JAKARTA – Kongres Wanita Indonesia (Kowani) menggelar aksi moral bernuansa khidmat bertajuk “Renungan Malam untuk Perdamaian Dunia” di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat pada Senin (21/9/2026) malam. Mengusung tema “Perempuan Berdaya, Membangun Perdamaian untuk Dunia yang Lebih Baik”, acara ini diikuti sekitar 500 peserta yang terdiri dari federasi organisasi perempuan, tokoh lintas agama, generasi muda, komunitas penyandang disabilitas, hingga wartawan.
Melalui momen Hari Perdamaian Internasional (International Day of Peace), Kowani menyuarakan pesan tegas bahwa perdamaian bukan sekadar ketiadaan perang, melainkan hadirnya rasa aman, kesetaraan, serta perlindungan nyata bagi seluruh elemen masyarakat.
Dalam pernyataan pers dan doorstop di sela acara, Ketua Umum Kowani periode 2024-2029 Nannie Hadi Tjahjanto, S.H., menegaskan, peran besar perempuan sebagai ibu bangsa. Menurutnya, perdamaian dunia tidak dapat dilepaskan dari peran ketahanan keluarga.
“Perdamaian hadir ketika perempuan terbebas dari kekerasan, anak-anak tumbuh tanpa ketakutan, dan keluarga menjadi ruang yang aman. Perdamaian dunia dimulai dari kedamaian dalam diri, diwujudkan dalam keluarga, lalu mengalir ke masyarakat, bangsa, dan dunia,” tegas istri mantan Panglima TNI/Menko Polhukam Hadi Tjahjanto tersebut, dalam keterangan yang didapat POSKOTAONLINE.COM, Selasa (22/9/2026).
Nannie menambahkan, di tengah maraknya aksi kekerasan terhadap perempuan, isu intoleransi, hingga maraknya konten digital yang kurang mendidik, Kowani hadir sebagai wadah koordinasi untuk membina masyarakat serta menjaga ketahanan keluarga.
Aksi ini berlangsung inklusif, nonpartisan, serta khidmat di sebelah kanan Wisma Nusantara/Pos Polisi Bundaran HI. Seluruh perwakilan agama dan kepercayaan (Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan Khonghucu) menyampaikan doa dan renungan sesuai tata ibadah masing-masing tanpa mencampuradukkan ritual ajaran. Sebagai simbol solidaritas global, para peserta menyalakan lilin elektrik (LED) tanpa api terbuka sebagai refleksi ‘Cahaya Perdamaian untuk Negeri dan Dunia’.
Dalam kesempatan tersebut, Kowani menyampaikan lima komitmen penting, yakni:
- Membangun perdamaian dari diri sendiri dan keluarga.
- Menjaga persatuan dalam keberagaman berlandaskan Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI.
- Menolak segala bentuk kekerasan, intoleransi, perundungan, ujaran kebencian, dan disinformasi.
- Melindungi kelompok rentan: perempuan, anak, lansia, dan penyandang disabilitas.
- Mengubah doa menjadi kepedulian serta tindakan nyata bagi kemanusiaan.
Selain aksi moral di Bundaran HI, Kowani yang kini menaungi 119 organisasi wanita tingkat nasional juga mengumumkan langkah bersejarah menuju perayaan satu abad Kowani (1928-2028).
Melalui jajaran pengurus Dewan Pimpinan –termasuk Sekretaris Jenderal Dr. Ratu Dian Hatifah, S.Ag., M.Pd., Ketua Bidang Organisasi, Keanggotaan, dan Kaderisasi (OKK) Ny. Ati Sadjad, serta Ketua Bidang Politik dan Hukum Ny. Melani– Kowani tengah memproses pendaftaran seluruh arsip sejarah perjuangan perempuan Indonesia.
Kowani bekerja sama dengan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) untuk mendaftarkan rekam jejak Kowani sejak Kongres Perempuan Pertama di Yogyakarta pada 22 Desember 1928 sebagai Memori Kolektif Bangsa (MKB). Dokumen ini nantinya diusulkan secara resmi ke UNESCO.
“Menurut ICW (International Council of Women), Kowani merupakan federasi organisasi perempuan terbesar di dunia. Jejak perjuangan sejarah perempuan Indonesia sejak 1928 harus kita rawat agar terus diingat oleh generasi penerus dan diakui secara internasional,” ungkap pengurus Kowani.
Melalui seruan moral dari jantung Ibu Kota, Kowani mengajak seluruh elemen bangsa untuk menghentikan peperangan, kebencian, serta diskriminasi, sekaligus memperkuat ikatan persaudaraan demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. (*/aga)







Komentar