KUNINGAN – Warga Cikaduwetan, Luragung, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, mempertanyakan penggunaan tenaga kerja yang diberdayakan dalam kegiatan proyek revitalisasi SDN 3 Cikaduwetan tahun anggaran 2026 yang saat ini sedang berjalan.
Salah seorang warga Cikaduwetan, Sopyan, Sabtu (22/8/2026), mempertanyakan tenaga kerja yang melaksanakan pekerjaan proyek pada SD dimaksud. “Saya menyerap informasi, jika tenaga kerja dalam proyek revitalisasi SDN 3 Cikaduwetan malah didominasi oleh warga luar,”sindirnya.
Padahal lanjut Sopyan, terkait pekerjaan petukangan kayu dan batu seperti itu, tenaga kerja di desanya (Cikaduwetan-red) juga tentu ada yang bisa mengerjakan, tidak perlu didominasi pekerja asal luar desa. “Mengapa warga lingkungan sekitar sekolah hanya menjadi tenaga kerja tambahan ?”tanya pria yang biasa disapa Tongky ini.
Terpisah, Kepala SDN 3 Cikaduwetan, Waskat, S.Pd., saat dikonfirmasi melalui sambungan WhatsApp (WA), mengakui jika tenaga kerja yang sekarang melaksanakan proyek sebagian besar berasal dari daerah Cibingbin. “Para pekerja asal Cibingbin ini merupakan ahli dibidang bangunan sehingga kami pakai tenaganya,”terang Waskat.
Sementara untuk tenaga kerja warga setempat, lanjut kepala sekolah ini, sudah dikoordinasikan kepada mandor pelaksana di lapangan. “Kalau tidak salah sekarang juga sudah ada dua orang pekerja dari warga lingkungan sekitar sekolah,”ujarnya.
Sementara itu, Ketua P2SP SDN 3 Cikaduwetan, Arif Hidayat Yaksa Media, S.Kep., mengatakan, terkait tenaga kerja, secara langsung tidak diketahuinya. Tapi dia mengungkapkan, sebelum pekerjaan dimulai memang kepala sekolah sudah berkoordinasi dengan pihaknya (P2SP-red).
“Namun sekarang saya tidak tahu persis soal penggunaan tenaga kerja dari mana, sebab belum pernah monitor langsung ke lokasi kegiatan,”jelas pria yang notabene merupakan Sekdes Cikaduwetan ini.
Kepala Desa Cikaduwetan, Riki Yakub, S.Pd., saat dimintai pendapatnya tentang persoalan itu, berharap ada prioritas yang dikedepankan pihak sekolah untuk memberdayakan tenaga kerja warga setempat.
“Kami ingin warga terutama di lingkungan sekolah diberikan porsi pekerjaan yang ideal juga sebab program revitalisasi ini menggunakan sistem swakelola, tentu keterlibatan masyarakat setempat menjadi cerminan jika proyek ini benar-benar berbasis lingkungan seperti yang ditekankan pemerintah,”tegas Riki. (Cep)








Komentar