oleh

Siswa Harus Memahami Bakatnya jika Ingin Tempuh Pendidikan Vokasi

POSKOTA.CO-Sebelum melanjutkan ke pendidikan vokasi  siswa hendaknya benar-benar memahami bakat yang dimilikinya. Pasalnya jika menempuh pendidikan vokasi tanpa didukung passion maka hanya akan menghasilkan out put yang tidak kompeten.

“Percuma dapat ijazah tetapi tidak kompeten, sama saja tidak memiliki keahlian,” kata Wikan Sakarinto, Dirjen Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam Webinar dengan tema Sukses Masa Depan Melalui Sarjana Terapan, Sabtu (30/1/2021).

Menurut Wikan, meskipun pendidikan vokasi terus dianjurkan, tetap saja harus didukung dengan siswa yang memiliki  bakat untuk belajar pada lembaga pendidikan vokasi. Baik untuk SMK, jenjang diploma, maupun sarjana terapan.

Bakat tidak hanya akan menentukan tingkat keahlian yang dikuasai oleh siswa atau mahasiswa. Tetapi  juga penting untuk meniti karier etelah lulus pendidikan.

Seseorang yang bekerja sesuai  bakatnya  akan bekerja secara ikhlas, dengan rasa gembira. Ia juga akan terus berusaha untuk terus memperdalam bidang keahliannya.

Bekerja  dengan bahagia apalagi digaji, maka ia akan terus berupaya mengembangkan diri tanpa ada paksaan. Bahkan ia akan menjadi pembelajar mandiri selama hidupnya.

Wikan mengungkapkan saat ini minat para siswa  untuk belajar pada pendidikan vokasi terus meningkat. Oleh karena itu perguruan tinggi didorong  baik  universitas, politeknik maupun institut untuk meng-up grade D3 menjadi D4 atau sarjana terapan.

Sarjana terapan  merupakan  link dan super match dengan dunia kerja dan dunia industri paling lengkap. Bisa aplikatif, entrepreneur tetapi juga dapat menjadi mentor, supervisor.

Dalam  meng-up grade D3 menjadi D4 atau sarjana terapan tentu harus memenuhi sejumlah syarat yang cukup ketat. Di antaranya kurikulum yang disusun dengan industri, dosen dari praktisi, sarana prasarana yang memadai, dan komponen lainnya.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi

Dalam webinar juga dihadirkan Menhub Budi Karya Sumadi. Dalam sambutannya Budi Karya memberikan apresiasi tinggi terhadap Kemendikbud yang telah berinisiasi memperkuat pendidikan vokasi. Sebab pendidikan vokasi adalah jawaban yang tepat untuk menjawab kebutuhan SDM yang kompeten di masa depan.

Menurut Menhub, sekitar 24 persen atau 63,4 juta penduduk Indonesia adalah anak-anak muda. Tentu harus dipikirkan bagaimana kesempatan kerja bagi mereka tersedia lebih banyak.

Untuk meningkatkan kualitas pendidikan vokasi  dibutuhlah langkah-langkar strategis dan serius. Tujuannya agar lulusan pendidikan vokasi memiliki kompetensi sesuai kebutuhan pasar tenaga kerja.

Sementara itu VIP of Marketing JNE Eri Palgunadi mencontohkan bagaimana perusahaannya membutuhkan tenaga terampil lulusan vokasi bidang logistik dalam jumlah yang cukup besar. Pada 2007 misalnya, JNE hanya memiliki karyawan sekitar 2.100 orang. Tetapi jumlah tersebut meningkat pesat menjadi 27.000 orang pada awal 2021 ini.

Kebutuhan tenaga kerja bidang logistik ini awalnya hanya dipenuhi oleh akademi yang dimiliki PT Pos Indonesia. Tetapi ia bersyukur karena  sekarang banyak lembaga pendidikan tinggi dan SMK yang membuka jurusan logistik.

Hal senada juga disampaikan Rektor Universitas Al Azhar Indonesia Asep Saefudin. Ia mengingatkan bahwa hampir semua negara maju memiliki pendidikan vokasi yang kuat sehingga  pendidikan vokasi di Indonesia diharapkan juga bisa diperkuat. (*/fs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *