oleh

Sumpah Dokter, Inspirasi Irwan Hidayat Membangun Bisnis Sido Muncul

JAKARTA – Melewati perjalanan bisnis hingga 73 tahun bagi sebuah perusahaan bukanlah hal yang mudah, apalagi perusahaan jamu. Perjalanan bisnis yang dilalui penuh gelombang dan kesakitan. Tantangan yang dihadapi pun jauh lebih berat dibanding jenis perusahaan lain.

Namun Irwan Hidayat, Direktur PT Jamu dan Farmasi Sido Muncul sangat bersyukur bisa melewati masa-masa sulit sepanjang membangun entitas bisnisnya. “Hingga akhirnya Sido Muncul bisa tetap berdiri kokoh pada usianya yang ke-73 tahun,” kata Irwan pada acara syukuran 73 tahun Sido Muncul yang digelar di kantornya Sabtu (16/11/2024).

Menurutnya Sido Muncul sukses karena didukung dua hal, yakni keberuntungan dan dukungan karyawan. “Ini dua hal yang membuat Sido Muncul bisa berdiri sampai sekarang,” lanjut Irwan.

Karena itu, secara khusus Irwan menyampaikan terimakasihnya terhadap para karyawan yang sudah mendukung pertumbuhan Sido Muncul. Perjuangan dan dukungan tersebut penting untuk diteruskan agar Sido Muncul bisa berkarya lebih lama dan memberikan manfaat lebih besar kepada masyarakat luas.

Irwan mengajak karyawan untuk terus mengembangkan ide dan kreativitas. Kontribusi dalam bentuk kreativitas diyakini akan membuat Sido Muncul akan terus maju berkembang. “Jangan berhenti sampai disini, karena yang sekarang kita capai belum apa-apa,” tegas Irwan.

Irwan mengakui untuk membuat produk Sido Muncul seperti Tolak Angin mendunia bukanlah hal mudah. Karena jamu adalah produk non farmasi yang khasiatnya memang tidak langsung terasa. Dibutuhkan perjuangan panjang untuk meyakinkan masyarakat akan khasiat dan kegunaan jamu untuk menjaga kesehatan.

Di hadapan karyawan dan awak media, Irwan berkisah sejarah jamu Sido Muncul yang bermula dari emperan (serambi) rumah kakeknya di Jalan Bugangan No.25, Semarang tahun 1951. Ini adalah rumah pertama produk Sido Muncul diciptakan.

“Kakek, om dan tante saya kalau numbuk jamu di emperan rumah. Kalau malam nenek mencampur ramuan untuk di packing. Saya masih ingat tugas saya adalah menghitung jamu-jamu yang sudah di packing sebelum dijual,” kata Irwan.

Kini mereka telah tiada dan sekarang Irwan adalah saksi tunggal berdirinya Sido Muncul. Bersama adik-adiknya, Irwan kemudian berjuang membesarkan Sido Muncul menjadi perusahaan jamu yang kini dikenal public.

Melalui produk unggulannya yakni Tolak Angin, Irwan tidak hanya membuat jamu menjadi memiliki tempat di hati konsumen. Lebih dari itu, Tolak Angin juga telah diresepkan oleh dokter untuk membantu pasien yang memerlukan sistem imun (daya tahan tubuh/sel pertahanan tubuh) yang lebih baik.

Seperti halnya model pemasaran perusahan jamu lainnya yang memiliki tagline, Sido Muncul juga pernah menerapkan model yang sama. Jika Nyonya Meneer menggunakan tagline paling manjur, jamu Jago dengan tagline jagonya jamu, maka Sido Muncul menggunakan tagline paling unggul. Namun model pemasaran tersebut nyatanya tidak memberikan efek yang siginifikan.

Ia pun mulai berpikir bagaimana jamu bisa seperti produk farmasi yang mendapat dukungan dokter. “Produk farmasi itu hebat karena ada dukungan dokter. Sedang jamu lebih didukung oleh pengobat tradisional yang mengobatinya berdasarkan pengalaman hidup, belajar dan mendapatkan wahyu. Jamu bisa menyembuhkan tetapi tidak ada bukti ilmiah yang mendukung bahwa produk jamu itu bagus,” jelas Irwan.

Selain itu, produk farmasi juga rasional dan aman. Sedang jamu adalah produk yang tidak rasional. Dikatakan tidak rasional karena untuk mengobati darah tinggi misalnya, ramuan jamu boleh dicampur anggur. “Lho darah tinggi kok boleh minum anggur. Ini nggak rasional,” tambahnya.

Uji Klinis Tolak Angin

Itulah yang kemudian mendorong Irwan Hidayat melakukan uji klinis terhadap produk Tolak Angin. Meski uji klinis baru tahap pertama, tetapi dampaknya sangat dasyat bagi penjualan Tolak Angin. “Waktu itu saya yakin bahwa ide uji klinis terhadap produk herbal adalah benar dan saya harus memulai langkah ini,” terangnya.

Ia pernah mengutarakan rencana uji klinis jamu kepada Prof Iwan Darmansyah, seorang farmakolog yang idealis pada 2002. Namun saat itu Prof Iwan menolak habis-habisan dengan alasan tidak mungkin jamu diuji klinis. “Saya sangat sedih, ketika beliau bilang “Tidak mungkin jamu diuji apa pun. Omong kosong!”,” tutur Irwan.

Rupanya, penolakan ini tak membuat Irwan Hidayat patah arang. Ia justru bertekad untuk membuktikan bahwa uji klinis bisa dilakukan, dan di lain saat hal itu benar-benar berhasil dengan melakukan uji klinis fase pertama produk Tolak Angin.

“Iya saya pernah sangat-sangat bingung. Melanjutkan ide untuk melakukan uji toksisitas untuk Tolak Angin ataukah tidak. Uji ini sangat penting untuk memastikan keamanan produk kami,” terangnya.

Masalahnya kalau Tolak Angin terbukti toksik, akan menjadi persoalan besar bagı Sidomuncul, karena 50% penjualan Sidomuncul pada saat itu ditopang oleh produk Tolak Angin.

Irwan mengaku sempat melakukan diskusi panjang dan mendalam dengan tim. Bersama tim Research & Development yang dipimpin oleh Apt. Wahyu Widayani, S.Si, dan Brand Manager Tolak Angin, Retna Widawati, Irwan melakukan diskusi yang sangat intens. Namun, pada akhirnya keputusan sangat berani diambil. Irwan setuju dengan pelaksanaan uji toksisitas, kendati risiko yang dihadapi tidak kecil.

“Kami memutuskan mengikuti suara hati kecil, karena saya sudah berjanji akan mengelola Sido Muncul dengan “Hati, Akal dan Regulasi“, yang terinspirasi sumpah Hypocrates yang sampai hari ini menjadi sumpah para dokter. Yakni “Saya akan mengobati pasienku dengan hati, akal dan ilmu”. Jadi kami akhirnya  memutuskan untuk melakukan uji toksisitas demi kepentingan dan keselamatan konsumen. Seandainya Tolak Angin terbukti toksik, kami akan melakukan reformulasi,” kata Irwan.

Rupanya, keputusan Irwan Hidayat sangat tepat. Hasil uji toksisitas menunjukkan, Tolak Angin terbukti aman diminum selama 101 bulan secara terus menerus. Hasil uji hispatologi menunjukkan tidak ada kerusakan organ hati, ginjal, lambung, usus, paru, limpa, jantung, uterus, dan testis. Selain itu, hasil uji lab klinik tidak menunjukkan adanya gangguan pada hematologi, kadar gula, SGPT, kreatinin, NA, K, Cl, dan total protein.

Setelah lolos uji toksisitas, Sido Muncul kemudian melanjutkan rencana melakukan uji farmakologi. Persoalan yang timbul saat itu, tidak ada istilah masuk angın di dunia kedokteran.

Irwan bersama tim dan tim dari Universitas Diponegoro Semarang kemudian berdiskusi supaya dapat melakukan pendekatan uji farmakologi.

“Pada akhirnya kami merumuskan bahwa masuk angın adalah gejala awal menurunnya daya tahan tubuh. Dan judul uji famakologi yang akan dilakukan oleh tim dari Undip adalah “Apakah Tolak Angin dapat meningkatkan Cell T, sebagai indakator meningkatnya daya tahan tubuh”. Lagi-lagi kami bersyukur, setelah hampir satu tahun, uji farmakologi membuktikan Tolak Angin dapat meningkatkan T white blood cell secara signifikan,” lanjutnya.

Undang Guru Besar UI ke Pabrik

Keberhasilan ini mendorong Irwan mengundang Prof Iwan dan empat guru besar Universitas Indonesia ke Semarang untuk meninjau pabrik Sido Muncul yang baru pada 2011. Irwan berkesempatan mempresentasikan uji toksisitas dan uji farmakologi, membawa mereka melihat dari dekat fasilitas pabrik seperti laboratorium yang lengkap. Bahkan, Irwan juga berkesempatan menyampaikan gagasan besarnya tentang  kekayaan alam Indonesia dan ide-idenya untuk memanfaatkannya.

“Sepulang dari pabrik, Prof Iwan mengirimkan SMS “Saya surprise melihat pabrik Sidomuncul. Saya apresiasi Anda. I learn so much from you”. Bahkan, beliau minta dikirimi Tolak Angin untuk diminum sendiri dan untuk pasien-pasiennya,” cerita Irwan.

Meskipun Tolak Angin sudah dipercaya masyarakat, bagi Irwan masih ada hutang yang perlu diselesaikan. Irwan sangat ingin produk-produknya lebih dikenal dan  mendapat kepercayaan dari dunia kedokteran. “Ini tidak mudah karena saya tidak memiliki latar belakang pendidikan kedokteran,” katanya.

Mencari Tagline yang Tepat

Setelah Tolak Angin menjadi sebuah produk yang lulus uji toksisitas dan farmakologi, Irwan dan tim kemudian mulai berpikir soal promosi. Pergulatan tak jauh dari mencari tagline yang tepat, guna mendorong brand Tolak Angin lebih hidup dan dikenal luas.

Dari sekian banyak ide, Irwan Hidayat kemudian memilih memilih tagline “Orang pintar minum Tolak Angin”. Pemilihan tagline tersebut didasari pada sebuah keyakinan bahwa semua orang pintar pada jalan hidup masing-masing. “Dan menurut saya, ketika sakit orang harus pintar dalam memilih produk,” tambahnya.

Ide tagline ini terinspirasi dari cerita ketika anak-anaknya sekolah di Amerika. Di sana ada juara nyanyi, juara pidato, juara olah raga dan lain sebagainya. Artinya ada apresiasi pada keahlian masing-masing. “Saya pun semakin yakin dengan tagline Orang Pintar Minum Tolak Angin,” kata Irwan lagi.

Dari ide ini, pencarian sosok untuk endorse iklanpun dilakukan. Mulai dari kalangan artis, akademisi, olahragawan, tokoh masyarakat hingga ke tokoh bisnis dan bahkan jurnalis.

Sido Muncul juga memproduksi iklan yang menjelaskan, bahwa Tolak Angin adalah produk herbal yang diproduksi di pabrik farmasi jamu, lolos uji toksisitas sehingga aman diminum jangka panjang dan uji farmakologinya dapat meningkatkan Cell T.

Irwan bersyukur perjuangan panjangnya membuahkan hasil. Kini Tolak Angin telah masuk dalam resep dokter. Tolak Angin juga mendunia karena ada sudah bisa ditemukan di 30 negara di dunia. “Kalau selama ini banyak hal datang dari dunia barat seperti feminisme dan HAM,  maka saya berharapTolak Angin adalah satu-satunya yang datang dari dunia timur,” tutup Irwan. (*/fs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *