oleh

Empat Kerabat dan Harta Benda Tertimbun Longsor, Nenek Imi Stres

POSKOTA.CO – Raut wajah nampak lesu. Kedua matanya tak berkedip seolah sedang menerawang sesuatu. Mulut tak pernah berhenti bergerak seperti ada sesuatu yang hendak diceritakan.Selang beberapa menit kedua tangannya memegang ujung baju kemudian menyusut tetesan air mata yang membasahi pipinya.

“Gak apa-apa nenek hanya sedih setelah rumah, harta benda dan empat kerabat terurug longsor,” ungkap Imi,65,. Ia, tercatat salah seorang korban longsor Cimanggung, Sumedang yang menelan 40 korban tewas dan 8 korban lainnya masih terkubur.

Luapan kesedihan sang nenek meletus pada saat mahasiswa jurusan BKI, Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung menengok nya di tempat pengungsian. Kehadiran mahasiswa itu dimanfaatkan sang nenek dan para korban lainnya untuk curhat mengenai kesedihan hidupnya.

“Nenek dan korban lainnya masih stres karena peristiwa longsor terus membayang-bayangi pikiran.”

Terkadang lanjutnya ia susah tidur karena sedih. Namun, setelah mengungkapkan persoalan ini pada mahasiswa pikiran serasa ringan. “Sekarang nenek merasa plong dan lega. Kini nenek dan korban lainnya sudah pasrah karena semuanya kehendak Allah.”

Menanggapi curhatan para korban, satu di antaranya nenek Imi, mahasiswa hanya bisa membisu sambil mengusap-ngusap tubuh sang nenek dengan penuh kasih sayang. “Ibu yang sabar. Ini musibah. Tidak usah terlarut dalam kesedihan pasrahkan saja kepada Allah. Banyak berdoa” pinta seorang mahasiswa.

Kehadiran mahasiswa di pengungsian tiada lain untuk memberi bantuan dalam kerangka memulihkan fisik dan mental para korban. Mahasiswa yang tergabung dalam tim relawan bencana ini lebih dominan menampung keluh kesah warga yang trauma pasca longsor Cimanggung, Sumedang.

Tim relawan mahasiswa jurusan BKI UIN SGD Bandung di lokasi pengungsuan longsor, Sumedang.

“Kami berharap 41 mahasiswa jurusan BKI diharapkan dapat meringankan beban serta dapat memulihkan fisik dan mental mereka,” imbuh Sekjur BKI H Dede Lukman.

Setidaknya mahasiswa dengan bekal ilmunya bisa membangkitkan gairah hidup mereka. Ia menambahkan tim yang diturunkan walau jumhahnya terbatas diharapkan dapat bekerja opimal.

“Bantuan yang kami turunkan selain kebutuhan pokok, kesehatan juga progran trauma healing. “Alhamdulillah dalam kondisi protokol kesehatan yang lengkap tim dapat bekerja optimal meski medan cukup sulit dilalui.”

Tim relawan BKI yang beranggotakan 41 mahasiswa tercatat sebagai tim mahasiswa pertama yang menyantroni lokasi longsor. Terjunnya tim mahasiswa ini menandakan bahwa mahasiswa yang dijuluki kutu buku, dalam kondisi dan situasi tertentu mereka dapat mengubah diri menjadi kutu yang mampu menyatu dengan masyarakat yang membutuhkannya.(Dono Darsono/sir).

 

 48 total views

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *