BOGOR – Perairan laut Indonesia menyimpan kekayaan yang sangat luar biasa bernilai ekonomis baik untuk abiotik maupun biotik. Abiotik memiliki nilai ekonomis yang tinggi, seperti migas, mineral, bahan tambang dan pasir laut.
Sementara Biotik seperti alga, vegetasi lamun, rumput laut dan ikan. Semua kekayaan sumber daya alam ini sangat bermanfaat sebagai bahan obat, kosmestik, ketersediaan pangan dan energi terbarukan.
Prof. Dr. Ir. Sri Pujiyati, M.Si, Guru Besar Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan Fakultas Perikanan dan ilmu Kelautan IPB University, dalam keterangannya kepada wartawan Kamis (14/12) mengatakan, banyaknya keanekaragaman hayati bernilai ekonomi tinggi, Indonesia disebut sebagai Mega Biodiversitas Kelautan.
“Indonesia memiliki ekosistem Mangrove seluas 3,49 juta ha (24% mangrove dunia, 50% Asia), ekosistem Lamun seluas 3 juta ha (19% lamun dunia), dan ekosistem Terumbu karang seluas 8,5 juta ha (18% terumbu karang dunia); dengan sekitar 2500 jenis ikan teleostei, 1500 jenis krustasea, dan 2000 jenis moluska. Luasnya wilayah laut Indonesia membutuhkan alat bantu dalam mengeksplorasi seluruh potensi laut yang ada.
“Teknologi akustik adalah salah satu teknologi alternatif yang memiliki keunggulan antara lain mampu mengcover wilayah yang luas dalam waktu yang relatif singkat, biaya yang lebih murah, tidak berbahaya, memberi informasi yang real time dan tentunya memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi,” kata Prof Pujiyati.
Ia memaparkan, teknologi aktif adalah salah satu teknologi yang menggunakan pemancaran dan transmisi aktif gelombang suara untuk dapat mendeteksi target yang ada di permukaan, kolom air hingga dasar perairan.
“Instrumen akustik aktif dapat memperoleh informasi tentang target kecil seperti plankton, nekton, ikan pelagis, ikan demersal, serta dapat digunakan untuk eksplorasi dasar perairan dalam menentukan klasifikasi tipe substrat. Instrumen akustik pasif adalah penggunaan alat perekam suara sebagai elemen utamanya. Instrumen akustik pasif dapat digunakan untuk mendapatkan karakteristik suara lingkungan dan biota bawah air,” ungkapnya.
Riset Prof Pujiyati, ikan, terumbu karang, dasar perairan, bioakustik mamalia dan ikan, umumnya plankton hidup bergerombol namun tidak menyebar merata. “Penelitian di perairan teluk Ambon, teluk Yos Sudarso, laut Halmahera diperoleh nilai Sv yang tinggi di kolom perairan atas,” paparnya.
Sementara akustik terumbu karang di perairan Kepulauan Seribu diperoleh nilai yang beragam, dimana kekerasan dan kekasaran dari setiap tipe karang yang akan menentukan nilai hambur baliknya.
“Perbedaan ketebalan integrasi akustik dasar perairan di perairan Kepulauan Seribu dan Teluk Yos Sudarso menunjukkan hasil analisis statistik RAL dengan selang kepercayaan 95 persen diperoleh nilai hambur balik pada integrasi 0.2 m dan 0.5 m memiliki nilai yang berbeda nyata,” jelasnya.
Dosen IPB University ini menegaskan, kemajuan pemanfaatan instrumen akustik di semua bidang kelautan maupun perikanan di Indonesia semakin banyak dan aplikasinya semakin luas.
“Perlu terus didorong pengembangan perangkat keras (hardware) seiring dengan perkembangan elektronik, maupun perangkat lunak (software) serta kemajuan algoritma kecerdasan buatan. Selain itu perlunya kerjasama antar instansi yang terkait untuk penelitian dengan memanfaatkan akustik bawah air agar dapat mempercepat terwujudnya pengembangan Benua Maritim Indonesia,” katanya. (yopi/ta)








Komentar