POSKOTA. CO – Anggrek (Orchidaceae) merupakan salah satu famili tanaman hias terbesar di dunia. Tumbuhan yang memiliki karakter yang sangat bervariasi dan bernilai ekonomi tinggi. Diperkirakan jumlah spesies dalam famili Orchidaceae mencapai sekitar 30,000 spesies, lebih dari 29,000 spesies sudah didaftarkan di Royal Society Horticulture (RHS).
Sekitar 5,000 spesies anggrek diperkirakan tersebar di wilayah Indonesia. Nilai bisnis anggrek dunia pada tahun 2020 sekitar 5 juta USD dan diperkirakan akan meningkat menjadi sekitar 7 juta USD pada tahun 2027 dengan peningkatan CAGR 2021-2027sebesar 4.67 persen.
Meskipun Indonesia memiliki kekayaan plasma nutfah anggrek yang tinggi, ternyata impor anggrek Indonesia hingga tahun 2019 cenderung meningkat, terutama impor dalam bentuk tanaman, mencapai 2 juta USD pada tahun 2019.
Hal ini menunjukkan peluang pasar anggrek dalam negeri cukup tinggi dan belum dapat dipenuhi dari produsen dalam negeri. Dengan demikian, peningkatan produksi bibit anggrek dalam negeri dengan jenis yang memenuhi selera pasar masih perlu ditingkatkan.
Sebagian besar anggrek untuk pasar di Indonesia diimpor dari Thailand 61.66 persen dan Taiwan 35.28 persen.
Bernilai Tinggi
Prof. Dr. Dewi Sukma, SP., MSi saat ditanya Poskota. Co, apakah anggrek liar yang menempel di pohon bisa bernilai ekonomi tinggi jika dia memiliki karakter yang menarik
pada Kamis 27 Juli 2023 mengatakan, jika merupakan spesies yg sudah langka, akan bernilai tinggi.
“Jika karakter florikulturanya belum bagus, kita perlu perbaiki dulu karakternya melalui kegiatan pemuliaan tanaman, nilai ekonominya bisa ditingkatkan. Di samping itu anggrek tersebut bisa saja memiliki manfaat lain seperti khasiat obat yang perlu kita teliti lebih lanjut,” kata Prof Dewi.
Ketika ditanya 5.000 species anggrek di Indonesia sebarannya diwilayah mana dan species anggreknya unggul punya nilai jual kompetitif, Prof Dewi menegaskan, hampir semua pulau-pulau besar di Indonesia memiliki anggrek asli di hutan-hutannya.
“Namun sudah banyak yang dijarah dari hutan. Diwilayah ada spesies-spesies khas seperti Phalaenopsis Mentawai dari kepulauan Mentawai, Phal Violaceae Sumatera yang berbunga pink dan wangi,”tegasnya.
Menurutnya dari Kalimantan terkenal antara lain anggrek hitam Coelogyne pandurate dan spesies-spesies lainnya. Dari Sulawesi banyak spesies Phalaenopsis amboinensis, dari Papua banyak sekali spesies Dendrobium berukuran2 besar.
“Salah satu penyilang anggrek Dendrobium di Malang Jawa Timur sudah berhasil mengembangkan varietas unggul Dendrobium. Jenis yg bernilai ekonomi tinggi itu sebagian besar dalam Genus Phalaenopsis, Dendrobium, Vanda, Coelogyne, Paphiopedilum, Cattleya, Cymbidium, Oncidium,”ucapnya.
Kebutuhan Dalam Negeri
Belajar dari Thailand dan Taiwan, apa yang paling prioritas yang harus dilakukan Indonesia agar mampu memenuhi kebutuhan anggrek dalam negeri.
Atas pertanyaan ini, Prof Dewi mengatakan, karena kita lambat belajar, tidak banyak yang bekerja di bidang ini, sehingga ke depan kita perlu memperbanyak lagi orang-orang yang mau menekuni bidang anggrek. Dukungan terhadap penelitian dibutuhkan secara continue.
“Saya teliti spesies anggrek dari genus Phalaenopsis dan juga hibridanya. Kelebihan anggrek Phalaenopsis, karena daya tahan bunga lama, bisa bertahan 2-3 bulan, sehingga konsumen dapat menikmati bunga dalam waktu yang lebih lama. Kelebihan lain, harga anggrek tidak pernah turun, malah cenderung naik, jadi insya Allah petani tidak rugi,” tegasnya.
Ketua Program studi magister pemuliaan dan bioteknologi tanaman Faperta IPB Univercity ini menambahkan, jenis anggrek di Indonesia Timur, khususnya Papua yang banyak adalah dari genus Dendrobium.
Ada berbagai spesies dari seksi spatullata yang sudah dieksplorasi oleh salah satu mahasiswa program doktor di Silvikultur IPB.
Apakah diminati di Eropa? Kalau kita mendapatkan anggrek yang bagus, banyak yang berminat, pasarnya masih sangat besar, perlu kemampuan untuk penyediaan bibit yang continue, berkualitas, dan berdaya saing.
“Jenis angrek langka yang masih masuk dalam Cites dibatasi perdagangannya. Karena itu teknologi perbanyakan diperlukan untuk massalisasi bibit, sehingga dapat menyuplai pasar secara continue,” ujar chief editor jurnal holtukultura Indonesia ini. (yopi)







Komentar