oleh

Jangan Meniru Tasyabbuh: Sikap Meniru Kaum Kafir

MASALAH tasyabbuh ini merupakan topik yang sangat penting dan harus dimengerti oleh kita sebagai kaum muslimin. Karena muslimin di zaman sekarang ini sangat banyak yang terjebak dalam perangkat tasyabbuh yang sangat membahayakan terhadap dien Islam. Bahkan telah ada sebagian di antara kita yang derajat ketasyabbuhannya berada pada tingkat kufur dan ada pula yang sesat (dhalal).

Bahkan ada juga yang jatuh kepada tingkatan bid’ah. Walaupun penyakit tasyabbuh ini telah pula menimpa orang-orang zaman dahulu, akan tetapi tidak sampai separah sekarang. Kita dapat menemukan bahwa kaum muslimin di zaman sekarang ini mengikuti golongan selain mereka dalam sebagian besar perkara, kecuali orang-orang yang benar-benar dijaga Allah Azaa wa Jalla.

Sangat disayangkan kaum muslimin sekarang ini dalam mengikuti jejak langkah orang-orang kafir dalam segala jenis perkara, tidak saja mengikuti dalam satu segi dari perkara-perkara ibadah, adat-istiadat, atau yang lainnya, tetapi mengikutinya secara menyeluruh dalam segala aspek kehidupan. Baik dalam akidah, syariat, akhlak, pola tingkah laku, pola berfikir, metode pendidikan, ekonomi maupun politik. Karena itu adalah kewajiban kita untuk membendung segala hal yang membawa kepada kubangan dan jebakan-jebakan orang-orang kafir serta amalan-amalan mereka yang menjadikan kita sebagai sasaran atau jajahannya.

Dalam hal ini Allah SWT. memperingatkan dengan tegas dalam firman-Nya, “Dan orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah, “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya).” Dan jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah ilmu (kebenaran) sampai kepadamu, tidak akan ada bagimu pelindung dan penolong dari Allah.” (QS. Al-Baqarah, 2: 120).

Rasulullah shallalalhu alaihi wa sallam telah bersabda, “Dan sungguh kalian pasti akan mengikuti jejak orang-orang sebelum kalian setapak demi setapak dan sejengkal; demi sejengkal. Hingga, kalaupun mereka masuk ke lubang biawak kalian pasti akan mengikutinya. Kami (Para sahabat) bertanya, “Ya Rasulullah, jejak orang-orang Yahudi dan Nashranikah?” Beliau menjawab, “Siapa lagi kalau bukan mereka!’ (HR. Bukhari & Muslim). Dalam hadits yang lain disebutkan, “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka.” (HR. Dawud).

Al-Tasyabbuh, secara bahasa diambil dari kata al-musyabahah yang artinya meniru atau mencontoh, menjalin atau mengaitkan diri, dan mengikuti. At-Tasybih berarti peniruan. Dan mutasyabihat berarti mutamatsilat (serupa). Dikatakan artinya serupa dengannya meniru dan mengikutinya.

Tasyabbuh yang dilarang dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah secara syar’i adalah menyerupai orang-orang kafir dalam segala bentuk dan sifatnya, baik dalam akidah, peribadatan, kebudayaan, atau dalam pola tingkah laku yang menunjukkan ciri khas mereka atau kaum kafir. Karena tasyabbuh dalam perkara lahir akan membawa pada tasyabbuh dalam perkara batin, oleh karenanya syariat hendak memutus segala jalan dan arah datangnya segala keburukan.

Termasuk dalam tasyabbuh yaitu meniru terhadap orang-orang yang tidak shaleh, walaupun mereka itu dari kalangan kaum muslimin. Seperti orang-orang fasik, orang-orang awam dan jahil atau orang-orang yang tidak sempurna keislamannya. Oleh karena itu, secara global kita katakan bahwa segala sesuatu yang tidak termasuk ciri khusus orang-orang kafir, baik akidahnya, adat istiadatnya, peribadatannya, dan hal itu tidak bertentangan dengan nash-nash serta prinsip-prinsip syari’ah atau tidak dikhawatirkan bakal membawa kepada kerusakan, maka tidak termasuk tasyabbuh. Inilah pengertian secara global.

Dalam pandangan Dr. Nasir Bin Abdul Karim Al-Aql, bahwa yang menjadi penyebab pelarangan tersebut yang salah satunya adalah, “semua perbuatan orang kafir pada dasarnya dibangun di atas fondasi kesesatan dhalalah dan kerusakan fasad. Inilah sebenarnya titik tolak dari semua perbuatan dan amalan orang-orang kafir, baik yang bersifat menakjubkan kita atau tidak, baik yang zhahir (nampak nyata) kerusakannya ataupun yang berselubung. Karena sesungguhnya yang menjadi dasar semua aktifitas orang-orang kafir adalah dhalal (sesat), inhirat (menyeleweng dari kebenaran) dan fasad (rusak). Baik dalam akidah, adat istiadat, ibadah, perayaan-perayaan hari besar, ataupun dalam pola tingkah lakunya. Adapun kebaikan yang mereka perbuat hanyalah merupakan suatu pengecualian saja. Oleh karena itu jika ditemukan pada mereka perbuatan-perbuatan baik, maka di sisi Allah tidak memberi arti apapun baginya dan tidak diberi pahala sedikit pun”.

Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT, “Dan Kami akan perlihatkan segala amal, yang mereka kerjakan, lalu Kami akan jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (QS. Al-Furqan, 25: 23).

Sedangkan dalam beberapa ketentuan Islam– bahwa dien (Islam) dibangun di atas fondasi yang dinamakan at-taslim, yakni penyerahan diri secara totalitas kepada Allah dan Rasul-Nya saw. Sedang at-taslim sendiri bermakna membenarkan seluruh yang diberitahukan Allah Ta’ala tunduk kepada perintah-perintah-Nya serta menjauhi larangan-larangan-Nya. Kemudian membenarkan apa-apa yang disampaikan Rasul-Nya saw. tunduk kepada perintah beliau, menjauhi larangannya dan mengikuti semua petunjuk-petunjuk beliau. Oleh karena itu kita dapat mengatakan, bahwa faktor yang menyebabkan kita dilarang bertasyabbuh dengan orang-orang kafir banyak sekali dan sebagian besar dapat diterima oleh akal sehat dan fitrah yang suci.

Dalam masalah tasyabbuh ini ada beberapa hukum umum yang meliputi semua jenis tasyabbuh yang bersifat menyeluruh, bukan bersifat parsial. Hukum umum tersebut antara lain sebagai berikut:

_Pertama_ , Ada beberapa perkara dari perbuatan tasyabbuh terhadap orang-orang kafir bisa dihukumi sebagai perbuatan syirik atau kufur. Seperti tasyabbuh dalam bidang keyakinan, beberapa perkara masalah ibadah, misalnya tasyabbuh terhadap orang-orang Yahudi, Nashrani, atau Majusi dalam perkara-perkara yang berhubungan dengan masalah tauhid dan akidah. Contohnya seperti ta’thil yakni menafikan dan mengkufuri nama-nama dan sifat-sifat Allah SWT, meyakini kemanunggalan hamba dengan Allah, takdis (mensucikan) orang-orang shaleh kemudian berdoa serta beribadah kepada mereka, dll. Semua itu kalau tidak syirik pasti kufur hukumnya.

_Kedua_ . Ada pula dari beberapa perbuatan yang menjerumuskan kepada perbuatan maksiat dan kefasikan. Seperti taklid kepada adat istiadat atau budaya kafir. Contohnya seperti makan dan minum dengan tangan kiri, laki-laki menyerupai wanita, atau wanita menyerupai laki-laki dan lain sebagainya.

_Ketiga_ . Tasyabbuh bisa dihukumi sebagai perbuatan yang makruh bila timbul keragu-raguan antara mubah atau haram karena tidak ada kejelasan hukum. Maksudnya, kadang-kadang dalam beberapa masalah tingkah laku, adat atau kebudayaan, serta beberapa masalah keduniaan masih diragukan kedudukan hukumnya. Apakah masalah tersebut termasuk suatu perkara yang dibenci ataukah sesuatu yang mubah (dibolehkan). Namun, demi menjaga agar seorang muslim tidak terperosok, maka dihukumi sebagai sesuatu yang makruh.

Tentang larangan bertasyabbuh, baik Dr. Nasir bin Abdul Karim Al-Aql, Prof. Dr. Muhammad Sayyid Thantawi, Muhammad Sa’id Al-Qahthani, dan Abdullah Ahmad Qadiri terhadap hal yang bersifat umum berpendapat ada empat perkara, antara lain:

_Pertama_ , Masalah Aqidah. Perkara ini adalah perkara yang paling besar dalam tasyabbuh. Bertasyabbuh dalam perkara ini hukumnya kufur dan syirik. Seperti mensucikan orang-orang shaleh, sharf, yakni salah satu cara beribadah kepada selain Allah. Kemudian seperti mendakwakan “Anak” atau “Bapak” kepada Allah terhadap salah satu ciptaan-Nya. Hal itu sebagaimana dakwaan orang-orang Nashrani yang mengatakan bahwa Al-Masih anak Allah, atau seperti dakwaan orang-orang Yahudi bahwa Uzair adalah anak Allah. Demikian juga At-Tafarruq (berpecah belah) dalam agama. Dan perkara-perkara lain yang digolongkan dalam bentuk kekufuran dan kemusyrikan. Sebab semua itu merupakan masalah akidah.

_Kedua_ , Yang berhubungan dengan Hari Besar atau perayaan-perayaan. Hari-hari besar (perayaan-perayaan) walau sebagian besar termasuk dalam perkara ibadah, tetapi kadang-kadang ada beberapa bagian yang termasuk adat-istiadat. Kecuali yang dikhususkan dalam syariat dengan dalil-dalil yang banyak dan mengingat pentingnya, maka dikhususkan pelarangannya dengan alasan ada unsur tasyabbuh di dalamnya.

_Ketiga_ , Masalah Ibadah. Khusus bagi kaum muslimin, bahwa dalam satu tahun hanya ada dua hari raya saja. Seperti telah diketahui bahwa tidak disyariatkan berhari raya kecuali Idul Adha dan Idul Fitri. Sesungguhnya memperbanyak hari besar merupakan ajaran agama Ahli Kitab, orang-orang kafir, musyrikin, Majusi dan orang-orang jahiliyah.

Seperti yang termaktub dalam syariat bahwa Nabi Saw. secara terperinci melarang bertasyabbuh dengan orang-orang kafir dalam perkara peribadatan. Di antaranya seperti mengakhirkan shalat maghrib, meninggalkan makan sahur, mengakhirkan berbuka puasa, dll.

_Keempat_ , Masalah Tradisi, Akhlak, Tingkah Laku. Seperti pakaian, misalnya. Ini dinamakan sebagai petunjuk lahiriah. Dan petunjuk lahir tersebut diamati dari rupa, bentuk, pola tingkah laku, dan akhlak. Telah dinyatakan pula secara nyata dan jelas tentang keharaman bertasyabbuh dalam beberapa perkara, baik secara keseluruhan maupun secara sebagian-sebagian. Seperti memakai bejana atau piring dari emas, memakai pakaian yang merupakan syi’arkan orang-orang kafir, bertabarruj (menampakkan perhiasan tubuh (aurat) kepada lelaki yang bukan mahram), ikhtilath bergaul campur antar lawan jenis kelamin yang bukan mahram), laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki, dan segala bentuk tradisi kafir lainnya.

Para ulama berpendapat setelah menelaah dan mengkaji nash-nash syar’i maka akan dapat mengenali beberapa golongan (yang dilarang untuk ditiru). Tidak saja secara garis besar, tetapi bahkan secara mendetail, di antaranya: Golongan Pertama, Orang kafir. Golongan Kedua, Orang-orang musyrik.

Golongan ketiga, Ahli Kitab. Golongan keempat, Orang-orang Majusi. Golongan kelima, Persia dan Romawi. Golongan keenam, Orang-orang ‘Ajam Yang Bukan Muslimin. Golongan ketujuh, Orang-orang Jahiliyah dan Ahlinya. Golongan kedelapan, Setan. Golongan kesembilan, Orang-Orang Baduy (Arab) yang tidak sempurna agamanya. _Wallahu_ _A’lam_ _bish-shawwab_

 

Drs.H. Karsidi Diningrat, M.Ag

* Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung
* Wakil Ketua Majelis Pendidikan PB Al Washliyah.
* Mantan Ketua PW Al Washliyah Jawa Barat.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *