POSKOTA.CO – Pengamat politik Universitas Al-Azhar Indonesia, Ujang Komarudin menilai aksi demo mahasiswa yang dilakukan BEM SI merupakan dampak dari ketidaktegasan Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengenai isu 3 periode.
Menurut Ujang, mahasiswa masih ragu dengan ketidaktegasan Jokowi soal 3 periode. Seharusnya Jokowi secara tegas segera membuat pernyataan kepada mahasiswa dan seluruh rakyat Indonesia. Bahwa pada masa kepemimpinannya tidak akan ada dan tidak boleh ada amandemen konstitusi.
“Jika Jokowi bersikap tegas mengungkapkan itu ke publik, tentu tidak akan membuat polemik di masyarakat. Ketidakjelasan Jokowi soal tiga periode ini membuat suasana politik memanas,” ungkap Ujang, Senin (11/4/2022).
Lebih lanjut Pengamat Politik Universitas Al-Azhar Indonesia, Ujang Komarudin mengungkapkan Jokowi sebagai pemimpin negara, semestinya bisa menyampaikan janji bahwa tidak akan ada amandemen konstitusi. Karena diketahui pada rapat kabinet lalu tidak ada yang menyinggung soal 3 periode.
Dijelaskannya, substansi Jokowi 3 periode dengan penundaan Pemilu atau perpanjangan masa jabatan Presiden itu sangat berbeda. Jika penundaan atau perpanjangan masa jabatan presiden itu pemilunya diundur, artinya pemilunya bukan di 2024.
“Namun jika Jokowi 3 periode itu Pemilu tetap di 2024. Tapi Jokowi ikut jadi capres lagi, ikut Pemilu lagi. Kedua-duanya butuh amandemen. Makanya saya usulkan kepada Jokowi untuk menyampaikan kepada publik dimana pada masa kepemimpinannya menjadi Presiden, tidak boleh ada dan jangan ada amandemen,” harapnya.
Pengamat politik Universitas Al-Azhar Indonesia, Ujang Komarudin juga berharap agar masyarakat tidak terprovokasi oleh pihak tertentu dalam demo mahasiswa dan elemen masyarakat tersebut. (miv/fs)







Komentar