah bgm model transformasi shg anak 2 tercerahkan termotivasi dan mampu berimajinasi serta berkreasi.

Kembali pada guru sbg kunci pendidikkan. Tatkala para guru larut atau hanyut idealisme dan patriotismenya mungkin dampak terberat ada para anak didiknya. Murid ini akan membangga banggakan gurunya. Bagaimana jika para gurunya lesu krn berbagai suport bagi guru mampu mjd ikon atau simbol dan sumber pencerahan meredup byar pet bahkan hampir2 padam.

Para guru perlu mendapatkan dorongan dan dukungan untuk memahami dan menghayati ttg seni dan kebudayaan. Mengapa ? Karena seni dan kebudayaan ini ikon peradaban. Ikon warasnya suatu bangsa yg sadar bahwa sumber daya manusia adalahbaset utama bangsa. Pendidikan seni budaya sejak usia dini menyelamatkan anak bangsa. Bentuknya spt apa, dpt dikembangkan sesuai dg corak masyarakat dan kebudayaannya.

Seni budaya bukan dihafalkan melainkan dijadikan dialog dan transformasi serta penghayatan akan makna yg memerlukan daya imajinasi. Dan para guru kuncinya. Guru mmg orang orang biasa namun beban tuntutan dan harapan ditumpahkan padanya di situlah guru menjadi luar biasa. Belum lagi hasil didiknya yg mampu melampauinya dan mjd generasi penerus bagi nusa bangsa dan masyrakatnya.(CDL) Jakarta 17 April 2021

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *