JAKARTA – Bagi Tasroni, trading bukanlah cara untuk mencari keuntungan besar dalam waktu singkat.
Nasabah HSB Investasi sejak 2018 ini menilai kunci utama menjadi trader adalah memahami risiko, menerapkan money management, serta menggunakan platform yang legal dan tepercaya.
“Trading itu buat saya masih proses belajar terus,” ujar pria yang akrab disapa Roni.
Roni mengaku pertama kali mengenal dunia trading pada 2018 melalui HSB Investasi, yang saat itu masih bernama Hanson Forex. Sebelum mulai bertransaksi, ia terlebih dahulu memastikan legalitas perusahaan.
“Dari awal saya tanya soal BAPPEBTI, legalitas perusahaan, kantornya ada atau nggak. Karena kalau urusan uang, saya harus yakin dulu,” katanya.
Menurutnya, pengalaman kurang menyenangkan saat menggunakan platform investasi lain membuatnya kini lebih berhati-hati dalam memilih perusahaan.
“Kalau sekarang saya lebih hati-hati. Logo regulator bisa di-copy, website bisa dibuat. Tapi kantornya ada nggak? Itu yang penting,” ujarnya.
Meski telah lebih dari enam tahun aktif trading, Roni mengaku masih terus belajar memahami pergerakan pasar. Ia memilih tidak terlalu sering melakukan trading harian karena dinilai memiliki volatilitas tinggi.
Sebaliknya, ia lebih fokus memanfaatkan momentum tertentu, seperti pengumuman data ekonomi Amerika Serikat atau perkembangan geopolitik yang memengaruhi pasar.
“Saya masih sering salah entry. Jadi saya nggak mau sok jago. Yang penting money management dijaga,” katanya.
Bagi Roni, keuntungan maupun kerugian merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitas trading. “Kalau untung ya alhamdulillah. Kalau rugi berarti saya yang salah analisa atau salah entry,” ucapnya.
Salah satu alasan yang membuatnya tetap bertahan di HSB Investasi adalah pendekatan edukatif yang diberikan tim perusahaan. Ia mengaku rutin berdiskusi dengan Relationship Manager (RM) mengenai kondisi pasar, manajemen risiko, hingga cara membaca pola candlestick.
“Mereka nggak maksa. Malah sering bilang jangan lot besar dulu kalau masih belajar,” ungkapnya.
Menurut Roni, pendekatan tersebut sangat berbeda dibandingkan sejumlah platform trading lain yang pernah menghubunginya dengan menawarkan keuntungan secara berlebihan.
“Ada yang tiap hari telepon, ngomongnya cuan terus. Tapi pas saya tanya risikonya apa, malah nggak dijelasin,” katanya.
Dalam aktivitas sehari-hari, Roni menggunakan aplikasi HSB Investasi sebagai platform utama untuk bertransaksi, sementara MetaTrader 5 dimanfaatkannya untuk memantau grafik harga dan melakukan analisis tambahan.
Ia juga merasa terbantu dengan fitur sinyal trading serta komunitas trader yang menjadi wadah diskusi dan berbagi informasi pasar.
“Di grup itu banyak sharing. Ada analis, admin, sama sesama trader juga. Jadi kita bisa belajar bareng,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa sinyal trading sebaiknya hanya dijadikan referensi, bukan satu-satunya dasar dalam mengambil keputusan. “Sinyal itu referensi. Analisa sendiri tetap penting,” tambahnya.
Bagi Roni, alasan utamanya bertahan menjadi nasabah HSB Investasi selama lebih dari enam tahun bukan semata-mata karena keuntungan, melainkan rasa aman dan komunikasi yang baik dengan perusahaan.
“Kalau HSB buat saya simpel. Legalitas jelas, withdrawal lancar, komunikasinya enak, dan kita dibimbing pelan-pelan,” tutupnya. (din)







Komentar