oleh

Dirjen PKTN Veri Anggrijono: Awasi Pelanggar Perdagangan Online dan Lindungi Konsumen

POSKOTA.CO –  Kementerian Perdagangan menggandeng Kementerian Komunikasi  dan Informasi (Kemenkominfo) mengawasi transaksi perdagangan e-commerce terkait pelanggaran  dan sanksi bagi pelaku usaha, influencer, ataupun pelapak itu sendiri.

“Kami, Kemendag  dan Kemenkominfo, terus mengamati platform perdagangan online. Sanksi pun sudah disiapkan mulai pembekuan dan pencabutan ijin usaha hingga men-takedown website alamat situs serta menghilangkan tautan (link) dari toko daring (merchant) pelanggar,” kata Veri kepada wartawan, Kamis (1/10/2020), di Jakarta.

Dirjen Veri Anggrijono menjelaskan, sanksi dimaksud mengacu UU Perlindungan Konsumen nomor 8 tahun 1999, dan UU Perdagangan nomor 7 tahun 2014. Juga Peraturan Pemerintah nomor 80 tahun 2019 tentang perdagangan sistem elektronik. “Pak Menteri Agus Suparmanto juga sudah mengeluarkan peraturan sesuai kebutuhan dan kompetensinya,” ujar Veri.

 TEGUR BLIBLI.COM

Dicontohkannya, Ditjen PKTN mencatat telah menegur Blibli.com karena menjualkan minuman beralkohol yang  melanggar Permendag 20/2014 diubah Permendag 25/2019 tentang Pengendalian dan Pengawasan terhadap Pengadaan, Peredaran dan Penjualan Minuman Keras.

Catatan Kemendag menyebut telah menjaring 169 pedagang alat kesehatan kualitas rendah, dan 143 pedagang bahan pangan di atas harga eceran tertinggi, atau total 312 pedagang daring semua lokapasar dengan sanksi menutup (takedown) akun  dan menghilangkan tautan (link) dari toko daring (merchant). Kemendag juga telah menerima total 127 pengaduan terkait niaga elektronik sepanjang 2018 sampai 2020.

Situs e-commerce terpopuler sepanjang 2019 versi studi CupoNation itu Tokopedia karena dikunjungi hampir 1,2 milyar di antaranya melalui akses telepon genggam 863,1 juta atau 72,35%, disusul akses desktop 329,8 juta pengunjung, hasil pengamatan melalui SimilarWeb dari 32 toko daring.

Disusul Shopee 837,1 juta pengunjung, Bukalapak (823,5 juta pengunjung), Lazada (445,6 juta), Blibli (353,2 juta), JD.id (105,4 juta), Orami (89,9 juta), Bhinneka (62,9 juta), Sociolla (51,2 juta), dan Zalora (44,5 juta). Data itu menunjukkan kalau e-commerce lokal masih dominan di pasar Tanah Air, kendati para pemain lokal mesti menyiapkan strategi untuk mengantisipasi serbuan pemain internasional dengan pemasaran yang menggiurkan konsumen.

Sementara itu tercatat setidaknya ada 17 perusahaan e-commerce Indonesia yang gagal eksis sejak era 2000-an. Tim iPrice merangkumnya dari google-Temasek yaitu Multiply, platform e-marketplace asal Florida, AS, itu bertahan periode 2008-2013. Disusul Tokobagus 2005-2014 dikunjungi 1 milyar, lalu difokuskan pemilik Naspers menjadi OLX Indonesia kendati kalah populer dengan Bukalapak, Blibli, dan Tokopedia.

OLX pun mengakuisisi Berniaga.com (2009-2014), Matahari mall.com (2015-2018) dilebur Matahari Dept.store milik Lippo Group, Rakuten (2011-2016) sempat menggandeng MNC Group, Plasa.com (2010-2014) oleh Telkom diubah menjadi Blanja.com. Cipika-nya besutan Ooredo Indosat bertahan 2014-2017. Disusul jualan fashion, wisata, kuliner seperti Valladoo (2010-2015), Scallope (2012-2015), Paraplou (2011-2015), Lolalola (2015-2017), Kleora berubah Prelo (2015), Beautytreats (2013-2015), Lamido (2013-2015), Sedapur (2011-2013), dan Qlapa periode 2015-2019. (dk)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *