oleh

Dokter Ayu Bertolak ke Korea Perdalam Soal Filler Face and Body

POSKOTA.CO-Pakar anti aging yang punya banyak gelar, dr. Ayu Widyaningrum MM, Master of AAAM, and Master of IBAMS, ternyata masih haus ilmu khususnya bidang kedokteran estetika. Dokter cantik yang baru berusia 30-an ini bertolak ke Korea untuk memperdalam ilmu soal ‘filler face and body’.

Ayu mengaku masih ingin terus menambah ilmu kedokteran estetika yang selalu  mengikuti perkembangan  teknologi. Apalagi dunia kecantikan, perkembangannya sangat cepat sehingga dr Ayu harus selalu meng-up date wawasan dan keterampilan. “Saya bertolak Korea untuk menambah wawasan soal filler yaitu salah satu  ilmu kedokteran kecantikan untuk memuluskan kulit sekaligus mengkoreksi bagian wajah dan tubuh dengan metode suntik filler,” ujar dr.  Ayu di Jakarta, Senin (3/1).

Menurutnya Korea merupakan salah satu negara yang dikenal sebagai gudangnya pakar kecantikan kelas dunia. Banyak dokter estetika dari berbagai negara yang berguru tentang poles-memoles tubuh dari ujung kaki sampai ujung rambut ke Negeri Ginseng. Bahkan dr Ayu yang sudah dikategorikan sebagai pakar kecantikan pun turut belajar ke Korea. Ibu muda dari empat anak mungil ini ingin sekali memperdalam tentang suntik filler untuk diterapkan di klinik miliknya ataupun ditularkan kepada komunitas praktisi estetika.

Istri dari Edwin Asia Mai, SH, MM yang berdomisili di Banjarmasin, Kalimantan ini aktivitasnya sangat padat. Kesibukannya antara lain mengelola langsung klinik miliknya bernama Widya Esthetic Clinic di Jl Mahligai, Banjarmasin. Klinik tersebut sudah memiliki berbagai macam peralatan seperti Ultra Sound, HIFU, Radio Frequency, Mesotherapy, Needle Non Needle, Platele Rich Plasma (PRP), DNA Salmon.

Selain sibuk mengelola klinik,  dr Ayu juga sering mondar-mandir ke Jakarta untuk berkiprah di dunia infotainmen sebagai model kecantikan, dan lainnya. Ia juga aktif di berbagai seminar maupun workshop. Dari berbagai kesibukannya itu, sebagai tokoh wanita, dr Ayu telah menerima penghargaan tingkat nasional yang jumlahnya sekitar 90 sertifikat.  (eli/fs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *