oleh

Perawat yang Menangani Pasien Rizieq Shihab Sudah Dimintai Keterangan

POSKOTA. CO – Laporan Satgas penanganan Covid 19 Kota Bogor terkait upaya menghalang-halangi petugas saat mencari kebenaran data terkait pasien bernama Rizieq Shihab di RS Ummi Bogor, terus dikembangkan penyidik Polresta Bogor Kota.

Kapolresta Bogor Kota, Kombes Pol Hendri Fiuser dalam keterangannya ke wartawan Selasa (1/12/2020) di Mapolresta Bogor Kota di Jalan Kapten Muslihat mengatakan, sudah tiga belas saksi dimintai keterangan.

Belasan saksi ini yakni, 4 dari Satgas Covid 19 Kota Bogor, 2 dari Mercy dan 7 dari RS Ummi Bogor. Bahkan dua perawat RS Ummi yang menangani pasien atas nama Rizieq Shihab sudah dimintai keterangan.

Untuk saksi dari RS Ummi Bogor, 5 dari manajemen diantaranya Direktur Utama, Direktur Umum, Direktur Pelayanan dan bagian umum serta petugas medis yang bertugas saat pasien berada di rumah sakit.

Kombes Hendri menegaskan, pemeriksaan kembali dilanjutkan hari ini dengan pemeriksaan atas enam orang saksi.
Mereka antara lain, Ketua Satgas Covid Kota Bogor, Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, BPBD dan Satpam rumah sakit serta saksi ahli.

“Hasil pemeriksaan kemarin, tetap menggali keterangan saksi-saksi terkait pasal yang di tersangkakan. Mudah-mudahan hasil pemeriksaan hari ini dan besok, bisa dapat di simpulkan oleh tim penyidik sehingga hari Senin (7/12/2020) depan sudah bisa naik sidik,”kata Kombes Hendri.

“Jika Senin berkas sudah naik sidik, maka sudah pasti akan dilakukan penetapan tersangka. Kalau sudah naik sidik, maka kita sudah ada calon tersangka. Tinggal ditetapkan statusnya hari Senin depan,” tegasnya lagi.

Kapolresta Bogor Kota mengungkapkan, pihaknya terus menggali keterangan dari laporan awal Satgas Penanganan Covid 19 Kota Bogor. Penyidik meminta keterangan saksi sesuai laporan Satgas.

“Tim Mercy sudah dipanggil kemarin tapi tidak datang. Namun ketidakhadiran mereka, tidak berpengaruh terhadap penyelidikan ini,” tegas orang nomor satu di jajaran kepolisian Kota Bogor ini.

Menurut Kombes Hendri, keterangan saksi sebanyak-banyaknya dihimpun. Jika perlu, bisa dilakukan pemanggilan paksa bagi saksi yang belum memenuhi panggilan polisi.

“Nanti kita lihat. Kita lihat perkembangannya. Kan ada dalam KUHP. Semua kami periksa termasuk SOP. Bagaimana kerjasamanya dengan Walikota selaku ketua Satgas Covid 19. Bagaimana penanganan pasien Covid 19 termasuk rujukan rumah sakit dalam hal penanganan pasien Covid. Jika ada prosedur yang di langgar, berupa upaya menghalang-halangi, akan kami kembangkan. Kalau ada prosedur yang dilanggar, maka sudah melanggar SOP penanganan Covid,” tegasnya.

Bagi Kapolresta Bogor Kota, Pemkot Bogor sudah menunjuk RS Ummi sebagai salah satu rumah sakit rujukan Covid. Tentunya penunjukan ini sudah ada SOP nya. Mulai dari tata cara penanganan hingga tata cara pelaporan berkalanya, sudah ada.

“Nah kalau ini tidak dilaporkan, ada apa dan kenapa tidak dilaporkan. Ini pasti ada apa-apanya. Dari pelaporan itu akan terlihat upaya menghalang-halangi,”kata Kombes Hendri sambil menambahkan, barang bukti yang sudah ada berupa rekaman dan surat-surat yang berkaitan dan keterangan saksi. (yopi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *