JAKARTA — WeTV bersama Rapi Films menghadirkan serial original terbaru berjudul Tante Sonya, sebuah adaptasi modern dari film yang pernah populer pada era 1990-an berjudul “Catatan Harian Tante Sonya” yang akan mulai tayang pada 4 September 2026. Berbeda dari versi film sebelumnya, kisah tersebut kini dikembangkan menjadi serial dengan total 10 episode dan menghadirkan cerita yang lebih relevan dengan kehidupan serta pandangan generasi masa kini.
Serial ini disutradarai oleh Surya Ardy Octaviand, sementara proses produksinya melibatkan Rapi Films dan tim WeTV. Dalam pengembangannya, tim kreatif berupaya mempertahankan benang merah cerita asli sekaligus memberikan pendekatan baru yang lebih modern dan dekat dengan realitas sosial saat ini.
Produser Rapi Films Sunil Samtani mengatakan, salah satu tantangan terbesar dalam mengembangkan cerita lama menjadi serial adalah bagaimana memperluas cerita yang sebelumnya hanya berdurasi sekitar 90 menit menjadi 10 episode.
“Gimana caranya kita bukan remake, tapi lebih reboot, lebih up to date, lebih generasi sekarang,” ujar Sunil dalam sesi jumpa pers, Senin (24/8/2026).
Menurut Sunil, tim produksi bersama jajaran penulis kemudian mengembangkan cerita dengan bantuan tim penulis WeTV dan penulis Upi Avianto. Cerita baru tersebut tetap mengambil gagasan utama dari versi sebelumnya, terutama mengenai hubungan dengan perbedaan usia, tetapi dikemas dengan konflik dan konteks yang lebih sesuai dengan kondisi masyarakat saat ini.
Tidak Sekadar Kisah Cinta Beda Usia
Sutradara Ardi menjelaskan bahwa Tante Sonya tidak ingin sekadar menjadikan relasi antara perempuan yang lebih tua dan laki-laki yang lebih muda sebagai daya tarik utama. Menurutnya, kisah cinta beda usia justru menjadi pintu masuk untuk menyampaikan pesan yang lebih besar mengenai kebebasan perempuan dalam menentukan pilihan hidup.
Ia ingin menyoroti bahwa perempuan tidak seharusnya mendapatkan stigma hanya karena belum menikah atau memilih jalan hidup yang berbeda dari ekspektasi masyarakat.
“Perempuan itu bisa bebas memilih. Pada akhirnya itu yang kita mau kasih tahu,” kata Ardi.
Ia menegaskan bahwa tujuan hidup perempuan tidak harus selalu berujung pada pernikahan. Seorang perempuan memiliki kebebasan untuk memilih karier, menikah, tidak menikah, maupun menentukan pasangan hidupnya tanpa harus dibatasi stigma sosial.
Menurut Ardi, istilah seperti “perawan tua” atau anggapan bahwa perempuan yang belum menikah berarti “tidak laku” sudah tidak seharusnya digunakan untuk menilai seseorang.
“Kita tidak bisa lagi memberi stigma bahwa perempuan yang belum menikah itu nggak laku atau perempuan yang tidak menikah itu nggak bagus,” ujarnya.
Ardi juga menilai perubahan budaya dan pola pikir masyarakat membuat cerita Tante Sonyaa perlu disesuaikan dengan kondisi masa kini. Jika film terdahulu lebih menitikberatkan pada relasi antara perempuan yang lebih tua dengan bawahannya, versi serial ini mencoba membawa pembahasan tersebut ke wilayah yang lebih luas, yakni tentang hak perempuan untuk menentukan kebahagiaannya sendiri.
WeTV: Cinta Tidak Mengenal Batas Usia
Febriamy Hutapea, Executive Producer & Country Head WeTV Indonesia mengatakan bahwa keputusan mengangkat kembali cerita Tante Sonya tidak semata-mata karena kisah cinta beda usia. Menurutnya, perbedaan usia dalam hubungan hanya menjadi pintu masuk menuju cerita tentang keberanian seorang perempuan untuk kembali menentukan kebahagiaannya.
“Saat cinta itu datang, cinta nggak pernah nanya berapa nomor atau usia di KTP Anda,” kata Febriamy.
Ia menambahkan bahwa sudah waktunya masyarakat berhenti memberikan batasan kepada perempuan berdasarkan usia. Menurutnya, setiap perempuan memiliki hak untuk mencintai, dicintai, dan memulai kembali kehidupannya pada usia berapa pun.
Dalam serial tersebut, WeTV ingin menghadirkan perspektif yang lebih berani mengenai perempuan dan pilihan hidupnya. Platform tersebut juga berharap Tante Sonya dapat diterima tidak hanya oleh penonton Indonesia, tetapi juga oleh penonton internasional.
“Kami sebagai platform WeTV ingin terus mengeksplorasi berbagai cerita, berbagai karakter dengan sudut pandang yang lebih berani,” ujar Febriamy.
Ia juga mengapresiasi kolaborasi dengan Rapi Films, sutradara, para pemain, serta seluruh kru yang terlibat dalam produksi serial tersebut.
Dikemas Lebih Modern dan Grounded
Sebagai produser, Chris Tantani mengungkapkan bahwa tim produksi tidak ingin membuat Tante Sonya sekadar menjadi pengulangan dari film terdahulu. Konsep age gap tetap menjadi salah satu elemen utama yang diambil dari cerita original. Namun, pengembangannya dilakukan dengan pendekatan yang lebih modern dan grounded agar terasa dekat dengan kehidupan masyarakat saat ini. “Kita ingin bikin cerita yang sangat modern dan grounded dalam zaman ini, yang sangat relatable,” ujar Chris.
Ia menjelaskan bahwa cerita serial ini memang mengalami sejumlah pengembangan dan perbedaan dibandingkan film aslinya. Meski demikian, tim tetap mempertahankan simbolisme serta benang merah dari karya sebelumnya.
Dengan format 10 episode, penonton akan mendapatkan ruang yang lebih luas untuk mengenal karakter, konflik, serta dinamika hubungan yang ada di dalam cerita.
Serial Tante Sonya mencoba menempatkan kisah cinta beda usia sebagai bagian dari persoalan yang lebih besar. Serial ini ingin membicarakan bagaimana perempuan menghadapi ekspektasi sosial, menentukan pilihan hidup, serta mencari kebahagiaannya sendiri tanpa harus mengikuti standar yang ditetapkan masyarakat.
Pesan tersebut menjadi pembeda utama antara versi terbaru dengan cerita sebelumnya. Jika kisah original dikenal dengan relasi perempuan yang lebih tua dan laki-laki yang lebih muda, versi serial mencoba melihat hubungan tersebut melalui perspektif masyarakat modern.
Fokus ceritanya terletak pada karakter Sonya (Raihaanun), seorang perempuan pekerja berusia 42 tahun yang merasa insecure soal cinta karena faktor usia, hingga akhirnya bertemu dengan Ben, yang mengubah perspektif hidupnya.
Saat ditanya mengenai pendalaman karakter Ben, aktor 33 tahun ini tidak menampik bahwa dia merasa ada keterikatan pribadi dengan peran tersebut. “Untuk masuk ke karakter Ben, mungkin… pengalaman diri sendiri,” ujar Maxime Bouttier
WeTV berharap serial ini dapat menjadi tontonan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga membuka ruang diskusi mengenai stigma terhadap perempuan, perbedaan usia dalam hubungan, serta kebebasan seseorang dalam menentukan jalan hidupnya.
Serial WeTV Original Tante Sonya menjadi salah satu kolaborasi WeTV dan Rapi Films yang membawa cerita dari era sebelumnya ke dalam format dan perspektif generasi masa kini.
Melalui cerita tersebut, tim kreatif ingin menyampaikan pesan bahwa kebahagiaan dan pilihan hidup seorang perempuan tidak seharusnya ditentukan oleh usia maupun status pernikahan.
“Perempuan zaman sekarang bisa memilih apa saja. Bisa berkarier, kalau dia tidak mau menikah juga tidak apa-apa. Kalau dia mau menikah juga nggak apa-apa,” ujar Ardi.
Sinopsis Serial Tante Sonya
Serial Tante Sonya dibintangi oleh sejumlah artis papan atas diantaranya Raihaanun (Sonya) dan Maxime Bouttier (Benno), Hamish Daud, Dinda Kirana, Mike Ethan, Adinda Chresheilla, Rezca Syam, Sarah Felicia dan Baby Kristami. Melalui pendekatan yang lebih berani dan eksploratif, drama romansa ini menyoroti dinamika cinta dengan perbedaan usia antara Sonya dan Benno yang dipadukan dengan intrik dunia kerja serta konflik norma sosial di tengah ambisi kekuasaan keluarga Dermawan Group.
Serial Tante mengisahkan Sonya (Raihaanun), wanita karier sukses usia 42 tahun di Dermawan Group. Ia bertemu kembali dengan Ben (Maxime Bouttier), pria yang 14 tahun lebih muda dan pernah ia tolong masa lalunya, kini menjadi bawahannya. Sonya harus memilih antara cinta lama yang direstui keluarga atau cinta baru bersama Ben.
Ben sendiri merupakan pria yang pernah ditolong oleh Sonya, 8 tahun silam dari upaya bunuh diri. Pertemuan keduanya terjadi ketika Ben bekerja di kantor tempat Sonya bekerja.
Ben jatuh hati kepada Sonya, sementara Sonya merasa ragu dan insecure karena perbedaan usia mereka. Sonya bimbang antara pria dari masa lalunya Martin yang didukung keluarga atau Ben yang menawarkan harapan baru. (in)








Komentar