oleh

Kemuliaan dan Keistimewaan Rasulullah SAW dari Nabi-Nabi Lainnya

ALLAH Subhanahu Wata’ala telah berfirman, “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiyaa, 21: 107). “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS. Al-Israa, 17: 70).

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. telah bersabda, “Di hari Kiamat kudatangi pintu surga, lalu kuminta dibukakan. Malaikat penjaga surga bertanya” “Siapakah engkau?” lalu kujawab: “Muhammad”. Dia berkata: “Karena engkaulah aku diperintahkan agar tidak membuka pintu surga bagi seorang pun sebelummu.” (HR. Ahmad melalui Anas r.a.).

Di antara keistimewaan yang dimiliki Nabi Muhammad Saw. ialah, beliau orang pertama yang membuka pintu surga, sehingga malaikat penjaga pintu surga berkata: “Aku diperintahkan agar tidak membukakan pintu surga kepada siapa pun yang sebelum engkau.” Hal ini jelas menunjukkan betapa tingginya kedudukan Nabi Muhammad Saw di sisi Allah Swt. Maka tidak heran apabila beliau dijuluki sebagai makhluk Allah yang paling mulia dan terhormat, sebagai pemilik Syafa’atul ‘Uzhma. Hal ini digambarkan dalam hadis: “Manakala para nabi tidak ada yang berani menghadap kepada Allah Swt. untuk memohon syafaat.”

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah bersabda, “Aku telah diberi lima perkara yang belum pernah diberikan kepada seorang Nabi pun sebelumku, yaitu: aku diberi pertolongan dengan rasa takut (pada hati musuh) dalam jarak perjalanan sebulan; aku telah diberi kunci-kunci perbendaharaan bumi; bumi dijadikan untukku sebagai masjid dan alat untuk menyucikan; umatku dijadikan sebagai umat yang paling baik; aku telah diberi syafaat; para Nabi diutus untuk kaumnya secara khusus; sedangkan aku diutus untuk segenap manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Apabila musuh hendak menyerang Nabi Saw., maka Allah menimpakan kepada mereka rasa gentar dan takut terhadapnya, sebelum mereka sampai kepadanya dalam jarak perjalanan sebulan. Hal ini merupakan salah satu mukjizat yang dimiliki oleh Nabi Saw. Kunci-kunci perbendaharaan bumi hanya diberikan kepada Nabi Saw., sebelum itu tiada seorang nabi pun yang diberikan hal serupa. Dan memang hal ini menjadi kenyataan karena kekayaan yang terkandung di dalam bumi baru dapat dikeluarkan oleh umatnya.

Masjidan, dapat dijadikan sebagai tempat untuk bersujud, yakni untuk mengerjakan salat, menyembah Allah Swt. Salah satu di antara keistimewaan Nabi Saw. yang berbeda dengan nabi-nabi lain sebelumnya ialah bahwa bumi dapat dijadikan sebagai tempat untuk salat. Lain halnya dengan nabi-nabi terdahulu, ibadah mereka hanya dapat dilakukan pada tempat-tempat tertentu saja, yaitu dalam rumah peribadatan masing-masing. Misalnya umat Yahudi bila hendak mengerjakan misanya tidak diperkenankan disembarang tempat, melainkan di sinagog-sinagog mereka. Dan untuk umat Nashrani hanya diperkenankan mengerjakan misanya di gereja-gereja.

Thahuuran, suci dan menyucikan. Bumi dijadikan oleh Allah Swt. bagi Nabi Muhammad Saw. suci dan menyucikan. Maksud suci ialah, dapat dipakai untuk beribadah di atasnya, dan yang dimaksud menyucikan ialah dapat dipakai untuk bertayamum apabila tidak ada air. Dalam hal ini Allah Swt. telah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah. Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Maidah” 6).

Mengingat Nabi Muhammad Saw. adalah nabi yang paling baik dan paling utama, maka umatnya pun merupakan umat yang paling baik. Dalam hal ini Allah telah berfirman, “Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali-Imran, 110). Aku diberi izin untuk memberikan syafaat, yang dimaksud adalah Syafa’atul Kubra. Para nabi terdahulu diutus hanya untuk kaumnya masing-masing, sedangkan Nabi Muhammad Saw. diutus untuk seluruh umat manusia.

Sebagaimana Rasulullah Saw. bersabda, “Aku adalah penghulu anak Adam di hari kiamat, tanpa membanggakan diri, dan di tanganku terletak panji pujian, tanpa membanggakan diri. Tiada seorang nabi pun di hari tersebut (hari kiamat) mulai dari Nabi Adam hingga nabi-nabi lainnya kecuali berada di bawah panjiku. Aku adalah orang pertama yang bumi terbelah karena aku keluar dari dalamnya, tanpa membanggakan diri, dan aku adalah orang pertama yang dapat memberi syafaat, serta aku adalah orang pertama yang diperbolehkan memberi syafaat, tanpa membanggakan diri.” (HR. Imam Ahmad melalui Abu Sa’id al-Khudri r.a.). Juga dalam hadits yang lain ditegaskan, “Semua anak Adam kelak di hari kiamat berada di bawah panjiku, dan aku adalah orang pertama yang dibukakan pintu surga.” (HR. Ibnu Asakir melalui Hudhaifah).

Hadis ini menceritakan tentang keutamaan Nabi Muhammad Saw. Beliau adalah makhluk Allah yang paling mulia secara mutlak. Keutamaan dan kemuliaannya dapat kita baca melalui hadis ini yang menyatakan, bahwa Nabi Saw. adalah pemimpin semua anak Adam di hari kiamat kelak. Di tangan beliaulah terpegang panji Al-Hamdu (pujian). Semua nabi sejak dari Nabi Adam sampai nabi-nabi yang lainnya, berada di bawah panji Muhammad Saw. Atau dengan kata lain, tiada seorang nabi pun yang berani memohon syafaat kepada Allah Swt. sebelum Nabi Saw., dan tiada seorang pun yang diizinkan memasuki surga kecuali setelah Nabi Saw. Beliau adalah orang yang mula-mula bumi terbelah mengeluarkannya sebelum manusia lainnya. Beliau adalah orang pertama yang diizinkan memberi syafaat. Selain itu Nabi Muhammad Saw. adalah seorang nabi yang paling banyak pengikutnya karena syariat beliau terus berlangsung hingga hari kiamat. “Syafaatku di hari kiamat merupakan perkara yang hak (benar), barang siapa yang tidak mempercayainya berarti ia bukan ahlinya (tidak akan mendapatkan syafaat).” (HR. Ibnu Muna’i melalui Zaid ibnu Arqam). Barang siapa yang tidak percaya akan adanya syafaat, maka ia tidak akan mendapat syafaat.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah bersabda, “Sesungguhnya setiap nabi mempunyai suatu doa yang telah ia gunakan untuk umatnya, lalu doanya dikabulkan. Tetapi aku sengaja menyimpan doaku sebagai syafaat bagi umatku kelak di hari kiamat.” (HR. Syaikhan melalui Anas R.a.).

Setiap Nabi mempunyai doa untuk umatnya, bila ia panjatkan niscaya doanya itu diperkenankannya. Seperti yang telah dilakukan oleh Nabi Nuh a.s., ia telah memohon kepada Allah agar umatnya dibinasakan. Hal ini dikisahkan dalam Al-Qur’an Surat Nuh, 71: 26-28). Nabi Muhammad Saw., menyimpan doanya itu hingga hari kiamat untuk memohon kepada Allah agar ia diperkenankan memberi syafaat kepada umatnya. Alangkah sayangnya nabi Muhammad Saw. kepada umatnya. Hal ini tidak akan kita jumpai pada nabi-nabi terdahulu.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah bersabda, “Seandainya Nabi Musa diturunkan lalu kalian mengikutinya dan meninggalkan aku, niscaya kalian sesat. Aku adalah bagian kalian dari para nabi, dan kalian adalah bagianku dari kalangan umat manusia.” (HR. Baihaqi dari Abdullah ibnul Haris).

Hadis ini menerangkan bahwa, jangankan manusia biasa, bahkan seandainya Nabi Musa diikuti, lalu Nabi Muhammad Saw. ditinggalkan, niscaya orang yang bersangkutan masih dikatakan sesat karena zaman sekarang adalah zamannya Nabi Muhammad Saw. dan semua orang yang ada padanya menjadi umatnya. Barang siapa yang mengikuti kepada selain Nabi Muhammad Saw., maka ia adalah sesat. Dapat disimpulkan dari hadis ini bahwa agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. berfungsi me-manshuh semua agama yang dibawa oleh nabi-nabi terdahulu. Wallahu A’lam bish Shawab.

Karsidi Diningrat adalah dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung serta anggota PB Al Washliyah Jakarta.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *