oleh

JPU Tolak Seluruh Nota Pembelaan Fikri Salim

POSKOTA.CO – Sidang lanjutan kasus pemalsuan surat atas perizinan Rumah Sakit Graha Medika Bogor dengan terdakwa Fikri Salim kembali digelar Pengadilan Negeri Bogor, Senin (15/2/2021). Agenda sidang kali ini tanggapan atas replik dari Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Sebelumnya, JPU menolak terhadap nota pembelaan Fikri Salim yang diajukan penasihat hukum terdakwa. Dalam perkara ini, Fikri Salim dituntut delapan tahun penjara oleh JPU.

Di persidangan ini, penasihat hukum menyampaikan kesimpulan duplik yang intinya tetap bertahan pada pledoi yang telah dibacakan dalam sidang sebelumnya. “Kami penasehat hukum terdakwa menyatakan menolak semua dakwaan dan tuntunan JPU,” ujarnya.

Untuk itu, lanjut penasihat hukum, berdasarkan fakta-fakta yang terungkap dalam persidangan, pihaknya memohon kepada majelis hakim untuk memutuskan terdakwa tidak terbukti secara sah dan menyakinkan bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana dakwaan JPU.

Pihaknya juga memohon kepada majelis hakim untuk membebaskan terdakwa Fikri dari segala dakwaan, memulihkan hak-hak terdakwa dalam kemampuan, kedudukan dan harkat serta martabatnya dalam keadaan seperti semula. “Membebankan biaya perkara kepada negara,” tambahnya.

Dalam kesempatan ini, Fikri Salim yang mengikuti sidang di Lapas Gunung Sindur menambahkan tanggapan atas replik dari JPU. Melalui video conference, Fikri mengatakan, bahwa dirinya telah mengeluarkan uang lebih dari Rp800 juta untuk perizinan dan saat mulai pembangunan rumah sakit tersebut sebelum keluarnya dana Rp1 miliar pada pertengahan Maret 2017.

“Saya memang bersalah bukan karena tuntutan jaksa, saya mengaku bersalah karena sudah menghianati Dr Lucky menghilangkan kepercayaan beliau,” ucap Fikri.

Pada sidang sebelumnya, JPU menolak keseluruhan pledoi yang diajukan terdakwa dan memohon agar majelis hakim dapat memutuskan perkara ini seadil-adilnya dan menjatuhkan hukuman sesuai perbuatan yang dilakukan terdakwa. “Kami menolak seluruh nota pembelaan yang diajukan penasihat hukum Fikri Salim,” katanya.

JPU menyakini bahwa Fikri Salim tidak hanya melakukan satu perbuatan pidana dalam perkara tersebut. JPU juga berpendapat keterangan saksi yang dihadirkan pihaknya dalam pledoi Fikri Salim tidak secara keseluruhan hanya sebagian potongan yang dituangkan penasihat hukum terdakwa.

“Kami berpendapat bahwa fakta persidangan bukanlah potongan-potongan keterangan saksi melainkan keseluruhan keterangan saksi. Dengan demikian potongan keterangan saksi yang dituangkan penasihat hukum Fikri Salim tidak memiliki nilai pembuktian apa pun,” sambungnya.

Keterangan saksi, lanjut JPU, telah dituangkan pada penuntutan telah mencakup keseluruhan atas keterangan saksi dan dapat mendukung pembuktian perkara. Mengenai keterangan terdakwa, JPU juga berpendapat sama tidak dimuat keseluruhan dalam pledoi.

Jaksa menilai, materi keterangan terdakwa bertentangan dengan keterangan saksi-saksi dan barang bukti yang disajikan tidak memiliki nilai pembuktian. Sehingga pihaknya menjadikan hal tersebut sebagai salah satu pertimbangan yang memberatkan pada tuntutan terhadap terdakwa. (omi)

 

 51 total views

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *