POSKOTA.CO – Pengamat kebijakan publik, Agus Pambagio, menilai kebijakan Gubernur DKI Jakarta mengurangi armada Transjakarta jadi cuma 13 rute saja dan beroperasi dari pukul 06.00 WIB hingga 18.00 WIB tidak efektif, bahkan malah menyiksa penumpang dan menghilangkan rasa nyaman pengguna transportasi massal itu.
Menurutnya, dengan panjangnya antrean manusia atau calon penumpang angkutan umum, justru mendekatkan virus Corona dengan orang di sekitar antrean itu.
”Karena kerumunannya jadi banyak (antrean) nah itu yang tidak dipikirkan. Ini kebijakan baik tapi implemtasinya jongkok,” sindir Agus.
Agus yakin dalam hal pembicaraan dengan Transjak dan MRT, Gubernur hanya bilang harus kurangi, tapi tanpa membahas impact atau dampaknya. Jadi dalam implementasinya jadi kacau.
Kebijakan Gubernur DKI harus dibatalkan atau dihitung ulang. “Niatnya supaya kereta itu tidak terlalu padat, Transjakarta tidak terlalu padat, tidak bisa main asal begitu, harus rute by rute,” terangnya.
Selain itu, Gubernur harus bicara dengan sektor swasta industri dan publik yang punya pegawai. Kalau mau diterapkan pembatasan begitu, pegawainya harus datang lebih siang dan pulang lebih sore. Pengurangan jam itu harus dibicarakan dengan baik.
“Anies harus bicara kantor itu buka jam sekian, tutup jam sekian, kalau terlambat tidak ada pengurangan, denda atau apa pun harus begitu. Nah itu dia tidak bicara dengan industri atau swasta. Tidak bisa di tv atau radio saja,” katanya.
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengambil kebijakan mengurangi armada Transjakarta jadi cuma 13 rute saja dan beroperasi dari pukul 06.00 WIB hingga 18.00 WIB hingga 30 Maret 2020 mendatang demi menghindari penyebaran virus Corona (Covid-19) yang sudah ditetapkan WHO sebagai pandemi.
Pengguna Transjakarta banyak yang terpaksa menunggu lebih lama di halte, bahkan antreannya sampai mengular hingga jalan raya.
Tidak sedikit masyarakat yang memberikan kritik terhadap kebijakan pengurangan armada Transjakarta. Apalagi Anies Baswedan menyerukan warga Jakarta untuk melakukan social distance atau menjaga jarak sosial, kenyataan yang terlihat penumpang masih berdempetan ketika antre.
Akibat kebijakan yang tidak diperhitungan itu, perubahan transportasi massal Jakarta pada hari Senin menjadi kacau-balau. Di stasiun MRT, LRT dan halte busway, yang terjadi malah penumpukan penumpang yang berjubel bukannya mengurangi interaksi fisik ini tambah parah. (r)







Komentar