POSKOTA.CO – Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Al-Muhajirin Perum Arjawinangun Permai, RW 11 Desa Arjawinangun, Kecamatan Arjawinangun, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat mengadakan “Pelatihan Manajemen Penyelenggaraan Jenazah”, Minggu (15/3/2020).
Menurut Ketua DKM Al-Muhajirin Drs H Tisna Ruhyat MMPd yang diwakili H Nurkasih SPd, menyampaikan, kegiatan penyelenggaraan jenazah ini penting kita ketahui, karena kita tidak hanya tergantung pada bapak lebe bila dalam keadaan darurat.
“Mungkin saja bapak lebe sedang berkepentingan menangani jenazah yang lain atau sedang pergi ke luar kota, kita tidak harus menunggu, sementara pihak keluarga meminta untuk segera dikuburkan,” kata Tisna.
Setali tiga uang, Ketua Panitia Pelatihan Penyelenggaraan Jenazah Drs Bambang R, MPdI menuturkan, penyelenggaraan jenazah di lingkungan jemaah Masjid Al-Muhajirin Arjawinangun Permai baru pertama kali diadakan pelatihan seperti ini, mengajak para peserta untuk belajar berlatih bersama-sama.
“Kami berharap dengan adanya pelatihan para peserta ini mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam menangani jenazah dengan lebih baik dan tidak ragu-ragu lagi,” tuturnya, didampingi oleh Bapak Yanto salah satu jemaah yang antusias mengikuti kegiatan pelatihan.
Di tempat yang sama, Ketua RW 11 Desa Arjawinangun Nasirudin sangat mengapresiasi kegiatan manajemen penyelenggaraan jenazah yang dilakukan oleh DKM Al-Muhajirin.
“Kami mewakili pemerintah desa sangat berterima kasih, DKM dapat melakukan pelatihan penyelenggaraan jenazah, tentunya akan banyak manfaat dan faedah dalam pelatihan ini,” jelasnya dan diamini Drs Romdhon, jemaah setia Masjid Al-Muhajirin.
Dalam pelatihan penyelenggaraan jenazah, pembimbing sekaligus instruktur kegiatan, KH Hariri SAg mengajak para peserta untuk tidak lagi canggung dan ragu dalam memandikan jenazah.
“Tidak usah ragu apalagi canggung, siapa pun mungkin akan melakukanya, mungkin kita memandikan orang tua kita, atau saudara kita, sementara bapak lebe sedang tidak ada di tempat,” ucapnya.
Masih menurut H Hariri, bilamana terjadi keadaan darurat tidak ada orang yang berkompeten untuk mengurusi jenazah, peserta mampu menyelenggarakan pengurusan jenazah sendiri.
“Pelatihan yang kita adakan dari mulai memandikan jenazah sampai dengan mengafani jenazah, memang harus dilakukan lebih dari satu kali agar peserta lebih paham,” pungkasnya. (zip/yudn)







Komentar