oleh

Tertidur saat Sidang Eksepsi, Djoko Tjandra Ditegur Hakim

POSKOTA.CO –  Nampak tertidur saat berlangsung sidang eksepsi atau keberatan atas dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU), terdakwa mantan buronan kasus korupsi pengalihan hak tagih (cessie) Bank Bali, Djoko Soegiarto Tjandra alias Djoko Tjandra ditegur majelis hakim di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Selasa (20/20/2020).

Teguran Ketua Majelis Hakim Muhammad Sirad ini karena melihat dalam layar virtual, Djoko Tjandra yang ditahan di Bareskrim Mabes Polri tersebut tertidur saat tim kuasa hukum menyampaikan eksepsi atas dakwaan JPU menyangkut pemalsuan surat jalan.

“Sebentar. Terdakwa, diminta agar tidak tidur. Dengar tidak, terdakwa diminta tidak tidur.” sela Sirad. Atas teguran ini Djoko yang awalnya duduk dalam posisi bersandar ke kursi merubah posisi duduknya menjadi tegak menghadap sorot kamera web. Djoko pun lalu  nampak serius dan tidak lagi memalingkan wajahnya dari sorot kamera web.

Usai menyampaikan teguran, tim kuasa hukum Djoko Tjandra kembali melanjutkan pembacaan eksepsi. Pada intinya tim kuasa hukum menilai dakwaan JPU tidak cermat.

“Surat dakwaan tidak cermat dan harus batal demi hukum,” tutur satu tim kuasa hukum Djoko Tjandra.

Dalam kasus ini Djoko Tjandra yang  buron sejak 2009 dituduh jaksa telah membuat surat jalan palsu. Hal ini dilakukan bersama-sama dengan terdakwa  Brigadir Jenderal Polisi Prasetijo Utomo dan pengacara Anita Dewi Anggraeni Kolopaking (diadili terpisah).

Menurut jaksa hal ini dilakukan  berawal saat Djoko Tjandra berkenalan dengan Anita di kantor Exchange lantai 106, Kuala Lumpur, Malaysia. Ketika itu Djoko yang berstatus buronan oleh Kejaksaan Agung ingin menggunakan jasa Anita untuk menjadi kuasa  hukumnya dan berencana minta bantuan untuk mengajukan upaya hukum Peninjauan Kembali (PK) ke Mahkamah Agung (MA) dengan Nomor 2PK/Pid.Sus/2009 tanggal 11 Juni 2009.

Anita Dewi Kolopaking menyetujui dan dibuatlah surat kuasa khusus tertanggal 19 November 2019. Pada April 2020, Anita mendaftarkan PK Djoko Tjandra di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Namun permohonan itu ditolak lantaran Anita tak bisa menghadirkan Djoko Tjandra selaku pemohon.

Djoko Tjandra yang saat itu berada di luar negeri dan tidak ingin diketahui keberadaannya, akhirnya minta Anita untuk mengatur kedatangannya ke Jakarta dengan mengenalkan diri sebagai sosok Tommy Sumadi.

Tommy kemudian mengenalkan Anita kepada Brigjen Pol Prasetijo yang saat itu menjabat sebagai Kepala Biro Koordinasi dan Pengawasan PPNS Bareskrim Polri yang kemudian disetujui membuat surat jalan, surat keterangan kesehatan dan surat-surat lain terkait dengan pemeriksaan virus Covid-19.

Jaksa menyebutkan dengan menggunakan surat jalan ini jelas telah merugikan Polri secara immateriil mengingat terdakwa Djoko Soegiarto Tjandra adalah terpidana perkara korupsi dan menjadi buronan Kejaksaan Agung,” kata jaksa.

  1. “Terdakwa telah melanggar Pasal 263 ayat 1 dan 2 KUHP, Pasal 426 KUHP, dan Pasal 221 KUHP,” ucap jaksa sambil.menyebutkan terdakwa terancam hukuman lima tahun penjara. (BW)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *