oleh

Sidang Kasus Penipuan Fikri Salim di PN Cibinong, Empat Saksi Beratkan Terdakwa

POSKOTA.CO – Sidang lanjutan kasus penggelapan dan penipuan uang miliaran milik perusahaan PT Jakarta Medica Center (JMC) dengan terdakwa Fikri Salim Cs kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Cibinong Kelas IA Kabupaten Bogor, pada Senin (30/11/2020).

Sidang yang beragendakan pemeriksaan empat saksi dari pihak aparatur Pemerintahan Kabupaten (Pemkab) Bogor, yakni mantan Camat Cisarua Bayu Rahmawanto dan mantan pensiunan Lurah Cisarua Endang Sumantri.

Bayu Rahmawanto dalam kesaksiannya menyebut, dirinya yang menandatangani surat izin warga yang sebatas hanya mengetahui itu terjadi pada sekitar 2018 saat ia masih menjabat sebagai Camat Cisarua. Penandatanganan itu dilakukannya atas dasar adanya penyodoran surat izin warga dari Endang Sumantri yang saat itu masih menjabat sebagai lurah Cisarua.

“Saya disodorkan untuk menandatangani surat izin warga yang berkasnya langsung dibawa oleh Lurah Cisarua yakni Pak Endang Sumantri,” kata Bayu di persidangan, dipikir berkas itu sudah lengkap lantaran sudah ada tanda tangan dari warga setempat, ketua RT dan RW hingga lurah Cisarua.

Atas dasar itu sebagai camat, dia tanda tangan untuk sebagai pihak yang mengetahui bahwa di lokasi yang dimohonkan akan dibangun sebuah rumah toko (ruko). Bayu yang kini menjabat sebagai camat Tamansari, Kabupaten Bogor membantah keras, saat Jaksa Penuntut Umum (JPU) menyoalkan adanya bukti kuitansi senilai Rp8,5 juta.

Kuitansi itu dibuat oleh Fikri Salim di atas materai sebagai laporan ke PT JMC untuk biaya penandatangan ke warga, RT dan RW hingga ke camat.

“Saya tidak tahu-menahu soal kuitansi itu. Penandatangan camat sebagai pihak mengetahui dalam perizinan warga sama sekali tidak dipungut biaya apa pun,” tegasnya.

Sedang mantan Lurah Cisarua dan pensiunan PNS, Endang Sumantri dalam kesaksiannya mengakui, penyerahan berkas untuk ditandatangani oleh Camat Cisarua kala itu. Dia sendiri yang membawa langsung ke camat untuk ditandatangani oleh atasannya tersebut pada sekitar tahun 2018 lalu.

Dirinya menjabat sebagai lurah Cisarua terhitung sejak 2013 hingga 17 Mei 2020 sampai dengan pensiun. Kata dia, terdakwa Fikri Salim pernah bertemu dengannya sebanyak dua kali yang sebatas untuk membahas soal perizinan pembangunan ruko di wilayah tempatnya memimpin.

Ketika ditanya JPU apakah dia pernah lihat kuitansi senilai Rp8,5 juta maupun Rp10 juta yang bunyinya untuk biaya pemberitaan upeti kepada Lurah Cisarua yang dibuat Fikri Salim sebagai laporan kepada PT JMC, Endang menjawab. “Pernah melihat saat dilakukan BAP oleh penyidik Polres Bogor,” ujarnya.

Bahkan, dalam kesaksiannya saat dirinya ditanya oleh terdakwa apakah pernah bertemu dengan komisaris utama PT Jakarta Medica Center di tempatnya bertugas, Endang Sumantri mengaku, pernah.

“Iya pernah bertemu dengan Profesor Luki Azizah saat kasus ini telah ramai dan dilaporkan ke pihak kepolisian. Pertemuan itu hanya sebatas untuk membahas soal pengurusan perizinan ruko yang pernah diurus terdakwa,” tuturnya.

Sementara itu, saat terdakwa diberi kesempatan untuk menanggapi kesaksian dari saksi mantan Lurah itu dirinya mempersoalkan kesaksian tersebut. Fikri Salim menyebut, apa yang disebutkan oleh saksi tersebut semuanya bohong, alias tidak benar.

Terdakwa Fikri Salim juga menampik, keterangan saksi mantan Lurah Cisarua yang mengaku pernah bertemu dengan dirinya selama dua kali di tempatnya bekerja adalah kebohongan besar.

“Saya tidak pernah ketemu dengan pak lurah apalagi sampai dua kali, itu tidak benar. Bahkan pak lurah sendiri kan yang pernah bertemu dengan Dr Luki Azizah, itu untuk apa. Biar Allah Yang Mahatahu ya,” ucapnya.

Sementara kesaksian sopir pribadi terdakwa Fikri Salim, Amir Mahmud, menyatakan dirinya enam kali diperintahkan Fikri Salim mengambil uang di Klinik Sudirman, Kota Bogor salah satu grup PT JMC. Minimal Rp100 juta dalam setiap pengambilan.

“Ya saya diperintahkan Pak Fikri untuk mengambil uang di sana. Selalu ada tanda terima pengambilan dari kasir di Klinik Sudirman,” ujar Amir memjawab pertanyaan hakim.

Atas kesaksian ini, terdakwa Fikri Salim saat ditanya menjawab ada yang benar dan tidak. Namun, dia tidak bisa menjelaskan mana yang menurutnya tidak benar dalam kesaksian Amir. (omi)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *