oleh

Gunakan Panjang Umur Dalam Ketaatan

ALLAH Subhanahu Wa ta’ala telah berfirman, “Dan setiap yang bernyawa tidak akan mati kecuali dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barangsiapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala (dunia) itu, dan barangsiapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan pula kepadanya pahala (akhirat) itu, dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali Imran, 3:145).

Panjang umur dalam ketaatan dan beramal saleh adalah perkara yang sangat dituntut dan dianjurkan dalam agama. Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya kebahagiaan yang mencakup semua kebahagiaan adalah umur panjang lagi taat kepada Allah.” (HR. al-Khathib melalui Abdullah dari bapaknya). Tiada suatu kebahagiaan pun yang melebihi umur panjang seraya taat kepada Allah Swt. karena semakin panjang umurnya, semakin banyak pula pahala yang akan diperolehnya di hari kemudian. Dalam hadits lain disebutkan, “Sebaik-baik kamu adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalannya.”

Selagi umur yang panjang itu dihabiskan dalam ketaatan dan kebaktian kepada Allah Swt., maka kebajikan-kebajikan pun akan bertambah dan derajat pun semakin meningkat. Sebaliknya, jika umur yang panjang dihabiskan dalam kemaksiatan dan kedurhakaan kepada Allah Swt., dan zalim terhadap orang lain, maka yang demikian itu merupakan bala dan kecelakaan, karena ia akan menambah kejahatan dan memperbanyak dosa.

Barangsiapa menuntut panjang umur di dunia untuk memperbanyak amal saleh yang bisa mendekatkan diri kepada Allah Swt., lalu ia benar dalam tuntutannya yakni, setiap hari mengerjakan amal bakti dan berkecimpung di dalamnya dengan menjauhkan diri dari segala urusan dunia yang bisa menghalanginya dari beramal, maka ia terhitung sebagai orang yang benar.

Sebaliknya, jika ia bermalas-malasan dan selalu mengabaikan amal saleh, maka nyatalah bahwa ia terhitung sebagai seorang pendusta yang menuntut sesuatu tanpa ada faedah. Sebab, seseorang yang mencintai sesuatu perkara, tentu ia akan memperhatikan benar-benar perkara itu. Ia senantiasa khawatir bila perkara itu terlepas dari tangannya, atau ia akan terhalang dari perkara yang dicintainya itu. Terlebih lagi, karena amal saleh itu tidak bisa dikerjakan melainkan hanya di dunia. Negeri akhirat bukanlah tempat untuk beramal saleh. Ia adalah tempat balasan bukan tempat amalan.

Rasulullah shallalalhu Alaihi wa sallam bersabda, “Allah Swt. telah berfirman, “Apabila hamba-Ku telah mencapai umur empat puluh tahun, niscaya Aku hindarkan ia dari tiga macam penyakit, yaitu dari penyakit gila, lepra dan supak. Apabila ia mencapai umur lima puluh tahun, niscaya ia Aku hisab dengan hisab yang ringan. Apabila ia mencapai umur enam puluh tahun niscaya Aku jadikan ia senang untuk kembali kepada-Ku (bertaubat). Apabila ia mencapai umur tujuh puluh tahun ia dicintai oleh para malaikat. Apabila ia mencapai umur delapan puluh tahun, semua amal kebaikannya dicatat dan semua keburukannya dihapuskan. Apabila ia mencapai umur sembilan puluh tahun, para malaikat berkata, ‘Dia adalah kekasih Allah yang ada di bumi-Nya’, maka Allah mengampuni dosa-dosanya yang terdahulu dan yang akan datang, dan ia dapat memberi syafaat kepada keluarganya.” (HR. Hakim melalui Utsman r.a.).

Al-Inaabah kembali kepada Allah, yakni bertobat kepada-Nya dengan tobat yang murni. Yang dimaksud dengan hamba dalam hadits ini ialah hamba Allah yang beriman dan tidak pernah melakukan dosa-dosa besar. Demikianlah periode perjalanan hidup yang akan dialami oleh seorang hamba yang beriman dan beramal saleh; semakin panjang usianya, semakin meningkat ketakwaaannya.

Berusaha dan bersungguh-sungguhlah dalam mengerjakan amal saleh dengan penuh ketekunan dan kesabaran. Mulailah beramal saleh sejak sekarang sebelum terlambat. Gunakanlah kesempatan hidup ini sebelum ajal tiba secara mengejutkan. Sebab, kita senantiasa terbuka bagi malapetaka dan bencana, dan kapan saja kita bisa terperangkap dalam pelukan maut. Modal yang kita miliki untuk membeli kebahagiaan yang abadi dari Allah Swt., ialah umur kita. Waspadalah, jangan kita membelanjakan masa, hari, saat dan nafas kita pada sesuatu yang tidak mendatangkan manfaat dan faedah, karena kelak kita akan bersedih hati dan menyesalinya sesudah mati. Karena itu, kita baru sadar, bahkan kita telah menyia-nyiakan umur kita tatkala hidup di dunia dahulu.

Rasulullah Saw. bersabda, “Perbaikilah urusan dunia kalian dan beramallah untuk akhirat kalian seakan-akan kalian akan mati besok.” (HR. ad-Dailami melalui Anas r.a.). Dalam hadis senada disebutkan, “Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan kamu hidup untuk selamanya, dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan kamu mati besok.” (HR. Ibnu Asakir).

Makna dua hadis ini merupakan tamsil yang menggambarkan kehidupan duniawi dan kehidupan ukhrawi, yakni bagaimana seseorang menjalani kedua kehidupan tersebut. Dunia ini tidak lain hanyalah rumah percobaan, sedangkan akhirat adalah tempat yang kekal. Dalam hal ini Allah telah berfirman, “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat ialah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (QS. Al-Ankabut, 29:64).

Perintah untuk memperbaiki urusan duniawi dalam hadits ini ialah agar yang halal dapat dijadikan bekal untuk kehidupan di hari kemudian, seperti yang difirman-Nya,”Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.” (QS. Al-Qashash, 28:77).

Mengingat hal yang diserupakan merupakan suatu hal yang mustahil, karena tiada seorang manusia pun yang hidup untuk selama-lamanya, maka dipakailah Ka-anna yang artinya: seakan-akan kamu benar-benar akan hidup selama-lamanya. Dalam hal ini Allah berfirman, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati, dan sesungguhnya pada hari Kiamat sajalah disempurnakan pahala kalian.” (QS. ALI Imran, 3:185).

Demikian pula masalah mati besok, hal ini merupakan suatu yang mustahil, karena sesungguhnya tiada seorang pun yang mengetahui dimana dan kapan kita akan mati. Masalah mati hanya diketahui oleh Allah. Allah Swt telah berfirman, “Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.” (QS. Luqman, 31:34).

Diriwayatkan, bahwa di akherat kelak, setiap manusia akan ditunjukkan amal kesehariannya, dari waktu siang hingga malam hari dalam bentuk peti-peti. Sehari semalam sebanyak dua puluh empat peti, setiap satu jam satu peti. Maka, ia akan menyaksikan masa yang telah dihabiskannya dalam ketaatan kepada Allah, berupa peti-peti yang dipenuhi dengan cahaya. Dan masa yang telah dihabiskannya dalam kemaksiatan berupa peti-peti yang gelap gulita. Sedangkan masa yang tersisa tanpa sesuatu amal pun, apakah ia amal baik atau pun jahat, didapatinya berupa peti-peti kosong, tiada berisi apapun jua. Maka, ia pun merasa kesal tatkala melihat peti-peti yang kosong itu. Mengapa tidak mengisinya dengan ketaatan supaya ia dipenuhi oleh cahaya.

Adapun peti-peti yang dipenuhi dengan kegelapgulitaan disebabkan perbuatan maksiat, kejahatan, kezaliman ketika di dunia dahulu, sekiranya bisa ditakdirkan ia mati ketika melihatnya, lantaran duka cita dan rasa kesal yang tak kunjung berakhir itu, niscaya ia akan memilih mati saja. Celakanya di akhirat tidak ada lagi kematian. Yang ada hanyalah balasan Tuhan Yang Maha Adil. Barangsiapa beramal saleh dan senantiasa taat kepada Allah, berbahagialah hidupnya dalam keadaan ceria dan gembira sepanjang masa. Setiap hari berlalu, semakin bertambah ceria dan gembiranya. Sedang bagi yang berbuat dosa dan senantiasa berbuat maksiat, kecewalah hidupnya dalam keadaan susah dan berduka cita. Bertambah hari, bertambah pula kesusahan dan duka citanya, sehingga tiada lagi berkesudahan.

Oleh sebab itu tepat sekali sabda Nabi Muhammad Saw, “Sebaik-baik manusia ialah orang yang diberi umur panjang dan digunakannya untuk berbuat baik kepada sesamanya; sejahat-jahat orang ialah mereka yang diberi umur panjang tetapi umur panjang itu digunakan untuk kejahatan”. Dengan demikian jelas bahwa gerak hidup kita yang 24 jam itu kita gunakan untuk taat kepada Allah, dan betapalah ruginya bila umur yang tersisa itu kita lewatkan begitu saja sebab dia tidak akan kembali lagi. Kita tidak kembali ke waktu tadi pagi, tidak bisa kembali kepada masa lampau.

Rasulullah shallalahu Alaihi wa sallam bersabda, “Pergunakanlah lima peluang sebelum datang yang lima lainnya, yaitu, “masa hidupmu sebelum tiba masa matimu; masa sehatmu sebelum tiba masa sakitmu; masa senggangmu sebelum tiba masa sibukmu; masa mudamu sebelum masa tuamu; masa kayamu sebelum tiba masa papa (miskinmu).” (HR. Baihaqi melalui Ibnu Abbas r.a.).

Makna hadits ini menganjurkan agar kita menggunakan kesempatan-kesempatan yang baik untuk mengerjakan amal saleh sebanyak-banyaknya agar di kala kesempatan itu tidak ada maka kita tidak kecewa karena kepergiannya. Untuk itu disebutkan, ingatlah lima perkara sebelum datang lima perkara lain yang menjadi lawannya. Ingatlah dalam masa hidupmu sebelum matimu, yaitu dengan memperbanyak amal saleh untuk bekal di hari kemudian sesudah mati. Ingatlah dalam masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu.

Atau dengan kata lain gunakanlah masa sehatmu itu untuk beribadah dengan giat dan rajin mencari penghidupan sebelum datang masa sakitmu. Jika seseorang terkena sakit, maka ia tidak lagi mampu mengerjakan amal-amal sunah dan tidak mampu lagi berusaha mencari penghidupan. Isilah masa senggangmu dengan banyak melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi dunia dan akheratmu, sebelum datang masa sibukmu. Gunakanlah masa mudamu untuk rajin bekerja, beribadah, dan menolong orang lain, sebelum datang masa tuamu. Dan beramallah di masa kayamu dengan banyak bersedekah dan membantu orang-orang yang miskin, sebelum datang masa miskinmu.

Rasulullah Saw. bersabda, “Semua umatku masuk surga kecuali orang yang menolaknya. Mendengar sabda tersebut para sahabat bertanya, “Siapa orang yang menolak itu, ya Rasulullah?” Rasulullah Saw. menjawab, “Orang yang menentang (perintah dan larangan)ku adalah orang yang menolak masuk surga.” (HR. Bukhari).

Jadikanlah kehidupan di dunia ini sebagai sarana untuk mencapai kebahagian yang abadi di akhirat karena sesungguhnya kehidupan di akhirat itu merupakan kehidupan yang hakiki. Oleh karena itu, hendaklah kita memilih kesempatan, waktu mana-mana yang mendatangkan kegunaan dan manfaat bagi diri kita, selagi kita masih bisa memilih. Sebab, jika kita sudah mati, ketika itu kita sudah tidak bisa memilih.Wallahu A’lam bish-shawwab.

Drs.H.Karsidi Diningrat M,Ag

* Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung
* Wakil Ketua Majelis Pendidikan PB Al Washiyah
* Mantan Ketua PW Al Washliyah Jawa Barat.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *