BOGOR – Indonesia merupakan salah satu negara penghasil bambu terbesar di dunia. Pengembangan pemanfaatan buluh bambu berikut rekayasanya sebagai bahan konstruksi unggul, karena sangat ramah lingkungan.
Prof. Dr. Ir. Naresworo Nugroho, MS, IPU dalam pemaparannya ke wartawan Rabu (5/6/2024) mengatakan, beberapa wilayah di Indonesia, merupakan penghasil bambu terbesar. “Pulau Jawa, Bali, NTT, separuh Kalimantan, Sulawesi dan Lampung, adalah daerah dengan basis polulasi bambu terbesar. Namun dari semua wilayah ini, bambu NTT yang memiliki kualitas terbaik karena area habitatnya diapit gunung serta wilayahnya yang tropis,” katanya.
Masyarakat di Propinsi NTT memanfaatkan bambu untuk bahan dasar berbagai produk. “Bahkan sudah ada rumah bambu di Bajawa. Bambu sudah bernilai ekonomis tinggi,” kata Prof Naresworo. Sebagai bahan alami, kualitas bambu dipengaruhi oleh banyak faktor seperti genetika dan kondisi pertumbuhan. “Beberapa faktor tersebut menyebabkan variasi ukuran, sifat fisik, dan geometri bambu. Keruncingan (taper or sharpness), lonjong (ovality) atau eksentrisitas (eccentricity), dan tidak lurus (straightness) atau melengkung (bow) adalah tiga geometri dasar bambu,” jelasnya.
Ketidaksempurnaan bentuk geometri tersebut menyebabkan asumsi yang digunakan untuk mengkonversi hasil pengujian sifat mekanis bambu contoh kecil bebas cacat menjadi sifat mekanis buluh utuh sering kali tidak terpenuhi dengan baik. “Pengujian bambu pada ukuran penuh sangat diperlukan untuk memperoleh nilai-nilai kekuatan dan kapasitas bambu untuk tujuan penggunaan konstruksi struktural,” paparnya.
Buluh bambu menurut Prof Naresworo, merupakan elemen fundamental dalam banyak aplikasi struktur, sehingga tingkat kekuatan menjadi parameter penting untuk mengurangi variabilitas pada setiap material. Dalam kriteria pemilahan dan penyortiran bambu, sifat mekanis dan sifat lentur dianggap penting. “Kapasitas menahan momen maksimum (Mmaks) bambu bulat dapat diperkirakan dengan menggunakan kombinasi massa linier dan diameter (qD) dan dari kuadrat diameter (D2) sebagai prediktor penunjuk,” bebernya.
Selain dalam bentuk buluh/bambu utuh (round bamboo/culm), inovasi teknologi produk bambu rekayasa (engineered bamboo products) telah dikembangkan sebagai sebagai alternatif bahan konstruksi modern. “Bambu mengalami transformasi menjadi bahan konstruksi yang kuat dan ramah lingkungan, sejalan dengan kemajuan teknologi dan inovasi yang serta memiliki potensi besar menjadi material konstruksi unggul,” pungkasnya. (yopi/jo)







Komentar