oleh

Media Gathering M4CR di Kaltara, Kemenhut dan M4CR Komitmen Rehab Mangrove dan Ekonomi Nelayan

TARAKAN – Kalimantan Utara resmi menjadi salah satu fokus utama dalam program rehabilitasi ekosistem pesisir nasional melalui proyek Mangrove for Coastal Resilience (M4CR). Hampir 50 persen dari total target M4CR nasional dipusatkan di Bumi Taka ini sebagai proyek rehabilitasi mangrove dan biota air.

Hal tersebut disampaikan oleh Executive Director M4CR Project sekaligus Sekretaris Ditjen Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan (PDASRH) Kementerian Kehutanan Muhammad Zainal Arifin. Hal itu disampaikan dalam kegiatan Media Gathering M4CR 2026 di Kaltara yang berlangsung di Kota Tarakan, Rabu (4/11).

Zainal menegaskan, proyek M4CR tidak hanya berfokus pada perbaikan ekologi atau penanaman fisik mangrove semata, tetapi juga mendongkrak perekonomian masyarakat pesisir melalui pemberdayaan pohon mangrove maupun perikanan di lahan hutan mangrove seperti budidaya kepiting, udang, dan aneka ikan.

“Kegiatan M4CR tidak hanya semata-mata untuk melakukan rehabilitasi mangrove, tetapi juga akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Jadi, concern kita di ekologi dan juga sosial ekonomi,” ujar Zainal.​

Untuk memicu peran aktif masyarakat, proyek ini meluncurkan skema Matching Grant berupa hibah bantuan usaha produktif. Bantuan senilai Rp 534 juta ini diberikan kepada lima kelompok masyarakat yang proposal usahanya telah lolos verifikasi dan penilaian dari komite investasi.​

Pihak Kemenhut RI melalui M4CR memastikan tidak akan melepas kelompok penerima hibah begitu saja. Evaluasi dan pemantauan berkala terus dilakukan untuk memastikan program berjalan secara berkelanjutan.​

“Pastinya tetap kita monitor. Jadi, yang sudah kita berikan hibah itu, apakah dia berkembang, apakah dia statis, atau bahkan mungkin bisa jadi non-aktif,” tutup Zainal.

Kegiatan Media Gathering M4CR 2026 di Kaltara diikuti 18 warga Ibu Kota dan 20 wartawan lokal. Kegiatan yang diisi berbagai rangkaian acara seperti diskusi, testimoni kelompok tani/masyarakat, dan lainnya berlangsung dari 2 sampai 4 Oktober. Pada hari terakhir, kegiatan ditutup dengan kunjungan ke Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB) di Desa Karang Rejo, Tarakan Barat. Di kawasan ini terdapat area hutan mangrove seluas 22 hektare yang dihuni 40 ekor bekantan, monyet endemik berhidung panjang khas Kalimantan. (jo)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *