oleh

Tiada Rob atau Banjir Kiriman namun Jakarta Terendam, Pramono Diminta Evaluasi Kinerja Plt Kadis SDA

JAKARTA – Walaupun tidak ada kiriman air dari luar daerah maupun fenomena pasang laut, namun di sejumlah wilayah Jakarta terjadi banjir yang memprihatinkan. Banjir yang hanya diakibatkan oleh curah hujan lebat ini membuat banyak pihak menyoroti kinerja Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKJ yang dinilai tidak mumpuni mengatasi banjir.

Mestinya dengan fasilitas dan peralatan yang dimiliki Dinas SDA mampu mengantisipasi banjir yang diakibatkan hujan berkepanjangan pada hari Selasa sore hingga Rabu pagi kemarin. Data BPBD Jakarta menyebutkan terjadi banjir di banyak tempat namun pada Rabu pagi tercatat masih ada 52 RT yang mana air belum surut dan memaksa lebih dari 2.000 warga mengungsi.

Banyak pihak menyoroti kinerja Ika Agustin selaku Plt Kepala Dinas SDA Jakarta yang dinilai belum cukup pengalaman. Mereka mendesak kepada Pramono Anung untuk mengganti jabatan Kadis SDA. Sebagaimana diketahui, Pramono dan Rano Karno akan dilantik sebagai Gubernur dan Wagub DKJ periode 2024-2029 pada hari Kamis tanggal 6 Februari 2025.

Ketua umum Jakarta Bersahabat Gito Ricardo menjelaskan sebenarnya banjir Jakarta kemarin itu tidak perlu terjadi kalau kinerja Dinas SDA profesional. “Namun nyatanya, Jakarta kembali dilanda banjir hampir di semua wilayah. Kami pertanyakan  Ika Agustin Ningrum yang kami nilai lambat dan gagal menanggulangi banjir yang  menimbulkan kemacetan di sana-sini,” ujar Gito kepada wartawan di Jakarta, Kamis (30/1).

“Contohnya,  banyak kawasan dibangun rumah pompa atau polder baru, tapi kenyataannya jumlah lokasi banjir  malah bertambah,” tandasnya. Jika semua pompa berfungsi dengan baik,  tentu tidak akan ada banyak di banyak tempat seperti kemarin. Ia berharap kepada Pramono jika sudah menjadi Gubernur DKJ agar meninjau ulang jabatan Kadis SDA. “Masih banyak PNS dengan latar belakang teknis dan sangat berpengalaman menangani banjir di kota,” tandas Gito.

Secara terpisah, pengamat kebijakan publik Sugiyanto juga mendesak agar Ika Agustin diganti. “Dia telah merusak citra posisi Penjabat (Pj) Gubernur Teguh Setyabudi di akhir masa jabatan. Seharusnya Ika mampu memprediksi akan adanya banjir. Jadi sebelumnya harus   melakukan segala hal yang dibutuhkan seperti gerebek lumpur, perbaikan pompa air, melancarkan aliran sungai atau kali,” kata Sugiyanto. Menurutnya,  Teguh  tak punya pilihan lain selain mengganti Kepala Dinas tersebut. Kalau hal ini tidak dilakukan, Sugiyanto mendesak pada era pemerintahan Pramono-Rano yang melakukan tindakan tersebut.

“Dia masih terlalu muda memimpin Dinas sebesar itu. Sebagai PNS golongan Kepegawaian Ika baru 4A, namun anehnya, dia sudah dipercaya menduduki Plt Kepala Dinas. Apakah karena prestasi atau faktor x? Anehnya, jabatan Plt yang mestinya cuma sementara, namun bisa berjalan mulus hingga hampir dua tahun tanpa dikutak-katik atasan. Untuk pejabat eselon dua mestinya diemban oleh pegawai golongan 4B. Di lingkungan Pemprov Jakarta banyak sekali PNS yang memenuhi syarat memimpin Dinas SDA, namun ada apa malah memilih SDM yang masih relatif muda.

Banjir kemarin itu murni dari curah hujan di Jakarta, karena saat  ini sedang  tidak ada fenomena bulan purnama yang sering menimbulkan banjir akibat pasang laut. Selain itu, Bendung Katulampa statusnya adalah Siaga 2 yang artinya kondusif. “Jadi banjir ini karena sistem drainase rusak. Adapun banjir pada arah Bandara Soekarno-Hatta dipastikan ada pompa yang mati,” bebernya.

Legislator Komisi D DPRD Jakarta Bun Joi Phiau juga mendesak Pemprov DKJ melalui dinas terkait, terutama Dinas SDA untuk melakukan akselerasi penanganan genangan dan ke depannya lebih serius melakukan pencegahan banjir. “Sumber daya yang tersedia harus dikerahkan untuk menyedot banjir sehingga bisa membantu aktivitas masyarakat kembali normal,” ujar Ketua DPC PSI Jakarta Utara.

Bun Joi menjelaskan semua pompa mobile harus dapat dimobilisasi untuk menyedot genangan. Kemudian, tali-tali air harus dipastikan berfungsi baik. Alat pompa air harus digunakan semaksimal mungkin untuk menyedot air, sehingga banjir cepat mereda di tempat yang masih terendam. “Sarana pengendali banjir bisa digunakan semaksimal mungkin. Dinas SDA  harus meningkatkan kewaspadaan di titik-titik rawan banjir,” tandasnya. (jo)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *