oleh

Kewajiban dan Pahala Mencari Ilmu

ALLAH Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman, “Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberikan peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu menjaga dirinya.” (QS. At-Taubah, 9:122). Dan dalam firman-Nya yang lain dinyatakan, “Allah mengangkat orang-orang yang beriman di antara kamu, dan orang-orang yang telah diberi ilmu, beberapa derajat.” (QS. 58:11).

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah bersabda, “Tuntutlah ilmu, sesungguhnya menuntut ilmu adalah pendekatan diri kepada Allah Azza wajalla, dan mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah sodakoh. Sesungguhnya ilmu pengetahuan menempatkan orangnya dalam kedudukan terhormat dan mulia (tinggi). Ilmu pengetahuan adalah keindahan bagi ahlinya di dunia dan di akhirat.” (HR. Ar-Rabii’). Dan dalam hadits yang lain dinyatakan, “Menuntut ilmu wajib atas tiap muslim baik muslimin maupun muslimat).” (HR. Ibnu Majah). Juga dalam hadist yang lain dinyatakan, “Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim, sesungguhnya orang yang menuntut ilmu itu dimintakan ampunan baginya oleh semua makhluk hingga ikan-ikan yang ada di laut.” (HR. Abdul Barr melalui Anas r.a.).

Menuntut ilmu hukumnya wajib bagi setiap muslim. Menuntut ilmu agama hukumnya fardhu ‘ain; sedangkan menuntut ilmu yang menyangkut kemashlahatan umum, hukumnya fardhu kifayah. Segala sesuatu ikut mendoakan orang yang sedang menuntut ilmu dan memintakan ampun kepada Allah untuknya sehingga semua ikan yang ada di laut pun memohonkan ampunan baginya.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah bersabda, “Orang yang paling menyesal di hari kiamat adalah seseorang yang mendapat kesempatan untuk mencari ilmu (agama) ketika hidup di dunia tetapi ia tidak mau mencarinya, dan seseorang yang mengajarkan ilmu (agama) lalu yang diajarnya memanfaatkan (mengamalkan)nya sedangkan dia sendiri tidak.” (HR. Ibnu Asakir melalui Anas. R.a.)

Kelak di hari kiamat orang yang paling kecewa adalah orang yang menyia-nyiakan umurnya tanpa mencari ilmu agama, padahal kesempatan sudah terpenuhi baginya. Dikatakan demikian karena ia tidak dapat menemui pahala amalnya, sebab syarat utama diterimanya amal ialah ilmu, seperti yang dikatakan oleh seorang ulama bahwa setiap orang yang beramal tanpa ilmu, maka amalnya tidak diterima. Dan orang yang paling kecewa lainnya kelak di hari kiamat adalah orang yang tidak memanfaatkan atau mengamalkan ilmunya, melainkan orang yang mendengar darinyalah yang mengamalkannya. Ia merasa kecewa karena dia yang mengajarkannya tetapi tidak memperoleh pahala, sedangkan orang yang diajarinya memperoleh pahala berkat amalnya.

Padahal seandainya ia mengamalkan ilmunya, niscaya pahalanya akan jauh lebih besar daripadanya. Akan tetapi, bukan rasa kecewa saja yang bakal dialaminya, bahkan sebaliknya ia mendapat siksaan yang pedih.

Kata ilmu berasal dari akar kata kerja ‘alima, yang berarti memperoleh hakikat ilmu, mengetahui, dan yakin. Ilmu, yang bentuk jamaknya adalah ‘ulum, artinya ialah memahami sesuatu dengan hakikatnya, dan itu berarti keyakinan dan pengetahuan. Ilmu luas sekali ruang lingkupnya, artinya beberapa jenis ilmu.

Rasulullah Saw. telah bersabda, “Carilah ilmu sekalipun di negeri Cina, karena sesungguhnya mencari ilmu itu wajib atas setiap muslim. Sesungguhnya para Malaikat menaungkan sayapnya kepada orang yang mencari ilmu karena ridha terhadap amal perbuatannya itu.” (HR. Ibnu Abdul Barr).

Hadits ini sama dengan yang di atas bahwa mencari ilmu itu wajib hukumnya, terlebih lagi ilmu agama karena ilmu agama dapat mengantarkan pemiliknya kepada kebahagiaan di dunia dan akhirat. Orang yang mencari ilmu didoakan oleh semua malaikat sehingga digambarkan dalam hadits ini bahwa mereka menaungkan sayapnya kepada orang-orang yang sedang menuntut ilmu karena mereka ridha terhadapnya. Dalam hadits di atas disebutkan bahwa orang yang mencari ilmu itu didoakan oleh semua makhluk hidup sehingga ikan-ikan yang ada di laut pun ikut mendoakannya.

Pengertian negeri Cina dalam hadits ini menunjukkan pengertian negeri terjauh; dan hadits ini sekaligus merupakan bukti sejarah bahwa bangsa Arab pada saat itu telah mengenal adanya negeri Cina. Demikian pula sebaliknya, orang-orang Cina pun telah mengenal adanya negeri Arab. Atau makna yang dimaksud ialah mencari ilmu yang berkaitan dengan mashlahat orang banyak karena sejak zaman dahulu negeri Cina terkenal sebagai negeri pembuat kertas dan lain-lainnya yang tidak terdapat di negeri Arab. Berdasarkan pengertian ini, maka makna yang dimaksud ialah carilah ilmu apa pun yang bermanfaat bagi kepentingan orang banyak.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah bersabda, “Bersegeralah kalian untuk menunut ilmu (agama) karena satu hadits yang dikemukakan oleh orang yang jujur merupakan hal yang lebih baik daripada dunia dan emas serta perak yang ada di dalamnya.” (HR. ar-Rafi’i). Dan dalam hadits yang lain dinyatakan, “Orang yang menuntut ilmu berarti menuntut rahmat; orang yang menuntut ilmu berarti menjalankan rukun Islam dan pahala yang diberikan kepadanya sama dengan pahala para nabi.” (HR. Dailami dari Anas R.a.).

Dua hadits ini maknanya bahwa pahala mencari ilmu, khususnya ilmu agama, amat besar sehingga suatu hadits yang didapat dari orang yang dipercaya mengatakan bahwa pahalanya jauh lebih baik daripada dunia dan seisinya. Seorang penuntut ilmu berarti menuntut rahmat dan melakukan Rukun Islam, pahalanya diberikan bersama-sama dengan para nabi.

Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Menunut ilmu lebih utama di sisi Allah daripada shalat, shaum, haji, dan berjihad di jalan Allah Swt.” (HR. ad-Dailami). Dan dalam hadits yang lain dinyatakan, “Berpagi hari dan bersore hari untuk mencari ilmu (pahalanya) lebih baik daripada berjihad di jalan Allah.” (HR. ad-Dailami melalui Ibnu Abbas r.a).

Dikatakan demikian karena ilmu merupakan kunci dari segala sesuatu. Barang siapa yang menghendaki pahala akhirat maka ia harus berilmu, begitu pula dengan yang lainnya. Setiap orang yang beramal tanpa ilmu, maka amalnya ditolak dan tidak diterima karena syarat utama bagi diterimanya suatu amal ialah ilmu. Oleh karena itu, dikatakan bahwa tidurnya orang yang ‘alim lebih baik daripada ibadahnya orang yang bodoh (tidak ‘alim).

Pada hadits yang lain telah disebutkan bahwa berangkat berjihad di jalan Allah jauh lebih baik pahalanya daripada dunia dan isinya. Akan tetapi, dalam hadits ini disebutkan bahwa lebih besar lagi pahala orang yang menuntut ilmu, khususnya ilmu agama.

Rasulullah Saw. telah besabda, “Mengetahui ilmu fiqih walaupun sedikit, lebih baik daripada banyak ibadah, dan cukuplah ilmu fiqih seseorang bila dapat menuntunnya untuk beribadah kepada Allah; dan cukuplah kebodohan seseorang bila ia merasa kagum dengan pendapatnya sendiri. Dan sesungguhnya manusia itu ada dua macam, yaitu orang mukmin dan orang jahil (bodoh dalam masalah agama). Karena itu janganlah engkau menyakiti orang mukmin dan jangan pula engkau berdebat dengan orang jahil.” (HR. Thabrani melalui Ibnu Umar R.a.). Dan dalam hadits yang lain dinyatakan, “Bagi segala sesuatu ada jalannya, dan jalan untuk ke surga adalah ilmu (agama).” (HR. ad-Dailami dari Ibnu Umar R.a.). Juga dalam hadist yang lain disebutkan, “Barang siapa yang keluar untuk mencari ilmu (agama), berarti ia berada di jalan Allah hingga kembali.” (HR. Turmudzi).

Ahli Fiqih dipandang lebih baik karena ilmunya dapat menuntunnya untuk banyak beribadah kepada Allah, yakni mengamalkan ilmunya. Dan orang bodoh yang sesungguhnya ialah orang yang merasa kagum dengan pendapatnya sendiri. Barang siapa yang menghendaki dunia, maka ia harus menguasai ilmunya; dan barang siapa yang menghendaki akhirat, maka ia harus mengetahui pula ilmunya. Orang yang sedang menuntut ilmu pahalanya sama dengan orang yang sedang berjihad di jalan Allah, hingga ia kembali ke tempat tinggalnya.

Seorang Muslim harus mengetahui hukum. Jika tidak, maka ia mudah tergelincir ke dalam perkara yang dimurkai Allah Swt., suka atau tidak suka. Sebab, seorang yang bodoh, senantiasa mudah terperosok dalam kemurkaan Allah Swt. dan terbenam dalam kecelakaan, disebabkan kebodohannya. Betapa tidak! Mungkin, perkara yang wajib dikiranya haram dan dikatakan tidak wajib. Sebaliknya, yang haram dianggap wajib sebagai suatu ketaatan, sehingga dikatakan tidak haram. Dalam hadits disebutkan, “Janganlah engkau menjadi orang yang bodoh (dalam masalah agama) karena akibatnya engkau pasti celaka, baik di dunia maupun di akhirat.” Wallahu A’lam bish Shawab.

Drs.H.Karsidi Diningrat M.Ag

* Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung
* Mantan Ketua PW Al Washliyah Jawa Barat

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *