POSKOTA. CO – Langit tak pernah mengaku dia paling di atas. Gunung yang di depan mata juga tak pernah berkata bahwa ia tinggi. Lalu, mengapa ada yang mengaku terbaik namun lupa menjadi baik?.
Melihat segala sesuatu, harus dari berbagai aspek. Maka itu, guna memperkaya literasi, ada sejumlah tempat membaca di Bogor yang bisa didatangi.
Seperti TABA (TAman BAcaan) dengan 160 anak pembaca aktif dari 3 desa (Sukaluyu, Tamansari, Sukajaya. Anak-anak ini 3 kali seminggu mendatangi lokasi ini dengan membaca 5 hingga 8 buku setiap minggunya.
Ada juga GEBERBURA (GErakan BERantas BUta aksaRA) yang diikuti 9 warga belajar buta huruf agar terbebas dari belenggu buta aksara. Lalu KEPRA (Kelas PRAsekolah) dengan 26 anak usia pra-sekolah. Ada YABI (YAtim BInaan) dengan 14 anak yatim yang disantuni dan 4 diantaranya mendapat beasiswai.
Kemudian JOMBI (JOMpo BInaan) dengan 8 jompo usia lanjut. Ada TBM Ramah Difabel dengan 3 anak difabel.
Ada KOPERASI LENTERA dengan 31 ibu-ibu anggota koperasi simpan pinjam agar terhindar dari jeratan rentenir dan utang berbunga tinggi.
Kemudian DonBuk (Donasi Buku). Lalu RABU (RAjin menaBUng), 10) LITDIG (LITerasi DIGital) untuk mengenalkan cara internet sehat dan LITFIN (LITerasi FINansial) serta LIDAB (LIterasi ADAb) untuk mengajarkan adab ke anak-anak seperti memberi salam, mencium tangan, berkata-kata santun, dan budaya antre.
Data menunjukan, tidak kurang dari 250 orang menjadi penerima layanan literasi TBM Lentera Pustaka setiap minggunya.
Dengan demikian, maka sulit untuk dibantah, jika membaca buku di taman bacaan memang sangat bagus, sangat penting di era digital.
Namun demikian bukan berarti pula kegiatan membaca lebih baik dari main game atau main youtube. Bukan berarti taman bacaan lebih hebat dari warung kopi. Ini bukan soal buku lebih mulia, lalu game lebih buruk. Tapi hanya soal “menyeimbangkan” aktivitas anak-anak, antara buku dan game.
Tinggal tanggung jawab kita orangtua untuk mengajarkan cara membagi waktu dan mengarahkan anak-anak ke aktivitas yang positif.
Dengan rajin membaca buku, maka anak-anak di era digital, dilatih untuk melihat segala sesuatu lebih dari satu sudut pandang.
Kenapa?, agar anak-anak tidak perlu merasa lebih baik daripada teman-teman yang tidak membaca buku, atau anak-anak yang kerjanya main atau nongkrong.

Kembali ke gunung. Pemandangan gunung jadi begitu biasa. Pagi, siang, sore dan malam dia tetap gunung.
Bahkan di malam hari, sangat terasa hawa gunung. Kata orang, gunung itu menenangkan. Gunung memang hanya diam, sekalipun ratusan kali didaki. Bahkan dinodai pendakinya sekalipun.
Diamnya gunung, tentu bukan karena salah. Tapi semata-mata karena gunung itu benda mati. Gunung tidak bergerak, agar tidak melukai atau mencederai orang-orang yang ada di lerengnya.
Jika sesekali dia meletus dan bergerak hingga menimbulkan korban, itu bukan kesalahannya tapi semata-mata ada faktor lain yang mempengaruhi.
Maka hakekat mendaki gunung, sejatinya bukan untuk menaklukkan gunung, tapi justru si pendaki sedang berjuang untuk menaklukkan dirinya sendiri, akibat sifat ego, kesombongan dan keangkuhan yang selalu merasa lebih tinggi dari orang lain.
Pendaki gunung, justru sedang ikhtiar untuk melihat dunia dari sudut pandang lain dan bukan sebaliknya, agar dunia bisa melihat kehebatan si pendaki.
Maka seperti pendaki, anak-anak perlu membaca buku. Kenapa?, karena dengan membaca, anak dapat memperkaya sudut pandang, memperluas cakrawala dalam melihat hidup dan dunia dari berbagai sudut, sebelum menyimpulkan sesuatu.
Hal ini perlu, karena pada setiap objek, selalu ada sudut pandang yang berbeda, termasuk dengan diri kita sendiri.
Bila anak-anak di kaki Gunung Salak membaca buku dengan pemandangan gunung yang indah, atau kerap bermain di kebun atau ke sungai untuk berenang dengan riang, sementara anak-anak kota lebih suka main games, main laptop atau ke mal, lalu dikatakan tidak adil!!!.
Jawabannya tentu tidak!!!. Ini semua hanya soal kemudahan akses semata. Karena membaca buku pun hanya soal akses, bukan hanya soal minat baca.
Jadi, anak-anak kampung yang membaca buku tidak berarti lebih baik dari anak-anak kota yang doyan main games, atau sebaliknya.
“Membaca buku di taman bacaan, bagi saya, adalah proses untuk membentuk pola pikir anak dari hal-hal yang sederhana, agar tidak cepat menyimpulkan sesuatu. Membaca itu mau menerima sudut pandang orang lain,” demikian kata Izhary Agus Munzir, mantan pengurus dewan pers saat obrolan santai di sebuah kedai kopi di bilangan Sentul, Bogor Minggu (21/11/2021).
Bagi Izhary yang kini berprofesi sebagai seorang penulis buku ini, dengan membaca dan memperkaya literasi, maka kita mau menerima sudut pandang orang lain termasuk terus berproses dan berkembang.
Patut kita syukuri, gunung adalah salah satu karya terindah Tuhan. Mari kita belajar dari gunung. Gunung memang tinggi, tapi ia tidak pernah berkata dan mengklaim bahwa ia tinggi. Sebagai makhluk Tuhan, mari kita belajar dari gunung yang tidak mengaku yang “TERBAIK” tanpa mau berbuat “BAIK”.
Gunung selalu lebih jauh, lebih tinggi dan lebih sulit dari kelihatannya. Mari belajarlah bersikap menunduk. Seperti gunung, selalu mau menunduk kepada siapapun, saat mendakinya. Bahkan ia tetap tegak ketika pendaki menuruninya.
Bagi siapapun saat mendaki gunung, ia harus tahu kapan harus pergi, kapan harus tinggal dan kapan harus mundur. Hal ini perlu, agar tetap fokus pada tujuan besarnya yakni untuk menggapai “PUNCAK” dengan semangat dan jiwa satria.
Dan yang paling penting, mampu menjadi manusia literat. Manusia yang tidak mudah menghakimi orang lain, akan tetapi mau memahami sudut pandang orang lain. (yopi/sir)







Komentar