ALLAH Subhanahu Wataala telah berfirman dalam surat Al-Isra’: 23-24. “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain kepada Allah, dan hendaklah berbuat santun terhadap kedua orang tua. Apabila salah seorang atau keduanya sudah lanjut usianya, janganlah sekali-kali engkau berkata ‘ _cis_ ‘ kepada mereka, dan janganlah membentak mereka. Berkatalah dengan sopan dan lemah-lembut, sayangi dan cintailah keduanya, dan berdo’alah: “Ya Allah, sayangilah mereka keduanya, sebagaimana mereka telah memeliharaku waktu kecil.”
Juga Allah berfirman dalam surat Luqman: 14. “Dan kami perintahkan manusia, supaya berbakti kepada orang tuanya. Ibunya yang telah bersusah payah mengandungnya, sampai ia berumur 2 tahun baru di sapihnya. Hendaklah berterimakasih kepada-Ku dan kepada ibu-bapakmu, dan kepada-Ku lah tempat kembali.”
Terhadap kedua ibu-bapak, Allah telah memerintahkan kita agar berbakti dan berbuat baik kepada keduanya, melarang kita mendurhakainya dengan larangan yang keras dan memperingatkan kita dengan sekeras-keras peringatan. Sebagaimana dalam firman-Nya yang di atas.
Firman-Nya lagi, “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak”. (an-Nisa’: 36). Juga dalam firman-Nya lagi, “Kami! Perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah (pula)”. (al-Ahqaf: 15).
Begitulah firman-Nya tentang perintah kita untuk menghormati terhadap kedua orang tua kita.
Berkata Abdullah bin Mas’ud ra., “Saya pernah bertanya kepada Rasulullah Saw., kataku, “Manakah satu amalan yang lebih dicintai Allah,?” Jawab beliau, “Shalat pada waktunya”. Tanyaku lagi, “Apalagi sesudah itu?” Jawab beliau, “Berbakti kepada kedua ibu-bapak”. Tanyaku lagi, “Sesudah itu apa lagi?” Jawab beliau, “Berjihad fi sabilil-‘Lah”.
Rasulullah bersabda lagi, “Ridha Allah tergantung kepada ridha kedua ibu-bapak, dan murka Allah, tergantung kepada murka kedua ibu-bapak”. (HR.Al-Hakim). Dan dalam hadis yang lain disebutkan, “Barang siapa membuat suka kedua orang tuanya, berarti ia telah membuat Allah rela (kepadanya); dan barang siapa membuat kedua orang tuanya murka, berarti ia telah membuat Allah murka kepadanya.” (HR. Bukhari melalui Anas r.a.). Juga dalam hadis lain disebutkan, “Taat kepada orang tua berarti taat kepada Allah, dan durhaka kepada orang tua berarti durhaka kepada Allah.” (HR. Imam Thabrani).
Dapat disimpulkan dari tiga hadis ini bahwa rida Allah berkaitan dengan rida kedua orang tua, dan murka Allah berkaitan dengan murka kedua orang tua. Dikatakan demikian karena barang siapa yang berbakti kepada kedua orang tuanya hingga keduanya merasa puas (rida) kepadanya, berarti ia benar-benar menjalankan perintah Allah Swt. yang menganjurkannya agar berbakti dan berbuat baik kepada kedua orang tua. Dan barang siapa yang durhaka kepada kedua orang tuanya, berarti ia durhaka kepada Allah Swt. karena tidak menuruti perintah-Nya. Hal ini selama kedua orang tua tidak memerintahkan kepada kedurhakaan. Akan tetapi, apabila kedua orang tua memerintahkan kepada kedurhakaan atau kemaksiatan, maka tidak ada ketaatan terhadap siapa pun bila diperintahkan untuk maksiat kepada Allah Swt.
Karena saking penting penghormatan terhadap kedua orang tua dari anaknya, Rasulullah Saw. berulang-ulang bersabda, “Dosa paling besar ada tiga yaitu: Menyekutukan Allah, mendurhakai kedua ibu-bapak dan bersaksi palsu”. Sabdanya lagi, “Celakalah orang yang mendapati kedua ibu-bapaknya atau salah seorang dari keduanya pada umur tua, sedang mereka menyebabkannya tidak bisa masuk surga”.
Maksudnya dari hadits di atas bahwa, seorang anak tidak berbakti kepada kedua ibu-bapaknya, sehingga perkara itu menghalangi dirinya masuk surga. Kebaktian ini diutamakan pada usia tua, lantara pada masa itu, kedua ibu-bapak sangat mengharapkan bantuan dan pemeliharaan anak-anaknya dibanding ketika mereka masih relatif muda (kuat
tubuhnya).
Dalam sebuah riwayat, “Barang siapa di pagi hari taat kepada Allah melalui berlaku taat terhadap kedua orang tuanya, niscaya baginya ada dua pintu surga yang terbuka, apabila orang tuanya tinggal seorang, maka pintu surga yang terbuka hanya satu.” (HR. Ibnu Asakir melalui Ibnu Abbas r.a.).
Orang yang berbakti kepada kedua orang tuanya yang masih hidup, kelak di hari kemudian ada dua pintu surga yang memanggilnya untuk masuk ke dalamnya. Jika yang masih hidup itu hanya salah seorangnya saja, maka pintu surga yang memanggilnya satu pula.
Sekali peristiwa, seorang lelaki datang kepada Rasulullah Saw. memohon izin untuk berjihad. Lalu beliau bertanya kepadanya, “Adakah kedua ibu-bapakmu masih hidup? Jawabnya, “Benar” Beliau bersabda lagi, “Kepada keduanyalah seharusnya engkau berjihad”. (Mutafaq alaih).
Pada peristiwa yang lain, beliau pernah ditanya pula, “Apakah hak kedua ibu-bapak yang wajib atas anaknya?” Jawan beliau, “Keduanya adalah penyebab engkau masuk surga atau neraka”. (Ibnu Majah).
Dalam sabdanya yang lain berbunyi, “Barangsiapa yang suka umurnya dipanjangkan Tuhan, rizkinya ditambah, maka hendaklah ia berbakti kepada kedua ibu-bapaknya dan menghubungkan silaturahmi kepada keluarga.” Sabdanya lagi, “Tiga perkara diharamkan Allah Swt. mencium bau surga yaitu: Peminum arak, pendurhaka kepada kedua ibu-bapak, dan lelaki nista yang menyetujui perbuatan keji istrinya.”
Sebuah riwayat mengatakan, bahwa berbakti kepada ibu bapak adalah lebih utama dari amalan haji, umrah dan berjihad fi sabilil-Lah. Dan bahwa Allah Swt. tidak ingin melihat seorang pendurhaka kepada kedua ibu bapaknya di hari kiamat kelak, sedang ia tidak akan mencium bau surga.
Bahwa kedua ibu-bapak mempunyai hak paling besar sesudah hak Allah dan Rasul-Nya. Termasuk berbakti kepada baik kepada ibu tiri atau bapak tiri, karena mereka sudah di ikat dengan tali pernikahan. Mereka sudah menjadi keluarga, terutama dalam kemuamalatannya. Oleh karena itu, hendaklah kita berbakti dan berbuat baik kepada keduanya, mentaati mereka dan merendahkan diri kepada keduanya, mengutamakan keduanya dalam segala kebajikan, hubungan dan kebaikan melebihi diri kita sebagai anak dan anak istri kita sendiri dengan sepenuh budi dan tanpa rasa berat hati. Bahkan hendaknya menganggap segala hajat dan keperluan keduanya serta segala kesukaan mereka sebagai kebaktian dan khidmat wajib yang harus kita berikan kepada keduanya. Sebab kesemuanya itu adalah sebesar-besar nikmat Allah Swt. dan taufik-Nya yang pernah dikaruniakan kepada kita.
Perlu diketahui, bahwa berbakti kepada ibu adalah lebih berlipat pahalanya dari kebaktian terhadap ayah. Begitulah maksud dari sebuah riwayat hadits. Mungkin, hal ini disebabkan karena sang ibu telah mengalami kesusahan dan kepayahan mengandung yang diikuti dengan sakitnya melahirkan anak, menyusui dan mengasuhnya hingga menjadi besar, dan seterusnya senantiasa memberikan sepenuh perhatian, kemesraan, belas kasih dan kasih sayang.
Rasulullah Saw. telah bersabda, “Surga berada di bawah telapak kaki para ibu.” (HR. Ahmad). Dalam hadis lain disebutkan, salah seorang sahabat Nabi Saw. pernah bertanya kepada Beliau, “Wahai Rasulullah, “Siapakah orang yang lebih berhak mendapat kebaktian dan kasih sayangku?” Jawab Nabi Saw, “Ibumu”. Katanya lagi, “Kemudian siapa lagi?” Jawab Nabi Saw., “Ibumu”. Ia bertanya lagi, “Kemudian siapa lagi?” Jawab Nabi Saw., “Ibumu?”. Bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Jawab Nabi Saw., “Ayahmu”. Wallahu A’lam bish-Shawabi.
Drs.H.Karsidi Diningrat, M.Ag
* Dosen Fakultas Dakwah dan Komunkasi UIN SGD Bandung
* Wakil Ketua Majels Pendidian PB Al Washliyah







Komentar